Nabi Yunus ‘Alaihissalam
Di daerah Mosul,
Irak, terdapat sebuah kampung bernama Ninawa yang penduduknya berpaling dari
jalan Allah yang lurus dan malah menyembah patung dan berhala. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memberikan
petunjuk kepada mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus, maka Dia
mengutus Nabi Yunus ‘alaihissalam untuk mengajak mereka
beriman dan meninggalkan sesembahan selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Akan tetapi mereka menolak beriman kepada Allah dan
tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka lebih memilih kekafiran dan
kesesatan daripada keimanan dan petunjuk, mereka mendustakan Nabi Yunus ‘alaihissalam, mengolok-olok dan
menghinanya. Maka Nabi Yunus pun marah kepada kaumnya dan tidak berharap lagi
terhadap keimanan mereka.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala pun mewahyukan kepada Yunus untuk memberitahukan kaumnya,
bahwa Allah akan mengadzab mereka karena sikap mereka itu setelah berlalu tiga
hari. Lalu Nabi Yunus menyampaikan perihal adzab itu kepada kaumnya dan
mengancam kaumnya dengan adzab Allah, kemudian ia pergi meninggalkan mereka.
Ketika itu, kaum Yunus telah mengetahui, bahwa Nabi Yunus telah pergi meninggalkan
mereka sehingga mereka yakin adzab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang
nabi, maka mereka segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali kepada-Nya, dan menyesali sikap
mereka.
Ketika itu, kaum lelaki, wanita, dan anak-anak
menangis karena takut adzab menimpa mereka, dan mereka berdoa dengan suara
keras kepada Allah ‘Azza wa Jalla
agar adzab itu diangkat dari mereka. Saat Allah melihat jujurnya taubat mereka,
maka Dia menghilangkan adzab itu dari mereka serta menjauhkannya. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan mengapa tidak ada
(penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya
selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari
mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan
kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)
Setelah peristiwa itu, Yunus tetap meninggalkan
kampung kaumnya karena marah padahal Allah belum mengizinkannya, maka Yunus
pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Pada saat Yunus berada di atas kapal,
maka ombak laut menjadi dahsyat, angin menjadi kencang dan membuat kapal
menjadi oleng hingga hampir saja tenggelam[1].
Oleh ketika itu, kapal yang ditumpangi membawa
barang-barang yang berat, lalu sebagiannya dilempar ke laut untuk meringankan
beban. Tetapi ternyata, kapal itu tetap saja oleng hampir tenggelam, maka
para penumpangnya bermusyawarah untuk meringankan beban kapal dengan melempar
seseorang ke laut, maka mereka melakukan undian dan ternyata undian itu jatuh
kepada diri Yunus, tetapi mereka tidak mau jika Yunus harus terjun ke laut,
maka undian pun diulangi lagi, dan ternyata jatuh kepada Yunus lagi, hingga
undian itu dilakukan sebanyak tiga kali dan hasilnya tetap sama. Maka Yunus
bangkit dan melepas bajunya, kemudian melempar dirinya ke laut.
Pada saat yang bersamaan, Allah telah mengirimkan
ikan besar kepadanya dan mengilhamkan kepadanya untuk menelan Yunus dengan
tidak merobek dagingnya atau mematahkan tulangnya, maka ikan itu melakukannya.
Ia menelan Nabi Yunus ke dalam perutnya tanpa mematahkan tulang dan merobek
dagingnya, dan Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan
dibawa mengarungi lautan oleh ikan itu. Ketika Yunus mendengar ucapan tasbih
dari kerikil di bawah laut, maka di kegelapan itu Yunus berdoa, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain
Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Yunus berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan
kegelapan malam. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,
“Dan (ingatlah kisah)
Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa
Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan
yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”–Maka Kami
telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan
demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’:
87-88)
Para ulama berselisih tentang berapa lama Nabi
Yunus tinggal di dalam perut ikan. Menurut Qatadah, tiga hari. Menurut Abu
Ja’far ash-Shaadiq, tujuh hari, sedangkan menurut Abu Malik, empat puluh hari.
Mujahid berkata dari asy-Sya’bi, “Ia ditelan di waktu duha dan dimuntahkan di
waktu sore.”
Wallahu a’lam.
Kemudian Allah memerintahkan ikan itu memuntahkan
Yunus ke pinggir pantai, lalu Allah tumbuhkan di sana sebuah pohon sejenis labu
yang memiliki daun yang lebat yang dapat menaungi Nabi Yunus dan menjaganya
dari panas terik matahari. Allah Ta’ala
berfirman,
“Kemudian Kami lemparkan
dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan
untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaaffaat: 145-146)
Ketika Yunus dimuntahkan dari perut ikan yang
keadaannya seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut. Lalu Allah
menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan
darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis karena keringnya
pohon itu. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Namun kamu tidak menangis
karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Yunus agar kembali kepada
kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada
mereka. Maka Nabi Yunus ‘alaihissalam
melaksanakan perintah itu, ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan
kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan
berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah
dalam firman-Nya,
“Dan Kami utus dia
kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami
anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaaffaat:
147-148)
Allah Subhanahu
wa Ta’ala memuji Nabi Yunus ‘ailaihissalam
dalam Alquran, Dia berfirman,
“Dan Ismail, Alyasa’,
Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di
masanya).” (QS. Al An’aam: 86)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam sabdanya,
لاَ يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
“Tidak
layak bagi seorang hamba mengatakan, “Saya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam) lebih baik daripada Yunus bin Mata.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau mengucapkan demikian karena tawadhunya. Ada
pula yang berpendapat, bahwa beliau mengucapkan demikian karena sebelumnya
tidak mengetahui bahwa dirinya lebih utama di atas para nabi yang lain. Ada
pula yang berpendapat, bahwa beliau mengucapkan demikian untuk menghindari
adanya sikap orang bodoh yang merendahkan martabat Nabi Yunus karena kisah yang
disebutkan dalam Alquran, wallahu
a’lam.
Dan tentang doa Nabi Yunus ‘alaihissalam, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ
“Doa Dzunnun (Nabi Yunus ‘alaihissalam) ketika di perut ikan adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain
Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya
tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan
Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani).
Selesai dengan
pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa
‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Oleh: Marwan bin Musa
Maraaji’:
- Alquranul Karim
- Hidayatul Insan
bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
- Mausu’ah Al
Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
- Shahih Qashashil
Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
- Maktabah
Syaamilah
- dll
Khalid
bin Walid ‘Pedang Allah’ yang Tak Terkalahkan
(bag. 1)
Siapakah
Khalid bin Walid?
Dia bernama Khalid
bin Walid bin Mughirah bin Abdullah bin Umair bin Makhzum. Ia
dijuluki saifullah (pedang Allah). Ia
seorang pahlawan Islam, panglima para mujahid, dan pemimpin pasukan yang selalu
dibantu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tak pernah
terkalahkan baik di masa jahiliah maupun setelah Islam. Ia memiliki ide-ide
yang cemerlang, keperkasaan yang tiada tara, dan taktik yang jitu. Ia termasuk
salah seorang juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Gelarnya/kun-yahnya adalah Abu
Sulaiman.
Ayahnya
Ayahnya bergelar Abdu Syams. Ia salah seorang hakim di kalangan
bangsa Arab pada masa jahiliah. Ia juga salah seorang pemimpin terkemuka suku
Quraisy. Kekayaan yang dimilikinya sangat banyak, sampai seluruh suku Quraisy
mesti berkumpul untuk membungkus Ka’bah dengan kiswah sementara ia cukup
sendirian saja melakukannya. Ia termasuk orang yang mengharamkan khamr di masa jahiliah. Ia sempat bertemu
dengan masa Islam pada saat berusia sangat lanjut, akan tetapi ia memusuhi
Islam dan menentang dakwahnya, sampai ia meninggal tiga bulan setelah hijrah.
Ibunya
Ibunya bernama Ashma’ atau yang dikenal dengan Lubabah kecil;
putri al-Harits bin Harb al-Hilaliah. Ia adalah saudari Lubabah besar; istri
Abbas ibn Abdul Muththalib. Keduanya merupakan saudari Maimunah binti
al-Harits; istri Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Khalid bin Walid adalah seorang penunggang kuda yang tangguh dan
pahlawan suku Quraisy. Ia terjun dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang
Khandak di barisan kaum musyrikin. Kemudian, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan
kebaikan untuknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan rasa
cinta Islam ke dalam hatinya.
Khalid bin Walid telah mengikuti berbagai peperangan. Tak
sejengkal pun bagian tubuhnya melainkan terdapat “cap” syuhada (bekas besetan
pedang atau tusukan tombak). Ia pernah berkata, “Malam di kala aku dihadiahi
seorang pengantin atau aku diberi kabar gembira dengan kelahiran anakku
tidaklah lebih aku sukai daripada malam yang sangat dingin dalam barisan
pasukan kaum Muhajirin di saat paginya aku akan berhadapan dengan musuh.”
Walid
Mengajaknya Masuk Islam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam masuk ke kota Mekah dalam rangkaian umrah qadha. Ikut bersama
Rasulullah, al-Walid bin Walid –saudara Khalid bin Walid– yang telah lebih
dahulu masuk Islam daripada Khalid.
Walid mencari-cari saudaranya, Khalid, tetapi tidak menemukannya.
Ia pun menulis sepucuk surat kepada saudaranya.
“Bismillahirrahmanirrahim.
Amma ba’d. Sesungguhnya aku tak menemukan sesuatu yang lebih mengherankan
daripada jauhnya pikiranmu dari Islam. Engkau seorang yang cerdas. Tak seorang
pun yang tidak mengenal agama seperti Islam. Aku pernah ditanya suatu kali oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam tentang dirimu. Beliau bertanya,
‘Mana Khalid?’
Aku menjawab, ‘Semoga Allah memberinya hidayah.’
Beliau bersabda lagi,
‘Orang seperti Khalid
tidak mengenai Islam? Andaikan ia gunakan kehebatan dan ketangguhannya –yang
selama ini ia gunakan untuk yang lain– bersama kaum muslimin, tentu akan lebih
baik baginya.’
Bergegaslah wahai saudaraku untuk menjemput peluang-peluang
kebaikan yang sempat luput darimu.
Kisah
Islamnya Khalid bin Walid
Khalid
bin Walid menerima surat dari saudaranya. Surat itu dibacanya dengan
seksama. Ia sangat gembira mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya
tentang dirinya. Hal itu semakin mendorongnya untuk masuk Islam. Akhirnya
Khalid mengarahkan jiwa dan nuraninya pada agama baru yang setiap hari
benderanya semakin naik dan berkibar. Cahaya keyakinan pun mulai berkilau di
hatinya yang suci. Ia berkata dalam hatinya, “Demi Allah, sungguh jalan inilah
yang kurus. Sesungguhnya dia (Muhammad) memang benar-benar seorang rasul.
Sampai kapan? Demi Allah aku harus segera menemuinya untuk mengutarakan
keislamanmu.”
Pada malam itu Khalid bermimpi seperti berada di sebuah daerah
sempit dan gersang. Tak ada tanaman dan tak ada air. Kemudian ia pergi menuju
daerah yang hijau dan luas. Setelah bangun, Khalid berkata dalam hati, “sungguh
ini sebuah mimpi yang baik.”
Khalid keluar dari rumahnya. Ia sudah bertekad untuk menemui
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Mimpi yang ia alami semalam terus melekat dalam pikirannya dan
seolah-olah berada di depan kedua matanya. Ia mencari seseorang yang bisa
menemaninya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di tengah jalan ia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah. Khalid
berkata pada Shafwan, “Wahai Abu Wahb, tidakkah engkau perhatikan kondisi kita?
Kita ibarat gigi geraham sementara Muhammad telah menguasai bangsa Arab dan
non-Arab. Kalau kita datang menemui Muhammad lalu kita ikuti langkahnya,
niscaya kemuliaan Muhammad juga kemuliaan kita.”
Shafwan bin Umayyah sangat enggan menerima ajakan Khalid. Ia
berkata, “Andaikan tak ada lagi yang tersisa selain diriku sendiri, sungguh aku
tak akan pernah mengikutinya selama-lamanya.”
Akhirnya Khalid bin Walid meninggalkan Shafwan bin Umayyah. Ia
berkata dalam hati, “Orang ini, saudara dan bapaknya terbunuh di Perang Badar.”
Kemudian Khalid berjumpa dengan Ikrimah bin Abu Jahal. Khalid
berkata kepada Ikrimah seperti yang dikatakannya kepada Shafwan bin Umayyah.
Jawaban yang diberikan Ikrimah juga sama dengan jawaban Shafwan bin Umayyah.
Lalu Khalid kembali ke rumahnya dan mempersiapkan kudanya. Ia
mulai melangkah. Tiba-tiba ia bertemu dengan Utsman bin Thalhah yang merupakan
sahabat dekatnya. Ia menyampaikan rencananya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata Utsman
menerima ajakannya. Akhirnya keduanya pergi dengan tujuan yang sama. Di
jalan mereka bertemu dengan Amru bin Ash. Amru berkata pada keduanya, “Marhaban.”
“Marhaban bika,” balas keduanya.
“Mau ke mana kalian?” tanya Amru.
“Apa yang menyebabkan engkau keluar di waktu begini?” keduanya
balik bertanya.
“Kalau kalian, apa yang menyebabkan kalian keluar?” Amru balas
bertanya.
“Untuk masuk Islam dan mengikuti Muhammad,” jawab Khalid dan Utsman
serentak.
“Itulah yang membuat aku datang ke sini,” timpal Amru sambil
tersenyum.
Mereka berangkat sampai tiba di Madinah. Di jalan, sebelum bertemu
Rasulullah, Khalid bertemu dengan saudaranya; al-Walid. Al-Walid berkata,
“Cepatlah. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui kedatanganmu dan
beliau sangat gembira dengan kedatanganmu. Beliau sedang menunggu kalian.”
Mereka memeprcepat langkah dan segera masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khalid lebih dulu
masuk dan ia segera menyampaikan salam pada Rasulullah. Rasulullah membalas
salamnya dengan wajah berseri.
Khalid segera berucap, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada
Tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Mari ke sini!”
Ketika Khalid bin Walid sudah mendekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Segala puji bagi
Allah yang telah menunjukimu. Aku memang sudah melihat kecerdasan dalam dirimu
dan aku berharap semoga kecerdasan itu membawamu pada kebaikan.”
Setelah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalid berkata, “Wahai Rasulullah,
aku telah banyak berada pada posisi yang menentang kebenaran, maka berdoalah
kepada Allah untuk mengampuniku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Islam akan menghapus
segala dosa yang telah berlalu.”
Khalid melanjutkan, “Wahai Rasulullah, doakanlah aku!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Ya Allah, ampunkanlah
Khalid atas segala perbuatannya yang menghalangi manusia dari jalan-Mu.”
Kemudian Utsman bin Thalhah dan Amru ibnul Ash pun maju dan
membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Sejak hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah memberi sesuatu pun kepada
para sahabatnya lebih banyak dari yang diberikannya kepada Khalid bin Walid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah berpesan kepada sahabat-sahabat yang lain,
“Jangan sakiti Khalid
karena sesungguhnya ia adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia
hunuskan pada orang-orang kafir.”
Abu
Bakar ash-Shiddiq Menafsirkan Mimpi Khalid
Suatu kali Khalid bin Walid berjumpa dengan Abu Bakar ash-Shiddiq.
Ia berkata dalam hati, “Aku akan sampaikan mimpi yang pernah kualami kepada Abu
Bakar.”
Setelah Khalid menceritakan kepada Abu Bakar mimpi yang ia alami,
Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya daerah hijau yang luas itu adalah jalan keluar
yang menjadi tempat Allah menunjukimu pada Islam dan sesungguhnya daerah yang
sempit itu adalah masa yang engkau lalui dalam kemusyrikan.”
Pembebasan
Mekah
Khalid bin Walid telah masuk Islam. Ia membelakangi tuhan-tuhan
nenek moyangnya dan seluruh bentuk pujaan kaumnya. Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin
lainnya ia menyongsong dunia baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkannya berada di bawah panji Rasulullah dan kalimat
tauhid.
Pada saat pembebasan Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya
untuk masuk ke Mekah dari arah atas. Khalid dan orang-orang bersamanya masuk ke
Mekah dari tempat yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata ia
dihadang oleh beberapa orang kaum Quraisy. Di antara meraka ada Shafwan bin
Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amru. Mereka mengahalangi Khalid
untuk masuk dan bahkan menghunus senjata serta melemparinya dengan ketapel.
Khalid mengobarkan semangat sahabat-sahabatnya dan memerangi kaum Quraisy
tersebut. Sebanyak 24 orang kaum Quraisy menemui ajal sementara 2 orang kaum
muslimin menemui syahadah. Akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan pembebasan Mekah untuk Rasul-Nya dan segenap kaum
muslimin.
Diutus
untuk Menghancurkan Uzza
Patung Uzza terletak di daerah Nakhlah. Suku Quraisy, Kinanah, dan
Mudhar sangat mengagungkannya. Orang-orang yang memelihara dan yang menjaganya
adalah Bani Syaiban (yang berasal) dari Bani Sulaim dan merupakan sekutu Bani
Hasyim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengutus Khalid bin Walid untuk menghancurkan Uzza. Ketika
penjaga patung Uzza yang berasal dari Bani Sulaim mendengar bahwa Khalid bin
Walid sedang menuju ke sana untuk menghancurkannya, ia segera menggantungkan
pedangnya di pundak patung Uzza tersebut. Kemudian ia naik ke atas bukit yang
terletak di dekat sana lalu berkata,
“Wahai Uzza, siapkan dirimu, tak ada yang lain selainmu yang mampu
menghadang Khalid yang telah siaga. Siapkan dirimu, karena jika engkau tidak
membunuh Khalid, niscaya engkau akan ditimpa dosa yang dekat dan tak berdaya.”
Setelah Khalid sampai di sana, ia segera menghancurkan Uzza. Setelah
kembali, Rasulullah bertanya kepadanya,
“Apa yang engkau lihat?”
Khalid menjawab, “Aku tidak melihat apa-apa.”
Rasulullah menyuruhnya untuk kembali ke sana. Ketika Khalid sampai
ke tempat itu, dari dalam ruangan tempat patung Uzza dihancurkan keluarlah seorang
wanita hitam yang menguraikan rambutnya sambil menaburkan tanah ke kepala dan
mukanya. Khalid segera mengayunkan pedangnya dan berakhirlah hidup wanita itu.
Khalid berkata,
“Wahai Uzza engkau dikufuri dan dirimu tidak suci. Aku lihat Allah
telah menghinakanmu.”
Kemudian Khalid menghancurkan rumah (ruangan) tempat patung itu
lalu ia ambil seluruh harta yang ada di sana. Setelah itu ia kembali. Ia
ceritakan kepada Rasulullah semua hal yang terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Itulah Uzza dan ia tak akan pernah disembah lagi untuk
selama-lamanya
Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang
sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa
takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat lululh terhadap
Al-Quran. Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsang, bahkan
hingga mati, karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat,
tapi betul-betul buah dari ketakwaannya.
Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
“Akan masuk surga
sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382
& Muslim 2840)
Mereka orang yang hatinya sangat lunak, dipenuhi
dengan ketakutan kepada Sang Pencipta. Sebagaimana burung. Binatang yang sangat
peka dan mudah kaget.
Diantara hamba Allah yang bisa mencapai derajat
semacam ini adalah Ali bin Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Beliau digelari qatilul qur’an (orang yang
‘dibunuh’ Al-Quran). Al-Munawi dalam Faidhul
Qadir (6/460) mengatakan:
وسمي علي بن الفضيل قتيل القرآن
“Ali bin Fudhail digelari qatilul quran”
Beliau bukan ahlul bait. Bukan pula keturunan
kerajaan. Beliau putra seorang ulama yang dikenal sangat zuhud, Fudhail bin
Iyadh rahimahullah.
Diceritakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/302), dari Muhammad
bin Bisyr Al-Makki, beliau bercerita:
Pada suatu hari kami bernah berjalan bersama Ali
bin Fudhail. Kemudian kami melewati daerah Bani Al-Harits Al-Makhzumi, yang
pada saat itu ada seorang guru yang sedang mengajar anak-anak. Kemudian
sang guru membaca firman Allah:
لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
“Supaya Dia memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka
kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala
yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)
Tiba-tiba Ali bin Fudhail langsung teriak dan jatuh
pingsan. Datanglah ayahnya dan mengatakan: “Sungguh, dia terbunuh karena
Al-Quran.”
Kemudian dia dibawa pulang. Salah seorang yang
membawanya pulang bercerita bahwa Fudhail, ayahnya mengabarkan, Ali tidak bisa
shalat pada hari itu, shalat dzuhur, asar, maghrib, dan isya. Pada tengah malam
dia baru sadar.
Di lain kasus, Ibnu Qudamah menceritakan kisah
seorang pemuda dalam kitabnya At-Tawwabin.
Seorang pemuda dari Al-Azd. Beliau menghadiri majlis ilmu. Ketika beliau
mendengan ada orang yang membaca firman Allah:
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
Berilah mereka
peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak)
sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak
mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at
yang diterima syafa’atnya. (QS. Ghafir: 18)
Tiba-tiba, beliau jatuh tersungkur, pingsan.
Akhirnya dia diangkat di tengah keramaian banyak orang dalam kondisi pingsan.
Ya rabbi, jadikanlah
kami hamba-Mu yang lunak hatinya, dan mencintai mereka yang lunak hatinya.
Mereka yang Tersungkur
karena Al-Quran
Kisah ini menceritakan seorang hamba Allah yang
sangat peka terhadap firman Tuhannya. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan rasa
takutnya terhadap Sang Pencipta menyebabkan hatinya sangat lululh terhadap Al-Quran.
Dia bisa jatuh tersungkur, menangis tersedu-sedu, pingsang, bahkan hingga mati,
karena mendengar lantunan Al-Quran. Bukan dibuat-buat,
tapi betul-betul buah dari ketakwaannya.
Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangkali merekalah orang yang dimaksud dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ
“Akan masuk surga
sekelompok orang, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Ahmad 8382
& Muslim 2840)
Mereka orang yang hatinya sangat lunak, dipenuhi
dengan ketakutan kepada Sang Pencipta. Sebagaimana burung. Binatang yang sangat
peka dan mudah kaget.
Diantara hamba Allah yang bisa mencapai derajat
semacam ini adalah Ali bin Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Beliau digelari qatilul qur’an (orang yang
‘dibunuh’ Al-Quran). Al-Munawi dalam Faidhul
Qadir (6/460) mengatakan:
وسمي علي بن الفضيل قتيل القرآن
“Ali bin Fudhail digelari qatilul quran”
Beliau bukan ahlul bait. Bukan pula keturunan
kerajaan. Beliau putra seorang ulama yang dikenal sangat zuhud, Fudhail bin
Iyadh rahimahullah.
Diceritakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/302), dari Muhammad
bin Bisyr Al-Makki, beliau bercerita:
Pada suatu hari kami bernah berjalan bersama Ali
bin Fudhail. Kemudian kami melewati daerah Bani Al-Harits Al-Makhzumi, yang
pada saat itu ada seorang guru yang sedang mengajar anak-anak. Kemudian
sang guru membaca firman Allah:
لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
“Supaya Dia memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka
kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala
yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)
Tiba-tiba Ali bin Fudhail langsung teriak dan jatuh
pingsan. Datanglah ayahnya dan mengatakan: “Sungguh, dia terbunuh karena
Al-Quran.”
Kemudian dia dibawa pulang. Salah seorang yang
membawanya pulang bercerita bahwa Fudhail, ayahnya mengabarkan, Ali tidak bisa
shalat pada hari itu, shalat dzuhur, asar, maghrib, dan isya. Pada tengah malam
dia baru sadar.
Di lain kasus, Ibnu Qudamah menceritakan kisah
seorang pemuda dalam kitabnya At-Tawwabin.
Seorang pemuda dari Al-Azd. Beliau menghadiri majlis ilmu. Ketika beliau
mendengan ada orang yang membaca firman Allah:
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
Berilah mereka
peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak)
sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak
mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi
syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Ghafir: 18)
Tiba-tiba, beliau jatuh tersungkur, pingsan.
Akhirnya dia diangkat di tengah keramaian banyak orang dalam kondisi pingsan.
Ya rabbi, jadikanlah
kami hamba-Mu yang lunak hatinya, dan mencintai mereka yang lunak hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar