Perang Shiffin
Shiffin
merupakan sebuah wilayah berada di antara Kufah dan Syam. Di tempat itulah
terjadi pertempuran antara pendukung Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi
Sufyan. Banyak pihak yang masih menilai bahwa perang tersebut disebabkan perebutan
kekuasaan antara kedua sahabat muliya itu. Padahal kalau merujuk kembali
sejarah yang ditulis para ulama, prasangka buruk tidaklah benar. Dan yang tidak
pula kalah pentingnya, bahwa sebenarnya kadua sahabat tersebut beserta
mayoritas umat Islam yang hidup di masa itu sama sakali tidak menginginkan
pertumpahan darah, pengikut Abdullah bin Saba’ lah yang sebenarnya menjadi
pemantiknya. Untuk mengetahui lebih detail mengenai persoalan itu, silahkan
menyimak.
Dari Dendam terhadap Muawiyah Bermula
Peristiwa
perang Shiffin tidak berdiri sendiri, dendam lama pengikut Abdullah bin Saba’
terhadap Muawiyah adalah faktor yang cukup menentukan.
Gerakan
makar yang dilakukan Abdullah bin Saba’ beserta pendukungnya sudah terjadi
sejak zaman Khalifah Utsman. Gerakan khas yang banyak mereka lakukan adalah
menjelek-jelekkan citra pejabat negara, dan menyebarkannya di tengah-tengah
rakyat, hingga mereka tidak munyukai para pemimpin mereka. Amru bin Ash,
gubernur Mesir adalah sasaran pertama, hingga beliau diturunkan dari
jabatannya. Selanjutnya, ”kelompok Mesir” mengajak para pendukungnya yang sudah
tersebar di Syam, Kufah dan Bashrah untuk melawan gubernur mereka, tapi hanya
”kelompok Kufah yang bangkit, hingga Said bin Ash, pun turun dari jabatannya.
Selanjutnya, dari Kufah bergeser menuju Mawiyah yang berada di Syam. Akan
tetapi, upaya mereka untuk menjatuhkan Muawiyah tidak mampu mereka laksanakan,
dan beliau tetap memimpin wilayah Syam walau selanjutnya mereka berhasil
membunuh Khalifah Utsman.
Muawiyah
telah menjabat sebagai gubernur di Syam sejak masa Khalifah Umar bin Al
Khattab. Di masa Utsman menjadi khalifah, Muawiyah tetap menjadi gubernur
wilayah itu. Keadaan ini tetap berlangsung hingga Ali bin Abi Thalib dibaiat
penduduk Madinah, tidak lama setelah Ustman terbunuh oleh kelompok Saba’iyah
(pengikut Abdullah bin Saba’).
Posisi
Gubernur Muawiyah terjaga dari gerakan ”makar Sabaiyah” disebabkan ada beberapa
hal yang mendukung, yakni, bahwa di wilayah itu banyak tinggal para sahabat
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW), seperti Muadz bin Jabal, Ubadah
bin As Shamit, Abu Darda, Abu Siad Al Khudri, Syadad bin Aus, Nu’man bin
Bashir, Fudhalah bin Ubaid dan yang lainnya. Dengan demikian, penduduk Syam
lebih mudah memperoleh pemahaman Islam yang baik, di bawah bimbingan para
sahabat tersebut, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hasutan Khawarij
Saba’iyah. Selain itu, kedekatan Muawiyah dengan rakyat Syam juga mempersulit
gerakan makar ini.Apalagi Muawiyah memahami kerakter kelompok ini, karena
beliau pernah berhadapan dengan mereka di saat Khalifah Utsman Masih hidup.
“Telah keluar kepadamu sekelompok penduduk Kufah, untuk membuat fitnah,
hadapilah mereka. Jika mereka burbuat baik-baik terimalah, akan tetapi jika
mereka melemahkanmu, maka kembalikan ke Kufah”, pesan Utsman kepada Muawiyah,
sebagaimana dicatat dalam Tarikh At Thabari (5/138).
Benar
adanya, mereka datang kepada Muawiyah, dan meminta agar Muawiyah melepas
jabatannya. Muawiyah menjawab,”Seandainya ada orang lain yang lebih mampu
daripada saya, maka saya dan yang lainnya tidak menduduki jabatan ini. Jangan
tergesa-gesa, karena hal ini mirip apa yang diharapkan syetan”. Kamudian mereka
dikeluarkan dari Syam.
Dan
setelah wafatnya Utsman, kelompok inilah yang pertama-tama membaiat Ali bin Abi
Thalib. Rupanya, kesegeraan mereka melakukan bai’at, memiliki misi tersembunyi,
yang perlahan-lahan tersingkap setelah nanti berbagai peristiwa yang berkenaan
dengan sahabat Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah terjadi.
Permulaan
Perselisihan antara Ali dan Muawiyah
Sebenarnya
tidak ada perselisihan antara kedua sahabat Rasulullah sebelumnya, akan tetapi
yang ada malah perselisihan antara pengikut Abdullah bin Saba’ dan Muawiyah,
disebabkan Muawiyah amat getol menyerukan dilakukannya hukuman hadd kepada
mereka, atas terbunuhnya Utsman dan beliau yang membuka berhasil membuka kedok
kelompok pembuat makar tersebut.
Dan
kelompok ini sudah bergabung dalam barisan Ali bin Abi Thalib. Sehingga Dr.
Hamid Muhammad Khalifah, dalam buku beliau Al Inshaf (hal.418),
menyebutkan,”Sesungguhnya sebab-sebab yang membuat meruncingnya hubungan Ali
dan Muawiyah adalah adanya para ”provokator” dalam barisan Khalifah Ali bin Abi
Thalib, yang ingin memerangi Muawiyah.”
Perselisihan
dimulai setelah Ali memutuskan untuk mengganti Muawiyah dengan sahabat Sahl bin
Hunaif. Pengganti yang telah ditunjuk tersebut bersama rombongan pergi Syam.
Sesampai di wilayah Tabuk, sejumlah pasukan Muawiyah menemui rombongan itu dan
meminta mereka kembali. Mengetahui demikian, Ali mengirim surat kepada gubernur
Syam itu, akan tetapi surat itu tidak dibalas, hingga tiga bulan setelah
syahidnya Utsman.
Sampai
akhirnya Muawiyah mengutus Qubishah Al Abasi, untuk menyampaikan kepada Amir Al
Mukminin Ali, bahwa alasan penduduk Syam tidak melakukan baiat, karena mereka
meminta agar pelaku atas pembunuhan Utsman diadili. Ali pun mengatakan,”Ya
Allah sesungguhnya saya berlepas diri kepada Engkau dari darah Utsman,”
Setelah
Qubishah keluar, kaum Saba’yah mengatakan,”Ini anjing, ini adalah utusan
anjing, bunuhlah ia!” Saat itu kelompok ini mengerumuni Qubishah, akan tetapi
Bani Mudhar mencegah mereka, sebagaimana disebut dalam Tarikh At Thabari
(5/215).
Periwayatan
ini menjukkan bahwa kaum Saba’iyah memang masih menyimpan dendam, karena gagal
menjatuhkan Muawiyah dari jabatannya sebagai gubernur Syam untuk ke sekian
kalinya.
Di
saat Ali berada di Bashrah saat terjadi perang Jamal, disebutkan Imam Al
Bukhari dalam At Tarikh As Saghir (1/102), bahwa Imam Ali berada di wilayah itu
hanya satu bulan, dan tidak berniat keluar menuju Syam, kecuali setelah ada
desakan dari Saba’iyah.
Dalam
At Tarikh At Thabari (5/282) disebutkan,”Saba’iyah inginkan Ali segera
meninggalkan Bashrah, hingga mereka melakukan perjalanan tanpa meminta izin
kepadanya. Sebab itulah Ali mengikuti jejak mereka, guna menyingkap apa kemauan
mereka, dan itulah yang sebenarnya yang mereka inginkan.”
Al
Asytar dan Ali bin Abi Thalib
Sebagaimana
disebutkan di atas, bahwa dalam barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib ada
kelompok ”provokator”, salah satu dari pemimpin mereka adalah seorang laki-laki
yang bernama Al Asytar An Nakhai. Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa
sebelum meninggalkan Bashrah, Ali bin Abi Thalib menunjuk Ibnu Abbas untuk
”memegang” wilayah itu. Al Asytar An Nakhai tidak menerima keputusan Amir Al Mukminin
tersebut, dengan penuh amarah ia pergi meninggalkan beliau, sebagaimana
tertulis dalam Tarikh At Thabari (5/239).
Bahkan
kelompok Al Asytar sempat juga mengancam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana
tertulis dalam Tarikh At Thabari (6/40), tatkalah salah satu sahabat Al Asytar,
Al Asy’as bin Qais berkata kepada beliau,”Apakah kita hanya memperhatikan
hukuman Al Asytar?” Amir Al Mukminin menjawab,”Apa hukumannya?” Al Asy’as
berkata,”Hukumannya adalah timbulnya peperangan antara kita.” Beliau
menjawab,”Tidakkah ada yang membakar bumi, kecuali Al Asytar?”
Sesampainya
di Kufah, Amir Al Mukminin mengutus sahabat Jarir bin Abdullah Al Bajali kepada
Muawiyah, untuk kembali menyeru agar Muawiyah melakukan baiat, dan memberi
kabar bahwa kalangan Muhajirin dan Anshar telah membaiatnya, sebagaimana
disebut dalam Al Bidayah wa An Nihayah (7/265).
Sekali
lagi, Al Asytar tidak menyukai sikap yang diambil oleh Amir Al Mukminin ini,
dikarenakan kemulyaan akhlak yang dimiliki Jarir. Utusan ini kembali ke Kufah
dengan memberi kabar, bahwa Muawiyah enggan melakukan baiat, dikarenakan belum
ditegakkan hukum hadd kepada si pembunuh Utsman. Jika ditegakkan hadd, maka
beliau bersedia melakukan baiat.
Mendengar
penuturan Jarir, Al Asytar mengatakan kepada Amirul Mukminin, ”Bukankah saya
telah melarangmu untuk mengutus Jarir? Kalau engkau mengutusku, maka Muawiyah
tidak akan membuka pintu, kecuali aku yang menutupnya.”
Mendengar
ucapan Al Asytar, Jarir membalas,”Kalau engkau yang datang, mereka akan
membunuhmu, disebabkan terbunuhnya Utsman.”
Al
Asytar tidak mau kalah, ”Kalau Amir Al Mukminin mematuhiku, maka ia akan
mengurungmu, beserta orang-orang sepertimu, hingga perkara ini menjadi lebih
baik.”. Jarir marah, hingga belau mememutukan untuk keluar dari Kufah, menuju
Firqisiya’ wilayah yang pernah beliau pimpin saat menjadi gubernur di masa
Utsman, kisah ini disebutkan dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah (7/294).
Sikap
buruk yang membuat sahabat Jarir keluar di atas menunjukkn bahwa para pembesar
pembuat fitnah sudah berada dalam tubuh kekhalifahan. Dan peristiwa ini juga
menunjukkan bagaiamana usaha mereka untuk selalu menggagalkan usaha perdamaian.
Bukan Perebutan Kursi Kekuasaan
Ada
pihak yang menilai bahwa perang Shiffin terjadi karena perebutan kekuasaan
antara Ali dan Muawiyah, sayang sekali pandangan ini tidak memiliki dasar kuat
Setelah
kembalinya utusan Amir Al Mukminin dari Syam, dan gamblangnya pendirian
penduduk Syam, bahwa mereka enggan melakukan baiat, kecuali dilaksanakan
hukuman hadd atas pelaku pembunuhan Utsman. Maka, eksistensi kelompok Saba’iyah
semakin terncam, karena merekalah yang berdiri di balik peristiwa tragis itu.
Tidak
ada cara lain bagi mereka, kacuali mendesak Amirul Mukminin untuk menghadapi
Muawiyah. Disebutkan dalam Al Bidayah wa An Nihayah (8/10),”Maka para tokoh
yang secara langsung terlibat pembunuhan Utsman,yang berada di sekitar Ali bin
Abi Thalib, memberi saran, agar beliau memecat Muawiyah dari jabatannya sebagai
gubernur Syam.”
Saat
itu Amir Al Mukminin pun melihat bahwa pelaksanaan hadd tidak bisa dilakukan
kacuali setelah baiat bisa diselesaikan, apalagi para pelakunya berkeliaran di
sekitar beliau dan jumlah mereka pun banyak, ini semakin menyulitkan posisi
beliau.
Mayoritas Umat Tak Menghendaki Perang
Sudah
maklum, bahwa umat Islam di masa peperangan Siffin adalah generasi yang amat
dekat dengan masa Rasulullah (SAW), dimana mereka amat memahami, bagaimana
berinteraksi dengan sesama Muslim, hingga mayoritas umat Islam, baik di Syam
maupun Kufah, bahkan Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib sebenarnya sama-sama
menghindari adanya pertumpahan darah.Hal ini bisa dilihat, bagaimana usaha
mereka dalam berunding, menghindari peperangan dan usaha penduduk Kufah yang
menghalangi jalannya pasukan Khalifah menuju Syam.
Diriwayatkan
dalam Al Bidayah wa An Nihayah (7/267), bahwa Imam Ali telah mengirimkan
pasukan pembuka, yang berjumlah 8 ribu tentara. Pasukan ini menuju Syam dengan
melewati sisi kanan sungai Eufrat, sedangkan pasukan Khalifah melewat sisi
kirinya. Karena khawatir adanya serangan dari Muawiyah, disebabkan sedikitnya
jumlah mereka, maka pasukan ini berancana bergabung dengan pasukan Khalifah di
seberang, dengan melalui penyeberangan di wilayah ‘Anat, akan tetapi apa yang
terjadi, penduduk kota wilayah itu menghalangi mereka. Tidak bisa melalui
‘Anat, pasukan hendak melalui penyeberangan lainnya, yang berada di wilayah
Hiit, akan tetapi, seperti yang sudah-sudah, mereka dihalangi oleh penduduk
setempat. Akhirnya, mereka terlambat, dan bertemu dengan pasukan Ali yang sudah
berada di depan mereka.
Selanjutnya
penduduk Qirqisiya’ menghalangi pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib itu,
sedangkan penduduk Ar Riqah mengumpulkan seluruh perahu mereka dan enggan
membantu pasukan itu menyeberang menuju Shiffin, hingga mereka memutuskan untuk
menyeberang di wilayah Manbaj.
Sikap
Khalifah Ali yang lemah lembut terhadap mereka yang menghalangi perjalanan
pasukannya menunjukkan bahwa tujuan utama bukanlah menumpahkan darah, akan
tetapi melakukan ishlah. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Al Asytar, yang
juga berada dalam barisan yang sama, terhadap mereka yang enggan membantu
penyeberangan ia mengancam”Jika tidak kalian lakukan, aku benar-benar akan
membunuh para laki-laki, merusak tanah atau mengambil harta.” Riwayat ini
termaktub dalam Tarikh At Thabari (5/229).
Awal
mulanya, Khalifah masih mempercayai Al Asytar, karena tidak menilai, bahwa pria
itu adalah salah satu pembunuh Utsman, walau ia adalah salah satu pemimpin
Khawarij. Akan tetapi ada indikasi bahwa akhirnya beliau merubah pandangan
tersebut. Diceritakan Al Hakim dalam Al Mustadrak (3/107), bahwa saat itu,
penduduk Nakha’ berkumpul di dalam rumah Al Asytar. Ali bin Abi Thalib menyeru
kepada mereka,”Apakah di dalam rumah hanya ada Al Asytar?” Mereka menjawab,
”tidak.” Khalifah kembali mengatakan,”Umat ini bersandar kepada kaluarga yang
paling baik, akan tetapi mereka telah membunuhnya (Utsman). Sesungguhnya kami
memerangi Bashrah karena baiat yang kami takwilkan, sedangkan kalian bergerak
menuju sebah kaum yang kami tidak dibaiat oleh mereka (Syam), handaklah setiap
orang melihat, dimana pedang harus diletakkan.”
Dialog
di atas menunjukkan bahwa Amirul Mukminin telah memperingatkan Al Asytar,
mengenai keputusannya untuk pergi ke Shiffin, dan menjelaskan bahwa tidak perlu
dilakukan pertempuran di sebuah wilayah yang tidak terikat oleh Baiat, semisal
Syam.
Niatan
Amirul Mukminin untuk tidak mengutamakan kekuatan senjata didukung dengan
riwayat yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah (8/127)
yang menyebutkan, bahwa Khalifah Ali mengirim utusan ke Damaskus untuk membawa
pesan kepada penduduk Syam, bahwa beliau telah berdiri di atas rakyat Iraq
untuk ingin mengetahui ketaatan penduduk Syam terhadap Muawiyah. Ketika perkara
itu sampai kepada Muawiyah, beliau naik mimbar masjid dan mengatakan kepada
jama’ah,”Sesungguhnya Ali telah berdiri di penduduk Iraq untuk kalian. Apa
pendapat kalian?” Para jama’ah tidak berkata-kata, hingga seorang ada yang
mengatakan,”Anda yang berfikir, kami yang melaksanakan.” Akhirnya Muawiyah
memerintahkan agar mereka bersiap-siap membentuk pasukan menjadi 3 bagian.
Setelah
itu, kembalilah utusan menuju Khalifah Ali bin Abi Thalib lalu mengabarkan, apa
yang terjadi di Syam. Ali akhirnya naik mimbar dan mengatakan kepada
jama’ah,”Muawiyah telah mengumpulkan pasukan untuk memerangi kalian, apa
pendapat kalian?” Semua hadirin terheran dan berbiacara satu sama lain.
Khalifah Ali akhirnya turun dari mimbar, dengan mengatakan,”la haula wa la
quwwata ila billah.”
Kenapa Ali Tak Segera Menghukum Para Pembunuh
Utsman?
Ibnu
Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah (7/242) setelah menjelaskan, bahwa kaum
yang ikut serta membunuh Utsman termasuk kelompok awal yang ikut mambaiat Ali
bin Abi Thalib, beliau mengatakan,”Padahal Ali membenci mereka, dan berusaha
menghindar dari kelompok tersebut serta sangat menginginkan agar beliau bisa
menundukkan mereka, hingga hak Allah bisa ditegakkan hak Allah (yakni hukuman
hadd).”
Disebutkan
juga oleh Ibnu Katsir bahwa, setelah Ali dibaiat, para tokoh sahabat beserta
Thalhah dan Zubair menemui beliau dan meminta agar dilaksanakan hukuman kepada
para pembunuh Utsman. Ali menyatakan udzur untuk melaksanakan hal itu di waktu
itu, karena kekuatan mereka yang besar dan memiliki pendukung. Bahkan Ali
meminta kepada Zubair untuk memerintah Kufah dan Thalah untuk memerintah
Bashrah, dan beliau siap membekali keduanya dengan pasukan, agar bisa
memperkuat dalam menghadapi kekuatan kaum Khawarij.
Akhirnya,
para sahabat, termasuk Thalhah dan Zubair mendatangi lagi Ali, setelah menunggu
beberapa waktu dan melihat Khalifah belum melakukan ”apa-apa” untuk menghukum
kaum Khawarij. ”Wahai saudaraku, bukannya saya tidak mengerti masalah itu, akan
tetapi apa yang mampu saya perbuat atas sebuah kaum yang menguasai kita akan
tetapi kita tidak menguasa mereka? Mereka berada di sekitar kalian, sesuka hati
mereka, apakah kalian melihat ada peluang untuk melakukan hal yang kalian
inginkan?” Mereka menjawab,”Tidak”. Ali mengatakan,”Tidak, demi Allah saya
tidak melihat, kacuali apa yang telah kalian lihat insyaallah.”
Jelas,
dari penjelasan di atas, tidak diragukan lagi, Ali sendiri berkeinginan untuk
menegakkan hadd kepada para pembunuh Utsman, tapi beliau merasa kesulitan,
karena mereka sendiri berada di sekeliling khalifah, dan kekuatan mereka tidak
bisa diremehkan, hingga para sahabat pun mengakui hal tersebut.
Upaya Perdamaian di Shiffin
Setelah
pasukan Syam dan Kufah sampai di wilayah Shiffin, kedua pihak mengambil posisi
masing-masing. Utusan keduanya sibuk melakukan perundingan, dengan mengharap
pertempuran bisa terhindar.
Dalam
Al Bidayah wa An Nihayah (7/272) disebutkan bahwa Abu Muslim Al Khaulani
beserta beberapa orang mendatangi Muawiyah dengan mengatakan,”Apakah engkau
melawan Ali ataukah engkau juga sepertinya?” Muawiyah menjawab, ”Demi Allah,
sesungguhnya aku benar-benar mengatahui kalau ia (Ali) lebih baik dariku, lebih
utama dan lebih berhak dalam masalah ini (kekhalifahan) daripada aku. Akan
tetapi bukanlah kalian mengetahui bahwa Utsman terbunuh dengan keadaan
terdhalimi, sedangkan saya adalah sepupunya yang berhak meminta keadilan.
Katakan kepadanya, agar ia menyerahkan pembunuhnya, maka saya menyerahkan
persoalan ini kepadanya.
Diriwayat
yang lain juga disebutkan, bahwa Abu Darda’ dan Abu Umamah mendatangi Muawiyah,
dengan isi percakapan yang hampir sama dengan riwayat sebelumnya. Setelah itu
keduanya kembali kepada Ali bin Abi Thalib, dan beliau mengatakan,”Mereka
adalah orang-orang yang kalian maksudkan.” Maka keluarlah banyak orang, dan
mengatakan,”Kami semua yang telah membunuh Utsman, siapa yang berkehendak maka
silahkan dia melemparkan kami.”
Dalam
Minhaj As Sunnah (4/384) juga dinukil bagaimana sikap para pendukung Muawiyah,
mangapa mereka tidak membaiat Ali.”Kami jika membaiat Ali, maka pasukannya akan
mendhalimi kami, sabagaimana mereka mendhalimi Utsman, sedangkan Ali tidak
mampu melakukan pembelaan terhadap kami.”
Dari
periwayatan di atas semakin jelas, bahwa memang kedua belah pihak, baik Ali dan
Muawiyah tidak berselisih mengenai jabatan kekhalifahan, dan keduanya memang
tidak bermaksud menyerang satu sama lain, kecuali pihak pengikut Saba’iyah yang
berada di barisan Amirul Mukminin, yang selalu menginginkan adanya konflik
antara Ali dan Muawiyah. Dan Muawiyah tetap berdiri tegak guna melawan para
pengiku Abdullah bin Saba’ yang berada dalam pasukan Khalifah.
Khawarij yang Berbalik ”Menikam” Khalifah
Berbagai
upaya menghentikan peperangan dilakukan kedua belah pihak, tapi kaum Saba’iyah
terus berusaha memantiknya
Para
utusan terus melakukan perundingan, dan pasukan kedua belah pihak sama-sama menahan
diri untuk melakukan serangan, hingga berakhirnya bulan-bulan haram di tahun
itu (37 H). Pasukan Kufah menyeru kepada pasukan Syam, ”Amir Al Mukminin telah
menyeru kepada kalian, aku telah memberi tenggang waktu untuk kalian, agar
kembali kepada al haq, dan saya telah menegakkan atas kalian hujah, akan tetapi
kalian tidak menjawab…”
Pasukan
Syam menjambut seruan itu, dengan mempersiapkan diri di shafnya masing-masing.
Pada hari Rabu, tanggal 7 pada bulan Safar, pertempuran berlangsung pada hari
Rabu, Kamis, Jumat serta malam Sabtu. Dalam Al Aqdu Al Farid (4/3140)
disebutkan bahwa kdua pihak bersepakat bahwa mereka yang terluka harus
dibiarkan, begitu pula mereka yang melarikan diri tidak boleh dikejar, mereka
yang meletakkan senjata akan aman, tidak boleh mengambil benda milik mereka
yang meninggal, serta mereka mendoakan dan menshalati jenazah yang berada di
antara kedua belah pihak.
Mayoritas
sahabat tidak ikut serta dalam pertempuran ini. Pada saat itu jumlah mereka
sekitar 10 ribu, akan tetapi yang ikut serta tidak lebih dari 30 sahabat saja,
sebagaimana riwayat yang disebutkan dalam Minhaj As Sunnah (6/237).
Riwayat
mengenai jumlah pasukan yang terbunuh di kedua belah pihak berbeda satu sama
lain, akan tetapi Ibnu Katsir menyebutkan dalam Al Bidayah wa An Nihayah
(7/288) bahwa pasukan Kufah berjumlah 120 ribu orang, terbunuh 40 ribu,
sedangkan pasukan Syam berjumlah 60 ribu, dan yang terbunuh dari mereka 20 ribu
orang.
Terbunuhnya Amar bin Yasir
Peristiwa
terbunuhnya sahabat Amar bin Yasir dalam pertempuran Shiffin memberi pengaruh
amat besar bagi kedua belah pihak, dimana sebelumnya Rasulullah (SAW) telah
berkata kepada Amar, bahwa ia tidak meninggal, kecuali terbunuh di antara dua
kelompok orang-orang mukmin, sebagaimana disebutkan Al Bukhari dalam Tarikh As
Saghir (1/104).
Sedangkan
Amru bin Ash, sahabat yang bergabung dalam barisan Muawiyah pernah mendengar
bahwa Rasulullah bersabda mengenai Amar bin Yasir, sebagaimana termaktub dalam
Al Majma’ Az Zawaid (7/244) ”Sesungguhnya orang yang membunuh dan mengambil
hartanya (sebagai ghanimah) akan masuk neraka.” Lalu ada yang mengatakan
kepadanya,”Sesungguhnya engkau yang memeranginya!” Amru bin Ash
menjawab,”Sesungguhnya yang disabdakan adalah pembunuh dan perampas hartanya.”
Hadits
di atas menunjukkan bahwa memang kedua belah pihak mengetahui keutamaan masing,
masing dan tidak ada kesengajaan untuk berniat saling membunuh.
Meninggikan Mushaf
Bisa
dikatakan bahwa peristiwa penting dalam perang Shiffin adalah pangangkatan
tinggi-tinggi mushaf Al Qur`an, hingga pertempuran itu berakhir. Disebutkan
dalam beberapa periwayatan bahwa ketika pertempuran berlangsung amat sengit
banyak para ulama yang menyeru, baik dalam barisan pasukan Syam maupun
Kuffah,”Jika kita besok baru berhenti (bertenpur) maka Arab akan sirna, dan
hilangnya kehormatan…”
Muawiyah
yang juga mendengar khutbah itu membenarkan,”Benar, demi Rabb Ka’bah, jika kita
masih berperang esok, maka Romawi akan mengincar para wanita dan keturunan
kita. Sedangkan Persia akan mengincar para wanita dan ketururnan Iraq. Ikatlah
mushaf-mushaf di ujung tombak kalian.”
Maka
saat itu, pasukan Syam menyeru,”Wahai pasukan Iraq diantara kami dan kalian
adalah Kitabullah!” Muawiyah memerintahkan seorang utusan untuk menghadap
kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, ”Iya, diantara kami dan kalian adalah
Kitabullah, dan kami telah mendahulukan hal itu.” Jawab beliau.
Akan
tetapi, sebagaimana yang terjadi sebelumnya, para pengikut Abdullah bin Saba’
enggan menerima usulan untuk berdamai, mereka ingin agar Khalifah Ali meneruskan
pertempuran. Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (8/336) bahwa
kaum Khawarij mendatangi Ali bin Abi Thalib, dengan pedang di atas pundak
mereka,”Wahai Amir Al Mukminin, tidakkah sebaiknya kita menyongsong mereka,
hingga Allah memberi keputusan antara kita dan mereka.” Usulan ini ditentang
keras oleh sahabat Sahl bin Hunaif Al Anshari. ”Tuduhlah diri kalian! Kami
telah bersama Rasulullah (SAW) saat peristiwa Hudaibiyah. Kalau sendainya kami
berpendapat akan berperang, maka kami perangi (tapi kenyataannya mereka tidak
berperang)”
Sahl
juga menjelaskan bahwa setelah perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu
turunlah surat Al Fath kepada Rasulullah (SAW). Ali bin Abi Thalib pun
menyambut pendapat Sahl, ”Wahai manusia, ini adalah fath (hari pembebasan).”
Seru Ali bin Abi Thalib, akhirnya pertempuran itu pun berakhir.
Peristiwa Tahkim
Tahkim
adalah penunjukkan dua pihak yang berselisih terhadap seseorang yang adil,
dengan tujuan agar memberi keputusan terhadap dua pihak tersebut. Kedua pihak
yang terlibat pertempuran Shiffin, yakni Ali dan Muawiyah telah sepakat memilih
Abu Musa Al Asy’ari untuk menjadi penengah. Sesuai dengan yang ditulis oleh
Ibnu Hibban dalam At Tsiqat (2/293), hasil tahkim berisi, bahwa Ali bin Abi
Thalib ditetapkan membawahi wilayah Iraq dan penduduknya, sedangkan Muawiyah
ditetapkan membawahi wilayah Syam beserta para penduduknya, tidak ada
penggunaan senjata, dan hal ini berlaku dalm satu tahun. Jika sudah melewati
masanya, kedua belah pihak bisa menolaknya, atau bisa memperpanjang. Dari
kandungan tersebut, bisa disimpulkan bahwa Muawiyah tidak ada keharusan untuk
membaiat Ali, bagitu juga Ali, tidak ada keharusan untuk menghukum pembunuh
Utsman.
Dengan
demikian, tidak ada lagi peperangan antara Syam dan Iraq, Muawiyah tetap tidak
membaiat Ali, dan Ali pun tetap tidak menghukum para pembunuh Utsman. Dan
konflik pun bergeser antara Khalifah Ali dengan Kaum khawarij, yang semula
menjadi pendukung Amir Al Mukminin, yang tidak menyukai perdamaian antara Iraq
dan Syam. Lantas mereka mengisukan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak
setuju dengan hasil yang telah diputuskan.Hingga akhirnya beliau
menegaskan,”Barang siapa mengira bahwa aku tidak setuju dengan hasil tahkim,
maka ia telah berbohong, barang siapa berfikiran demikian maka ia telah sesat.
Akhirnya kaum Khawarij keluar dari masjid, dengan mengatakan,”la hukma illa
lillah”, atau tidak ada hukum selain hukum Allah. Sehingga ada yang mengatakan
kepada Khalifah,”Mereka telah keluar dari ketaatan terhadapmu.”Saya tidak akan
memerangi mereka, hingga mereka memerangi kami, dan mereka akan melakukannya.”
Hal ini disebutkan Ibnu Abdi Rabbih dalam Al Aqdu Al Farid (2/218).
Gerakan
Khawarij tidak berhenti sampai di sini, mereka masih tetap bernafsu tidak hanya
membunuh Muawiyah, tapi membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib serta Amru bin
Ash. Ali bin Abi Thalib menjadi incaran, karena mereka merasa bahwa kedok
mereka sudah terbuka secara sempurna dihadapan Khalifah, dan tidak ada yang
bisa ditutupi dari gerakan mareka. Dan pembunuhan itu masih belum sempurna,
kacuali jika menyertakan Muawiyah dalam terget serupa. Sedangkan Amru bin Ash
ikut menjadi target, karena beliau adalah musuh pertama kelompok ini, di saat
beliau berkuasa di Mesir, sehingga jika beliau tidak dibunuh, maka keberadaan beliau
juga berpotensi untuk mengancam gerakan kelompok ini, beliau tidak ada bedanya
dengan Muawiyah.
Ditugaskan
tiga orang, untuk membunuh tiga sahabat mulia itu, Ibnu Muljim, sahabat dekat
Ibnu Saba’ dari kalangan Khawarij menyerang Ali bin Abi Thalib di malam ke 17
dari bulan Ramadhan tahun 40 H, dengan menebaskan pedang, hingga mengenai
kening beliau. Setelah bertahan selama dua hari, Khalifah Ali bin Abi Thalib
akhirnya wafat. Sedangkan Al Burk bin Abdullah Al Khariji, yang bertugas
membunuh Muawiyah malah terbunuh terlebih dahulu oleh beliau, dengan pedangnya
sendiri. Sedangkan Amru bin Bukair yang ditugaskan membunuh Amru bin Ash, malah
membunuh salah satu petugas, yang disangkanya sasarannya, hingga kedua sahabat
itu selamat dari pembunuhan.
Inilah
peristiwa beruntun yang dilakukan kelompok Abdullah bin Sabba’ terhadap para
sahabat mulia, hingga terjadi fitnah besar yang menyebabkan bertumpahnya banyak
darah. Mudah-mudahan umat Islam bisa mengambil ibrah dari rentetan peristiwa
ini. Allahu’alam bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar