EMPAT PULUH DAMPAK PERBUATAN DOSA
PERBUATAN DOSA
Setiap hari kita
tenggelam dalam kenikmatan yang dilimpahkan oleh Ar-Rahman.. Sungguh, dalam
setiap tarikan napas, Dari mulai tidur, bangun hingga tidur kembali, ada nikmat
yang tiada terputus. Maka Maha Benar Allah ketika berulang-ulang menegaskan
dalam surat Ar-Rahman:
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Rabb
kalian yang manakah yang kalian berdua (bangsa jin dan manusia) dustakan?”
Nikmat Allah swt yang
berlimpah ini semestinya dihadapi dengan penuh rasa syukur. Namun sangat
disesali, hanya sedikit yang mau bersyukur:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit sekali
dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba’: 13)
Kebanyakan kita hobi
mengkufuri nikmat Allah swt. Atau malah mempergunakan nikmat tersebut untuk
bermaksiat dan berbuatdosa kepada Ar-Rahman. Allah swtl memberikan kepada
mereka banyak kebaikan namun mereka membalasnya dengan kejelekan.
Demikianlah tabiat
manusia, setiap harinya selalu berbuat dosa. baik karena tergelincir ataupun
sengaja memperturutkan hawa nafsu dan bisikan setan. Amat buruklah bila tidak
segera bertaubat dari dosa-dosa yang ada dan menutupinya dengan berbuat
kebaikan. Karena perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yang sangat jelek bagi
hati dan tubuh seseorang.Beberapa di antaranya bisa kita sebutkan :
1. Terhalang dari ilmu yang haq.
Karena ilmu
merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan
memadamkan cahaya.
Tatkala Al-Imam
Asy-Syafi’i belajar kepada Al-Imam Malik, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan
kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan
pada muridnya ini, “Aku memandang Allah swt telah memasukkan cahaya ilmu di
hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan
maksiat.”
2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.
Takwa kepada Allah akan
mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Siapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari
permasalahannya) dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(Ath-Thalaq: 2-3)
وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Siapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”
(Ath-Thalaq: 4)
Meninggalkan takwa
berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.
3. Hati terasa jauh dari Allah swt dan merasa asing dengan-Nya.
Sebagaimana jauhnya
pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.
5. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam.
Karena ketaatan adalah
cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di
dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam,
kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang
buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.
6. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang
mukmin itu bersumber dari hatinya.
Semakin kuat
hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang pendosa, sekalipun badannya tampak
kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.
7. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan
keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya.
8. Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya.
Sehingga terasa berat
bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian
salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam
kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain.
9. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan
keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat. Hingga
pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.
10 Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi
merasakan jeleknya perbuatan dosa.
Malah berbuat
dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia
dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang
dilakukannya.
11. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan
warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Swt.
Perbuatan homoseksual
adalah warisan kaum Luth.Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan
memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum
Syu’aib.Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari
kaum Fir’aun.Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.
12. Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.
Bila Allah l telah menghinakan
seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.
“Siapa yang dihinakan
Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)
13. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia
akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil.
Ini merupakan
tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan
semakin besar di sisi Allah l.
“Seorang mukmin
memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang
ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang pendosa memandang
dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup
mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”
14. Maksiat akan merusak akal.
Karena akal memiliki
cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya
telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.
15. Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati.
Hingga ia termasuk
orang-orang yang lalai. Allah swt berfirman:
“Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati
mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)
16. Maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.
Diriwayatkan ada
seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya.
Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka
tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih
pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”
17. Kita
akan punya jarak dengan orang-orang baik.
Semakin banyak dan
semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita
dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita
yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan
kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri.
18. Maksiat membuat sulit semua urusan kita
Jika ketakwaan dapat
memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan
pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu
Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan
pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya,
perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di
dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian
makhluk.”
19. Maksiat
melemahkan hati dan badan
Kekuatan seorang mukmin
terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi
pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak
ada kekuatan dalam dirinya.
Wahai Saudaraku,
lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri
generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara
bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!
20. Terhalang untuk taat
Orang yang melakukan
dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat maksiat seperti
orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu
menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita
hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.
21. Memperpendek umur dan menghapus keberkahan
Pada dasarnya, umur
manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika
hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah
serta mencari keridhaan-Nya.
Jika usia kita saat ini
17 tahun. 7 tahun kita warnai dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita
tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 7 tahun adalah kesia-siaan dan tidak
memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.
Sementara, Imam Nawawi
yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab,
hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain
yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh
manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang
akan datang.
22. Menumbuhkan
maksiat lain
Seorang ulama salaf
berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan
mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika
seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan
keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.
Karena itu,
hati-hatilah sobat. Jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kalian akan
ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!
23. Menimbulkan kehinaan dan mewariskan kerendahan
Kehinaan itu tidak lain
adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya.
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang
memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(Al-Hajj:18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena,
kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa
yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….”
(Al-Faathir:10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku
kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku
karena aku bermaksiat kepada-Mu.”
24 Maksiat merusak akal kita
Tidak mungkin akal yang
sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama berkata, seandainya seseorang
itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan
kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat
menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat
keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!
25. Maksiat menutup hati.
Allah berfirman,
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin:14). Imam Hasan mengatakan hal itu
sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka
hatinya pun telah tertutup.
26. Mendapat laknat Rasulullah saw.
Sobatku sekalian,
Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan,
padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan
homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita
bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya.
27. Menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.
Kecuali, bagi mereka
yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah swt. berfirman,
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di
sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta
memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan
kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan
kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka
dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke
dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang
shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka
semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan
peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)
28. Maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.
Jika kita melakukan
maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan
lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita
telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat
segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!
29. Memalingkan perhatian Allah atas diri kita.
Allah akan membiarkan
orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah
berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu
Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah
orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)
30. Melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.
Allah berfirman, “Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Ali r.a. berkata,
“Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap
melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk
segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?
Dan akibat yang
terakhir, yang kedua puluh dua, maksiat memalingkan diri kita dari sikap
istiqamah.
Kita hidup di dunia ini
sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan
menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi.
Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain
Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga
yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang
fana, sungguh ia telah tertipu!
31.Dengan maksiat setan
akan merasa dibantu oleh manusia dalam memerangi diri manusia itu sendiri.
Setan akan sangat senang dengan kemaksiatan yang dilakukan
manusia karena ia dipermudah dalam melakukan “tugas”nya menyesatkan manusia.
32. Maksiat menyebabkan seseorang merasa minder dan takut, suatu
perasaan yang tidak dirasakan oleh orang yang tidak berbuat dosa dan maksiat.
Pelaku maksiat akan merasakan was-was dalam melaksanakan
aktivitas karena ia dibayang-bayangi
oleh perasaan dosa dan bersalah.
33.Maksiat yang sedemikian banyak menyebabkan hati terpatri dan
pelakunya menjadi orang-orang yang tidak sadar bahwa ia melakukan keburukan. Sensitivitasnya terhadap dosa dan maksiat menghilang.
”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu
mereka usahakan itu menutup hati mereka” (Al Muthaffifin: 14).
34. Maksiat juga menyebabkan hilangnya ketajaman hati. Akibat sensitivitasnya hilang, kemaksiatan dipandang hal yang
biasa dan wajar. Hati menjadi kebal dari rasa bersalah, karena menganggap kecil
dan remeh kemaksiatan yang mereka lakukan. Benarlah ungkapan yang menyatakan
bahwa kemaksiatan dapat menumbuhkan kemaksiatan yang sama, dan sebagian
kemaksiatan bisa melahirkan kemaksiatan yang lain.
Ibnu Abbas berkata, ”Sesungguhnya kebaikan itu penyebab wajah
bercahaya, hati bersinar, rezeki dilapangkan, dan dicintai oleh semua makhluk.
Dan sesungguhnya kemaksiatan penyebab wajah hitam, hati gelap gulita, rezeki
sempit, dan dibenci oleh semua makhluk.”
35, Kemaksiatan dapat melemahkan perjalanan hati menuju kepada
Allah dan perkampungan akhirat.
Kemaksiatan berakibat kerinduan untuk bertemu dengan Allah
dan kesiapan diri untuk menyambut perkampungan akhirat, semakin sirna, dan
berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Mereka tidak siap berjumpa dengan
Allah dan kampung akhirat karena merasa banyak dosa.
36. Melakukan maksiat semua urusannya akan menemui banyak
hambatan, ”Sesungguhnya ketika aku bermaksiat kepada Allah, maka kutemukan
hal yang demikian ini pada binatang (kendaraan) dan istriku.”
37.Kemaksiatan membuat perasaan rendah diri dalam
berinteraksi antarmanusia, terutama dengan orang-orang yang saleh. Abu Darda berkata, ”Hendaklah seorang di antara kamu
berhati-hati jangan sampai dirinya dikutuk oleh hati orang-orang beriman,
padahal ia tidak menyadarinya.”
38. Kemaksiatan mampu menjatuhkan kewibawaan dan kemuliaan
pelakunya, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia.
”Dan siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang
memuliakannya” (Al Hajj: 18).
39.Kemaksiatan bisa memadamkan api semangat yang membara yang
terpendam di dalam hati. Seseorang bisa menjadi pemalas, hilang gairah hidup dan tidak memiliki semangat dalam
kehidupan. Lihatlah mereka yang berkubang dalam candu atau obat-obat terlarang.
Tidak tampak kegairahan hidup, justru mereka semakin lari dari kenyataan hidup.
40.Kemaksiatan dapat menghilangkan rasa malu. Apabila seseorang membiasakan diri dengan kemaksiatan, ia
tidak lagi memiliki rasa malu di hadapan Allah maupun di hadapan manusia. Pada
awalnya ia melakukan dengan bersembunyi, namun seiring hilangnya rasa malu,
kemaksiatan pun nyata ditampakkan.
Semoga kita semua
terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat. Semoga Allah berikan kekuatan kepada
kita untuk berada dalam kebenaran dan kebaikan. Amin.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar