Selasa, 10 Maret 2015

Doa Adalah Senjata



Merupakan perkara yang telah diketahui oleh muslimin, bahkan tidak samar lagi bagi seorang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya, bahwa do’a adalah ibadah dari sekian ibadah-ibadah yang Allah perintahkan kepada hanba-Nya dan Do’a merupakan senjatanya orang Mu’min.
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". ( Q.S : Al Mukmin : 60 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang shahih:bersabda,
هُوَ الْعِبَادَةُ الدُّعَاءُ
Do’a itu adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Al-Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa do’a-do’a dan ta’awwudz-ta’awwudz (do’a-do’a dalam rangka memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala) kedudukannya seperti sebuah senjata. 

Maka hendaknya kita perbanyak doa kepada Allah SWT  apabila kita punya keinginan.
Dan kita saat ini punya keinginan agar dimudahkan dalam mengerjakan Ujian Nasional
Kita punya keinginan agar lulus Ujian Nasional, maka kita banyak berdoa, banyak memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan mengerjakan Ujian Nasional dan Lulus Ujian Nasional.

Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah SWT
 kita yakini  bahwa  Do’a bagi  orang mukmin itu tidak ada yang ditolak
4 Kemungkinan yang akan terjadi dari doanya seorang hamba :
1.      Kemungkinan Pertama adalah doanya dikabulkan pada saat itu juga,
Sebagaimana doanya pemuda yang terjebak dalam gua yang pintunya tertutup dalam gua  oleh sebongkah batu. Maka batu tergeser sedikit demi sedikit hingga terbuka sempurna atas doa 3 orang pemuda satu persatu sambil mengutarakan perbuatan baiknya.
2.      Kemungkinan Kedua adalah  doa dikabulkan pada saat yang lebih tepat oleh Allah SWT bukan saat yang diminta oleh hambanya,
Sebagaimana doa Nabi Ibrahim yang memohon agar Mekah Al-Mukarromah menjadi negeri yang banyak dikunjungi manusia dan negeri yang kaya raya. Kini dari seluruh penjuru dunia datang ke Mekah untuk berhaji memenuhi panggilan Allah SWT. Juga sebagai negara kaya raya .
3.      Kemungkinan Ketiga adalah doa  dikabulkan oleh Allah SWT akan tetapi diganti dengan  kebaikan sehingga orang yang  rajin berdoa dapat terhindar dari bencana atau cobaan dari-Nya.
4.      Kemungkinan keempat akan diberikan semua di Akherat.
Sehingga ada penghuni surga yang mengatakan kalau tahu begini balasanya orang yang berdo’a  aku  tidak minta dikabulkan doaku dulu waktu di dunia.
Demikianlah do’a, memiliki peran yang luar biasa pengaruhnya dalam diri manusia. Oleh karenanya, penting bagi seseorang yang berdo’a untuk mengetahui syarat-syarat dan adab-adab dalam berdo’a, serta hal-hal yang bisa menghalangi terkabulnya do’a, sehingga do’a tersebut benar-benar akan berfungsi sebagai sebuah senjata yang ampuh. Diantara syarat dan adab dalam berdo’a adalah:

1.         Memuji kepada Allah SWT dan Shalawat kepada Nabi SAW.

2. Ikhlash, hadirnya hati, dan mengharap do’anya dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: yang artinya
Berdo’alah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak menerima do’a dari hati yang lalai lagi main-main (tidak bersungguh-sungguh).” (HR. At-Tirmidzi)

3. Tidak terburu-buru

Sikap sabar dan tidak terburu-buru dalam berdo’a merupakan syarat dan adab dikabulkannya sebuah do’a. Sebaliknya, terburu-buru dan tidak sabar dalam berdo’a merupakan penghalang dikabulkannya do’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan hal ini dalam sabdanya:

Akan dikabulkan do’a salah seorang diantara kalian selama ia tidak terburu-buru (dalam do’anya) dan berkata: “Saya telah berdo’a, tapi belum juga dikabulkan!” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). 

Dalam riwayat Muslim dengan lafazh: “Senantiasa dikabulkan do’a seorang hamba selama ia tidak berdo’a dalam perkara dosa atau dalam rangka memutus hubungan silaturrahim, serta tidak terburu-buru.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apa maksudnya terburu-buru (dalam do’a)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Yaitu orang yang berdo’a tersebut berkata: ‘Saya sudah berdo’a dan berdo’a, tapi belum juga dikabulkan.’ Kemudian ia jenuh dan bosan untuk berdo’a dan akhirnya meninggalkan do’a  dan tidak lagi berdo’a.”

Makna terburu-buru dalam berdo’a disini yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits, yakni terburu-buru untuk melihat hasil do’anya. Dan bukan maknanya, terburu-buru dalam melafazhkan do’a, walaupun yang demikian ini mengurangi adab dalam berdo’a.

4. Menjauhi perkara yang haram

Diantara penghalang terkabulnya do’a adalah makan, minum, berpakaian dari apa-apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan Allah telah memerintahkan kaum mukminin dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman: “Wahai para rasul, Makanlah dari yang baik-baik dan beramal sholehlah. Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa-apa yang kalian lakukan.

Dan juga firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang Kami rizkikan kepada kalian.”

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan rambutnya acak-acakan dan penuh debu, kemudian ia (laki-laki tersebut) mengangkat tangannya ke langit (seraya berdo’a), “Ya Rabbi, ya Rabbi,” akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram. Maka bagaimanakah do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita selaku umatnya dari hal-hal yang haram, baik makanan, minuman, pakaian, serta hasil usaha yang haram yang mana itu semua merupakan penghalang terbesar dikabulkannya do’a.

5. Mengangkat tangan ketika berdo’a

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

6. Memilih waktu-waktu dikabulkan do’a

Memperhatikan waktu-waktu yang mustajab (waktu-waktu do’a dikabulkan) merupakan hal penting bagi seorang yang berdo’a. Yang mana pada waktu-waktu tersebut sangat besar kemungkinan do’a dikabulkan, maka diantara waktu-waktu mustajab yang disebutkan oleh ulama berdasarkan dalil dari Al-Qur`an maupun hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih adalah: Sepertiga malam akhir, antara adzan dan iqamah, akhir waktu Ashar hari Jum’at, ketika sujud, ketika safar, ketika berpuasa, akhir dari shalat lima waktu .

Jika terpenuhi pada sebuah do’a syarat dan adabnya, serta tidak adanya penghalang, dan dilakukan pada waktu-waktu yang mustajab, maka hampir-hampir do’a tersebut tidak ditolak oleh Allah subhanahu wa ta’ala, serta do’a tersebut benar-benar berfungsi seperti sebuah senjata ampuh yang memberikan manfaat bagi yang berdo’a.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar