Kamis, 19 Maret 2015

ZUHUD DUNIA


ZUHUD DUNIA

A.Firman Allah :
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS. Al-Hadiid : 20]

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. [QS. Yunus : 24]

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka. [QS. Al-Kahfi : 46-47]

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). [QS. Ali Imran : 14]
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menthaati) Allah. [QS. Luqman : 33]

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. [QS. Al-Ankabut : 64]



B. Hadits Rasulullah SAW
Dari Khabbab bin Al-Aratt RA ia berkata, “Kami berhijrah bersama Rasulullah SAW untuk mencari ridla Allah sehingga kami mendapatkan pahala dari Allah. Lalu diantara kami ada yang meninggal sebelum merasakan hasilnya sedikitpun. Diantara mereka itu ialah Mush’ab bin ‘Umair, dia terbunuh pada perang Uhud, dan kami tidak mendapatkan kain (yang cukup) untuk mengkafaninya, kecuali selembar kain burdah, yang apabila kami menaikkannya untuk menutup kepalanya, maka kedua kakinya tampak. Dan apabila kami menariknya untuk menutup kedua kakinya, maka kepalanya tampak. Lalu Rasulullah SAW menyuruh kami supaya menutupkan kain itu pada kepalanya dan menyuruh kami menutupi kedua kakinya dengan rumput idzkhir. Dan diantara kami ada orang yang menyaksikan hasil perjuangannya itu, lalu dia memetiknya”. [HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi].
Dari Abdullah bin Mas’ud RA ia berkata : Pernah Rasulullah SAW ketika melihat adanya wajah lapar pada para shahabat, beliau bersabda, “Bergembiralah kalian, karena akan datang kepada kalian suatu zaman, di waktu pagi seseorang dari kalian sudah dihidangkan sepiring tsarid (roti yang disajikan dengan kuah), dan di waktu sorepun dihidangkan demikian pula”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah pada hari itu kami lebih baik ?”. Nabi SAW bersabda, “Bahkan (keadaan) kamu sekalian sekarang ini lebih baik dari pada (keadaan) pada hari itu”. [HR. Al-Bazzar dengan sanad Jayyid]
Dari Jabir bin Abdullah RA ia berkata : Rasulullah pernah mengutus kami untuk mencegat rombongan dagang Quraisy (yang datang dari Syam) dan menjadikan Abu Ubaidah sebagai pimpinan kami. Beliau membekali kami dengan sekantong kurma dan kami tidak mendapatkan bekal lainnya. Maka Abu Ubaidah (sebagai pimpinan) memberikan kepada kami satu korma satu korma. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kalian perbuat dengannya ?”. Mereka menjawab, “Kami menghisapnya seperti anak kecil menghisapnya”. Lalu kami minum air, maka cukup untuk kekuatan kami sehari semalam. Dan kami memukul daun-daun pohon dengan tongkat-tongkat kami lalu kami membasahi dan memakannya”. [HR. Muslim]
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya pernah beberapa orang mengalami kelaparan, mereka jumlahnya tujuh orang. Abu Hurairah berkata, “Lalu Nabi SAW memberikan tujuh buah kurma, untuk tiap-tiap orang sebuah korma”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih]
Dari Muhammad bin Sirin RA ia berkata, “Sesungguhnya pernah terjadi pada seorang shahabat Nabi SAW tiga hari dia tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakannya. Lalu dia mengambil kulit, membakarnya, lalu memakannya. Maka apabila dia tidak mendapatkan sesuatu, dia mengambil batu untuk mengganjal perutnya, sehingga menguatkan tulang belakangnya”. [HR. Ibnu Abid-Dunya dengan sanad Jayyid]
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Demi Tuhan yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sungguh saya pernah tidak kuat berjalan karena lapar. Dan aku mengganjal perutku dengan batu. Pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa orang-orang lewat di jalan itu. Kemudian Abu Bakar melewatiku, lalu aku bertanya kepadanya tentang suatu ayat dalam kitab Allah (Al-Qur’an) yang aku tidak menanyakannya kecuali agar dia mengajakku (untuk makan), tetapi dia terus berlalu dan tidak berbuat (seperti harapanku). Kemudian Umar lewat, lalu aku bertanya kepadanya tentang suatu ayat dari kitab Allah (Al-Qur’an) yang aku tidak menanyakannya kecuali agar dia mengajakku (untuk makan), tetapi dia pun tidak melakukannya. Kemudian Abul Qasim (Nabi) SAW lewat dan tersenyum ketika beliau melihatku, beliau mengerti dengan apa yang di wajahku dan apa yang ada pada diriku. Kemudian beliau bersabda, “Hai Abu Hurairah”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Ikutlah aku”. Lalu beliau berlalu dan akupun mengikutinya. Kemudian beliau minta idzin (untuk masuk rumah), setelah dipersilahkan, lalu beliau masuk rumah. Kemudian beliau mendapatkan susu di sebuah mangkok besar, lalu beliau bertanya (kepada istrinya), “Dari mana susu ini ?”. Mereka menjawab, “Si fulan atau fulanah memberikan hadiah untukmu”. Beliau bersabda, “Hai Abu Hirrin”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Panggillah ahlush-shuffah, ajaklah mereka kepadaku”. Abu Hurairah menerangkan bahwa Ahlush-shufah itu adalah tamu-tamu Islam, mereka tidak pulang kepada keluarga dan kerabatnya dan tidak punya harta benda. Apabila ada pemberian berupa shadaqah kepada Nabi, beliau mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambilnya sedikitpun. Apabila datang pemberian berupa hadiah kepada Nabi, beliau mengirim kepada mereka, tetapi Nabi juga ikut mengambilnya, dan orang-orang Ahlush-shuffah pun diikutkan untuk menikmatinya. Maka yang demikian itu menyusahkanku. Lalu aku bertanya, “Apakah susu ini untuk ahlush-shuffah ? Aku lebih berhak untuk mendapatkan susu ini sebagai minuman agar aku kuat kembali”. Kemudian ketika mereka (Ahlush-shuffah) datang, beliau menyuruhku agar susu itu aku berikan kepada mereka. Mudah-mudahan susu ini cukup dan akupun mendapatkannya. Sedangkan thaat kepada Allah dan thaat kepada Rasulullah itu suatu keharusan. Maka aku datang dan mengundang mereka, sehingga mereka datang dan minta izin (untuk masuk), lalu dipersilakan. Lalu mereka mengambil tempat di rumah itu. Nabi bersabda, “Hai Abu Hirrin”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Ambillah lalu berikan kepada mereka itu !”. Maka akupun mengambil mangkok besar berisi susu itu lalu kuberikan kepada seorang laki-laki. Kemudian dia minum sampai kenyang. Lalu mengembalikan mangkok berisi susu tersebut kepadaku. (Setelah yang datang itu minum semua) sampailah tugasku memberikannya kepada Nabi SAW. Dan orang-orang semua sudah kenyang dari minum susu tersebut. Lalu Nabi mengambil mangkok berisi susu tersebut dan meletakkan di atas tangan beliau dan tersenyum. Lalu beliau bersabda, “Hai Abu Hurairah”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sekarang tinggal bagianku dan bagianmu”. Aku menjawab, “Betul engkau, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Duduklah, lalu minumlah !”. Lalu aku minum. Beliau bersabda, “Minumlah !”. Maka aku minum lagi. Beliau terus menerus bersabda, “Minumlah !” Sehingga aku berkata, “Tidak, demi Tuhan yang mengutusmu dengan benar, sudah tidak ada tempat ya Rasulullah, perutku sudah kenyang”. Beliau bersabda, “Berikanlah kepadaku !”. Lalu akupun memberikan mangkok berisi susu tersebut kepada beliau. Lalu beliau memuji Allah ta’ala dan membaca basmalah dan minum susu yang masih tersisa tersebut. [HR. Bukhari dan lainnya, dan Al-Hakim ia berkata : shahih atas syarat Bukhari Muslim]. Zuhud dunia dan ridla dengan apa yang ada (6).
Dari Khabbab bin Al-Aratt RA ia berkata, “Kami berhijrah bersama Rasulullah SAW untuk mencari ridla Allah sehingga kami mendapatkan pahala dari Allah. Lalu diantara kami ada yang meninggal sebelum merasakan hasilnya sedikitpun. Diantara mereka itu ialah Mush’ab bin ‘Umair, dia terbunuh pada perang Uhud, dan kami tidak mendapatkan kain (yang cukup) untuk mengkafaninya, kecuali selembar kain burdah, yang apabila kami menaikkannya untuk menutup kepalanya, maka kedua kakinya tampak. Dan apabila kami menariknya untuk menutup kedua kakinya, maka kepalanya tampak. Lalu Rasulullah SAW menyuruh kami supaya menutupkan kain itu pada kepalanya dan menyuruh kami menutupi kedua kakinya dengan rumput idzkhir. Dan diantara kami ada orang yang menyaksikan hasil perjuangannya itu, lalu dia memetiknya”. [HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi].
Dari Abdullah bin Mas’ud RA ia berkata : Pernah Rasulullah SAW ketika melihat adanya wajah lapar pada para shahabat, beliau bersabda, “Bergembiralah kalian, karena akan datang kepada kalian suatu zaman, di waktu pagi seseorang dari kalian sudah dihidangkan sepiring tsarid (roti yang disajikan dengan kuah), dan di waktu sorepun dihidangkan demikian pula”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah pada hari itu kami lebih baik ?”. Nabi SAW bersabda, “Bahkan (keadaan) kamu sekalian sekarang ini lebih baik dari pada (keadaan) pada hari itu”. [HR. Al-Bazzar dengan sanad Jayyid]
Dari Jabir bin Abdullah RA ia berkata : Rasulullah pernah mengutus kami untuk mencegat rombongan dagang Quraisy (yang datang dari Syam) dan menjadikan Abu Ubaidah sebagai pimpinan kami. Beliau membekali kami dengan sekantong kurma dan kami tidak mendapatkan bekal lainnya. Maka Abu Ubaidah (sebagai pimpinan) memberikan kepada kami satu korma satu korma. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kalian perbuat dengannya ?”. Mereka menjawab, “Kami menghisapnya seperti anak kecil menghisapnya”. Lalu kami minum air, maka cukup untuk kekuatan kami sehari semalam. Dan kami memukul daun-daun pohon dengan tongkat-tongkat kami lalu kami membasahi dan memakannya”. [HR. Muslim]
Nabi SAW memberikan tujuh buah kurma, untuk tiap-tiap orang sebuah korma”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih]
Dari Muhammad bin Sirin RA ia berkata, “Sesungguhnya pernah terjadi pada seorang shahabat Nabi SAW tiga hari dia tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakannya. Lalu dia mengambil kulit, membakarnya, lalu memakannya. Maka apabila dia tidak mendapatkan sesuatu, dia mengambil batu untuk mengganjal perutnya, sehingga menguatkan tulang belakangnya”. [HR. Ibnu Abid-Dunya dengan sanad Jayyid]
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Demi Tuhan yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sungguh saya pernah tidak kuat berjalan karena lapar. Dan aku mengganjal perutku dengan batu. Pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa orang-orang lewat di jalan itu. Kemudian Abu Bakar melewatiku, lalu aku bertanya kepadanya tentang suatu ayat dalam kitab Allah (Al-Qur’an) yang aku tidak menanyakannya kecuali agar dia mengajakku (untuk makan), tetapi dia terus berlalu dan tidak berbuat (seperti harapanku). Kemudian Umar lewat, lalu aku bertanya kepadanya tentang suatu ayat dari kitab Allah (Al-Qur’an) yang aku tidak menanyakannya kecuali agar dia mengajakku (untuk makan), tetapi dia pun tidak melakukannya. Kemudian Abul Qasim (Nabi) SAW lewat dan tersenyum ketika beliau melihatku, beliau mengerti dengan apa yang di wajahku dan apa yang ada pada diriku. Kemudian beliau bersabda, “Hai Abu Hurairah”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Ikutlah aku”. Lalu beliau berlalu dan akupun mengikutinya. Kemudian beliau minta idzin (untuk masuk rumah), setelah dipersilahkan, lalu beliau masuk rumah. Kemudian beliau mendapatkan susu di sebuah mangkok besar, lalu beliau bertanya (kepada istrinya), “Dari mana susu ini ?”. Mereka menjawab, “Si fulan atau fulanah memberikan hadiah untukmu”. Beliau bersabda, “Hai Abu Hirrin”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Panggillah ahlush-shuffah, ajaklah mereka kepadaku”. Abu Hurairah menerangkan bahwa Ahlush-shufah itu adalah tamu-tamu Islam, mereka tidak pulang kepada keluarga dan kerabatnya dan tidak punya harta benda. Apabila ada pemberian berupa shadaqah kepada Nabi, beliau mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambilnya sedikitpun. Apabila datang pemberian berupa hadiah kepada Nabi, beliau mengirim kepada mereka, tetapi Nabi juga ikut mengambilnya, dan orang-orang Ahlush-shuffah pun diikutkan untuk menikmatinya. Maka yang demikian itu menyusahkanku. Lalu aku bertanya, “Apakah susu ini untuk ahlush-shuffah ? Aku lebih berhak untuk mendapatkan susu ini sebagai minuman agar aku kuat kembali”. Kemudian ketika mereka (Ahlush-shuffah) datang, beliau menyuruhku agar susu itu aku berikan kepada mereka. Mudah-mudahan susu ini cukup dan akupun mendapatkannya. Sedangkan thaat kepada Allah dan thaat kepada Rasulullah itu suatu keharusan. Maka aku datang dan mengundang mereka, sehingga mereka datang dan minta izin (untuk masuk), lalu dipersilakan. Lalu mereka mengambil tempat di rumah itu. Nabi bersabda, “Hai Abu Hirrin”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Ambillah lalu berikan kepada mereka itu !”. Maka akupun mengambil mangkok besar berisi susu itu lalu kuberikan kepada seorang laki-laki. Kemudian dia minum sampai kenyang. Lalu mengembalikan mangkok berisi susu tersebut kepadaku. (Setelah yang datang itu minum semua) sampailah tugasku memberikannya kepada Nabi SAW. Dan orang-orang semua sudah kenyang dari minum susu tersebut. Lalu Nabi mengambil mangkok berisi susu tersebut dan meletakkan di atas tangan beliau dan tersenyum. Lalu beliau bersabda, “Hai Abu Hurairah”. Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sekarang tinggal bagianku dan bagianmu”. Aku menjawab, “Betul engkau, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Duduklah, lalu minumlah !”. Lalu aku minum. Beliau bersabda, “Minumlah !”. Maka aku minum lagi. Beliau terus menerus bersabda, “Minumlah !” Sehingga aku berkata, “Tidak, demi Tuhan yang mengutusmu dengan benar, sudah tidak ada tempat ya Rasulullah, perutku sudah kenyang”. Beliau bersabda, “Berikanlah kepadaku !”. Lalu akupun memberikan mangkok berisi susu tersebut kepada beliau. Lalu beliau memuji Allah ta’ala dan membaca basmalah dan minum susu yang masih tersisa tersebut. [HR. Bukhari dan lainnya, dan Al-Hakim ia berkata : shahih atas syarat Bukhari Muslim].
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Sesungguhnya orang-orang sama mengatakan, “Abu Hurairah yang paling banyak (hafalan haditsnya)”. “Dan sesungguhnya aku dulu selalu bersama Rasulullah SAW, karena aku sudah merasa kenyang perutku walaupun aku tidak makan anggur, tidak memakai sutera dan tidak pula si fulan dan fulanah melayaniku. Dan aku mengganjal perutku dengan batu karena lapar. Dan dahulu aku pernah minta kepada seorang laki-laki supaya dibacakan suatu ayat yang ada padaku dengan harapan supaya orang itu kembali ke rumah dengan mengajakku dan memberi makan kepadaku. Dan sebaik-baik orang terhadap orang-orang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dulu dia mengajakku ke rumahnya lalu memberi makan kepadaku dengan apa yang ada di rumahnya, sehingga pernah dia mengeluarkan ‘ukkah (wadah untuk samin dan madu) yang sudah habis isinya, lalu kami mengambil yang masih tersisa padanya dan menjilatinya”. [HR. Bukhari).
Sedangkan Tirmidzi meriwayatkan dengan lafadhnya : Sesungguhnya dahulu aku pernah bertanya kepada seorang laki-laki dari shahabat Rasulullah SAW tentang ayat-ayat dari Al-Qur’an. Padahal aku lebih mengetahui tentang ayat itu dari pada orang tersebut. Aku tidak menanyakannya kecuali supaya dia memberi sesuatu makanan kepadaku. Dahulu apabila aku bertanya kepada Ja’far bin Abi Thalib dia tidak menjawabku sehingga mengajakku ke rumahnya, lalu berkata kepada isterinya, “Hai Asma’, siapkanlah makanan untuk kami !”. Maka ketika istrinya itu menyiapkan makanan untuk kami, lalu Ja’far menjawab pertanyaanku tadi. Dan Ja’far adalah seorang yang mencintai orang’orang miskin. Ja’far biasa duduk dengan mereka, dia bercakap-cakap dengan mereka dan merekapun bercakap-cakap dengannya. Dan Rasulullah SAW memberi gelar kepadanya dengan “Abul Masaakiin” (bapaknya orang-orang miskin)”. [HR. Tirmidzi]
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Sesungguhnya orang-orang sama mengatakan, “Abu Hurairah yang paling banyak (hafalan haditsnya)”. “Dan sesungguhnya aku dulu selalu bersama Rasulullah SAW, karena aku sudah merasa kenyang perutku walaupun aku tidak makan anggur, tidak memakai sutera dan tidak pula si fulan dan fulanah melayaniku. Dan aku mengganjal perutku dengan batu karena lapar. Dan dahulu aku pernah minta kepada seorang laki-laki supaya dibacakan suatu ayat yang ada padaku dengan harapan supaya orang itu kembali ke rumah dengan mengajakku dan memberi makan kepadaku. Dan sebaik-baik orang terhadap orang-orang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dulu dia mengajakku ke rumahnya lalu memberi makan kepadaku dengan apa yang ada di rumahnya, sehingga pernah dia mengeluarkan ‘ukkah (wadah untuk samin dan madu) yang sudah habis isinya, lalu kami mengambil yang masih tersisa padanya dan menjilatinya”. [HR. Bukhari).
Sedangkan Tirmidzi meriwayatkan dengan lafadhnya : Sesungguhnya dahulu aku pernah bertanya kepada seorang laki-laki dari shahabat Rasulullah SAW tentang ayat-ayat dari Al-Qur’an. Padahal aku lebih mengetahui tentang ayat itu dari pada orang tersebut. Aku tidak menanyakannya kecuali supaya dia memberi sesuatu makanan kepadaku. Dahulu apabila aku bertanya kepada Ja’far bin Abi Thalib dia tidak menjawabku sehingga mengajakku ke rumahnya, lalu berkata kepada isterinya, “Hai Asma’, siapkanlah makanan untuk kami !”. Maka ketika istrinya itu menyiapkan makanan untuk kami, lalu Ja’far menjawab pertanyaanku tadi. Dan Ja’far adalah seorang yang mencintai orang’orang miskin. Ja’far biasa duduk dengan mereka, dia bercakap-cakap dengan mereka dan merekapun bercakap-cakap dengannya. Dan Rasulullah SAW memberi gelar kepadanya dengan “Abul Masaakiin” (bapaknya orang-orang miskin)”. [HR. Tirmidzi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar