BERKATA BAIK ATAU DIAM
A.
Firman Allah SWT :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita
(mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang
diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu
mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar
yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman
dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang
dhalim. (11)
Hai orang-orang
yang beriman, jauhkanlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain
dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah
seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (12) [QS. Al-Hujuraat : 11-12]
B.
Hadits-hadits Nabi SAW :
Dari Abu Bakar RA,
sesungguhnya Rasulullah SAW dalam khutbahnya pada hajji wada’ beliau bersabda,
“Sesungguhnya darah kalian, harta benda dan kehormatan kalian adalah haram atas
kalian seperti hari kalian ini di dalam bulan kalian ini dan di dalam negeri
kalian ini. Ketahuilah, bukankah aku sudah menyampaikan ?”. [HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
Dari Abu Hurairah
RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang Islam atas orang Islam
yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan harta bendanya”. [HR. Muslim dan Tirmidzi]
Dari Al-Barra’ bin
‘Azib, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua
pintu, yang paling kecil (dosanya) seperti (dosanya) seorang laki-laki yang
menyetubuhi ibunya, dan sesungguhnya sebesar-besar riba ialah seseorang yang
terus-menerus (menjatuhkan) kehormatan saudaranya”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath]
Dari Sa’id bin Zaid
RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya termsuk sebesar-besar riba
ialah terus-menerus (menjatuhkan) kehormatan orang Islam tanpa alasan yang
benar”. [HR. Abu Dawud]
Dari ‘Aisyah RA, ia
berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para shahabat, “Tahukah kalian
sebesar-besar riba di sisi Allah ?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
sebesar-besar riba di sisi Allah ialah menganggap halal (menjatuhkan)
kehormatan orang Islam”. Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat : Walladziina
yu’dzuunal-mu’miniin wal mu’minaati bi ghairi maktasabuu fodihtamaluu buhtaanaw
wa itsmam mubiina [QS. Al-Ahzab : 58] (Dan orang-orang yang menyakiti orang
mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan tanpa kesalahan yang mereka
lakukan, maka sungguh mereka telah berbuat buhtan (kebohongan) dan dosa yang
nyata). [HR. Abu Ya’la, para perawinya
perawi shahih]
Dari ‘Aisyah RA, ia
berkata : Saya pernah berkata kepada Nabi SAW, “Cukup bagimu dari Shafiyah
begini dan begitu”. Sebagian orang-orang yang meriwayatkan mengatakan : Yang
dimaksud ‘Aisyah ialah, “Ia wanita yang pendek”. Maka Rasulullah SAW bersabda,
“Sungguh kamu telah mengatakan suatu kalimat seandainya dicamput dengan air
laut sungguh air laut itu menjadi keruh”. Dan ‘Aisyah pernah berkata, “Saya
pernah menceritakan tentang seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda, “Aku
tidak suka menceritakan (keburukan) seseorang meskipun akan mendapatkan upah
sekian dan sekian”. [HR. Abu Dawud,
Tirmidzi dan Baihaqi, Tirmidzi berkata : Hadits, hasan shahih]
Dari ‘Aisyah RA
juga, ia berkata : Sesungguhnya untanya Shafiyah binti Huyaiyyin sedang sakit,
sedang Zainab mempunyai kelebihan kendaran. Maka Nabi SAW bersabda kepada
Zainab, “Berikanlah onta kepadanya !”. Lalu (Zainab) menjawab, “Saya disuruh
memberi kepada wanita Yahudi itu !”. Kemudian Nabi SAW meninggalkan Zainab pada
bulan Dzulhijjah, Muharram dan sebagian bulan Shafar. [HR. Abu Dawud]
Dari Abu Hurairah
RA, ia berkata : Dahulu ketika kami di sisi Nabi SAW, ada seorang laki-laki
berdiri. Lalu orang-orang sama berkata, “Ya Rasulullah, alangkah sangat loyonya
si fulan itu !”. Atau mereka berkata, “Alangkah sangat lemahnya orang itu”.
Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah kepada teman kalian dan
kalian telah makan dagingnya”. [HR. Abu Ya’la, dan Thabrani meriwayatkan dengan
lafadhnya], sesungguhnya ada seorang laki-laki berdir di sisi Nabi SAW, maka
orang-orang melihat ketika dia berdiri itu dalam keadan loyo. Mereka berkata,
“Alangkah sangat loyonya si fulan itu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalian
telah makan saudaramu dan kalian telah berbuat ghibah kepadanya”.
Dari ‘Amr bin
Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya orang-orang menyebutkan tentang
seorang laki-laki di sisi Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, “Orang itu tidak
makan sehingga ia diberi makan, dan ia tidak punya tempat tinggal hingga diberi
tempat tinggal”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah
kepadanya”. Lalu mereka menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami hanya
menceritakan apa adanya”. Rasulullah SAW bersabda, “Cukup bagimu (dikatakan
berbuat ghibah) apabila kamu menyebutkan saudaramu dengan apa yang ada padanya”. [HR. Al-Ashbihaniy dengan sanad hasan]
Dari Abu Hurairah
RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (kepada para shahabatnya), “Tahukah
kalian apakah ghibah itu ?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang
lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “(Ghibah) ialah kamu menyebut tentang
saudaramu dengan apa-apa yang dia tidak suka”. Ada yang bertanya kepada beliau,
“Bagaimana pendapat engkau jika keadaan saudaraku itu memang betul-betul
seperti apa yang aku katakan ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Jika keadaan
saudaramu itu betul seperti apa yang kamu katakan, maka sungguh kamu telah
berbuat ghibah kepadanya. Dan jika apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya,
maka berarti kamu telah berbuat buhtan (kebohongan) kepadanya”. [HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai]
Dari ‘Amr bin ‘Ash
RA, bahwasanya dia pernah melewati seekor bangkai baghal, lalu dia berkata
kepada sebagian shahabat-shahabatnya, “Sungguh seseorang makan bangkai ini
sehingga memenuhi perutnya itu lebih baik baginya dari pada ia makan daging
(menggunjing) seorang muslim”. [HR.
Abusy-Syaikh Ibnu Hibban]
Dari Abu Huriarah,
ia berkata : Telah datang seorang laki-laki (dari suku) Aslam kepada Rasulullah
SAW lalu dia bersaksi atas dirinya sendiri bahwa dia berbuat zina. Dia bersaksi
empat kali. Ia berkata, “Saya menyetubuhi wanita secara haram”. Setiap ia
mengatakan yang demikian itu, Rasulullah SAW berpaling darinya. Lalu aku
menyebutkan cerita itu sehingga beliau bertanya, “Apa yang kamu inginkan dengan
cuapan ini ?”. Orang itu menjawab, “Saya menginginkan supaya engkau
membersihkan diriku”. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan supaya ia dirajam.
Lalu orang tersebut dirajam. Kemudian Rasulullah SAW mendengar ada dua orang
laki-laki Anshar, salah satunya berkata kepada temannya, “Lihatlah kepada orang
ini yang Allah telah menutupinya, tetapi ia tidak membiarkan dirinya, sehingga
ia dirajam seperti anjing yang dilempari batu”. (Abu Hurairah) berkata :
Rasulullah SAW diam saja. Sebentar kemudian beliau berjalan (bersama para
shahabat), lalu melewati bangkai himar di dekat kaki beliau. Maka beliau
bersabda, “Mana si fulan dan si fulan itu ?”. Mereka menjawab, “Ini kami ya
Rasulullah”. Beliau bersabda kepada kedua orang itu, “Makanlah bangkai himar
ini !”. Mereka berdua menjawab, “Ya Rasulullah, semoga Allah mengampuni engkau.
Siapa yang mau memakan bangkai himar ini ?”. Lalu Rasulullah SAW bersabda,
“Apa-apa yang kamu dapat dari (menjelek-jelekkan) kehormatan orang laki-laki
tadi adalah lebih buruk dari makan bangkai himar ini. Dan demi Allah yang
jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (orang laki-laki yang telah dirajam
itu) sekarang sedang berendam di sungai surga”. [HR. Ibnu Hibban di dalam shahihnya]
Dari Abu Umamah RA,
ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang diberi kitab
catatannya dengan terbuka”. Maka orang itu bertanya, “Ya Tuhanku, mana catatan
kebaikan ini dan itu yang telah saya kerjakan, koq tidak ada di sini ?”.
Kemudian Allah menjawab, “(Kebaikan-kebaikanmu) terhapus oleh perbuatan
ghibahmu kepada orang lain”. [HR.
Al-Ashbihaniy]
Dari ‘Utsman bin
‘Affan RA, ia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ghibah
dan Namimah (adu-adu) itu bisa meruntuhkan iman sebagaimana seorang penggembala
yang menebang pohon”. [HR.
Al-Ashbihaniy]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar