Merupakan perkara
yang telah diketahui oleh muslimin,
bahkan tidak samar lagi bagi seorang mukmin yang benar-benar beriman kepada
Allah dan rasul-Nya, bahwa do’a adalah ibadah dari sekian ibadah-ibadah yang
Allah perintahkan kepada hanba-Nya dan Do’a merupakan senjatanya orang Mu’min.
Dan Tuhanmu
berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". ( Q.S : Al Mukmin : 60 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam hadits yang shahih:bersabda,
هُوَ الْعِبَادَةُ الدُّعَاءُ
“Do’a itu adalah ibadah.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Al-Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan
bahwa do’a-do’a dan ta’awwudz-ta’awwudz (do’a-do’a dalam rangka memohon
perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala) kedudukannya seperti sebuah
senjata.
Maka hendaknya kita perbanyak doa
kepada Allah SWT apabila kita punya
keinginan.
Dan kita saat ini punya keinginan
agar dimudahkan dalam mengerjakan Ujian Nasional
Kita punya keinginan agar lulus
Ujian Nasional, maka kita banyak berdoa, banyak memohon kepada Allah SWT agar
dimudahkan mengerjakan Ujian Nasional dan Lulus Ujian Nasional.
Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan
Allah SWT
kita yakini bahwa Do’a
bagi orang mukmin itu tidak ada yang
ditolak
4 Kemungkinan yang akan
terjadi dari doanya seorang hamba :
1.
Kemungkinan Pertama
adalah doanya dikabulkan pada saat itu juga,
Sebagaimana doanya pemuda yang
terjebak dalam gua yang pintunya tertutup dalam gua oleh sebongkah batu. Maka batu tergeser
sedikit demi sedikit hingga terbuka sempurna atas doa 3 orang pemuda satu
persatu sambil mengutarakan perbuatan baiknya.
2.
Kemungkinan Kedua
adalah doa dikabulkan pada saat yang lebih tepat oleh Allah SWT bukan
saat yang diminta oleh hambanya,
Sebagaimana doa Nabi Ibrahim yang
memohon agar Mekah Al-Mukarromah menjadi negeri yang banyak dikunjungi manusia
dan negeri yang kaya raya. Kini dari seluruh penjuru dunia datang ke Mekah
untuk berhaji memenuhi panggilan Allah SWT. Juga sebagai negara kaya raya .
3.
Kemungkinan Ketiga
adalah doa dikabulkan oleh Allah SWT
akan tetapi diganti dengan kebaikan
sehingga orang yang rajin berdoa dapat
terhindar dari bencana atau cobaan dari-Nya.
4.
Kemungkinan keempat
akan diberikan semua di Akherat.
Sehingga ada penghuni surga yang
mengatakan kalau tahu begini balasanya orang yang berdo’a aku tidak minta dikabulkan doaku dulu waktu di
dunia.
Demikianlah do’a, memiliki peran
yang luar biasa pengaruhnya dalam diri manusia. Oleh karenanya, penting bagi
seseorang yang berdo’a untuk mengetahui syarat-syarat dan adab-adab dalam
berdo’a, serta hal-hal yang bisa menghalangi terkabulnya do’a, sehingga do’a
tersebut benar-benar akan berfungsi sebagai sebuah senjata yang ampuh. Diantara
syarat dan adab dalam berdo’a adalah:
1.
Memuji kepada Allah
SWT dan Shalawat kepada Nabi SAW.
2. Ikhlash,
hadirnya hati, dan mengharap do’anya dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: yang artinya
“Berdo’alah kalian kepada
Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak
menerima do’a dari hati yang lalai lagi main-main (tidak bersungguh-sungguh).”
(HR. At-Tirmidzi)
3. Tidak
terburu-buru
Sikap sabar dan tidak
terburu-buru dalam berdo’a merupakan syarat dan adab dikabulkannya sebuah do’a.
Sebaliknya, terburu-buru dan tidak sabar dalam berdo’a merupakan penghalang
dikabulkannya do’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan hal ini
dalam sabdanya:
Akan dikabulkan
do’a salah seorang diantara kalian selama ia tidak terburu-buru (dalam do’anya)
dan berkata: “Saya telah berdo’a, tapi belum juga dikabulkan!” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari shahabat Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Dalam riwayat Muslim dengan
lafazh: “Senantiasa dikabulkan do’a seorang hamba selama ia tidak berdo’a
dalam perkara dosa atau dalam rangka memutus hubungan silaturrahim, serta tidak
terburu-buru.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, apa maksudnya terburu-buru (dalam do’a)?” Beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam menjawab: “Yaitu orang yang berdo’a tersebut berkata: ‘Saya sudah
berdo’a dan berdo’a, tapi belum juga dikabulkan.’ Kemudian ia jenuh dan bosan
untuk berdo’a dan akhirnya meninggalkan do’a
dan tidak lagi berdo’a.”
Makna terburu-buru dalam berdo’a
disini yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam hadits, yakni terburu-buru untuk melihat hasil do’anya. Dan bukan
maknanya, terburu-buru dalam melafazhkan do’a, walaupun yang demikian ini
mengurangi adab dalam berdo’a.
4. Menjauhi perkara
yang haram
Diantara penghalang terkabulnya
do’a adalah makan, minum, berpakaian dari apa-apa yang diharamkan Allah
subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Wahai sekalian manusia,
sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan
Allah telah memerintahkan kaum mukminin dengan apa-apa yang diperintahkan
kepada para Rasul. Allah berfirman: “Wahai para rasul, Makanlah dari yang
baik-baik dan beramal sholehlah. Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa-apa
yang kalian lakukan.”
Dan juga firman-Nya: “Wahai
orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang Kami rizkikan
kepada kalian.”
Kemudian beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang
melakukan perjalanan jauh dalam keadaan rambutnya acak-acakan dan penuh debu,
kemudian ia (laki-laki tersebut) mengangkat tangannya ke langit (seraya
berdo’a), “Ya Rabbi, ya Rabbi,” akan tetapi makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram. Maka bagaimanakah do’anya
akan dikabulkan?” (HR. Muslim, dari shahabat Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Dalam hadits ini Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita selaku umatnya dari hal-hal
yang haram, baik makanan, minuman, pakaian, serta hasil usaha yang haram yang
mana itu semua merupakan penghalang terbesar dikabulkannya do’a.
5. Mengangkat
tangan ketika berdo’a
Sebagaimana disebutkan dalam
hadits di atas.
6. Memilih
waktu-waktu dikabulkan do’a
Memperhatikan waktu-waktu yang
mustajab (waktu-waktu do’a dikabulkan) merupakan hal penting bagi seorang yang
berdo’a. Yang mana pada waktu-waktu tersebut sangat besar kemungkinan do’a
dikabulkan, maka diantara waktu-waktu mustajab yang disebutkan oleh ulama
berdasarkan dalil dari Al-Qur`an maupun hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang shahih adalah: Sepertiga malam akhir, antara adzan dan iqamah,
akhir waktu Ashar hari Jum’at, ketika sujud, ketika safar, ketika berpuasa,
akhir dari shalat lima waktu .
Jika terpenuhi pada sebuah do’a
syarat dan adabnya, serta tidak adanya penghalang, dan dilakukan pada
waktu-waktu yang mustajab, maka hampir-hampir do’a tersebut tidak ditolak oleh
Allah subhanahu wa ta’ala, serta do’a tersebut benar-benar berfungsi seperti
sebuah senjata ampuh yang memberikan manfaat bagi yang berdo’a.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar