Kamis, 12 Maret 2015

NATIIJAH DIIN


NATIIJAH DIIN (BUAH DIEN)

            Semua manusia ingin agar hidupnya senang, bahagia, mulya, tenteram, sejahtera, jaya, sukses, selamat,  baik di dunia maupun akhirat. Sebaliknya tidak ada satu orangpun yang ingin hidupnya susah, menderita, hina, celaka, baik di dunia apalagi di akhirat. Dalam rangka memenuhi keinginannya tersebut, manusia berusaha dan berjuang (juhud) dengan cara yang berbeda-beda, antara lain, dengan menaikkan taraf hidup (harta, tahta, wanita; jabatan, pengaruh, rumah, perhiasan, kekuasaan, anak dan fasilitas-fasilitas lainnya).  Dengan naiknya taraf hidup tersebut manusia merasa  bahwa inilah kemuliaan, dengan ini nanti akan bahagia, aman, tenteram, jaya, sukses, dan seterusnya. Ringkasnya dengan meyakini hal-hal yang serba musyahadah.  Ada pula dalam memenuhi keinginannya tersebut di atas, manusia tidak meyakininya hal-hal yang serba musyahadah seperti di atas, tetapi meyakini hal-hal yang tidak nampak atau yang ghoib.  Dari berbagai macam usaha dan perjuangan tersebut bila diringkas dapat dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu, usaha dan berjuang atas :
1.      Jalan kebendaan
2.      Jalan Iman dan Amal Shaleh.

Usaha dan perjuangan manakah yang akan mengundang kebahagiaan, ‘Izzah (kemuliaan), keamanan, pertolongan Allah SWT, dicintai sesama, ketinggian derajat, berkah (mendapat keberkahan dari Allah SWT.), kehidupan yang baik, kesejahteraan dan rasa tenang, bebas dari rasa gelisah dan kesusahan, sukses dunia dan akhirat? Marilah kita kaji bersama-sama.
            Telah sama kita ketahui, bahwa rasa senang, bahagia, tentram, …dan lain sebagainya, letaknya adalah di hati (jiwa). Marilah kita amati kenyataan yang terjadi antara keadaan dunia seseorang dengan keadaan hidupnya/ jiwanya.

NO.
KEADAAN  DUNIA
KEADAAN  JIWA
C O N T O H
1.
(+) = Serba Lebih..
(+) = Bahagia
N. Sulaiman AS, N. Dawud AS,    N. Yusuf AS, Sh. Abdurrahman   bin Auf, dan lain-lain
2.
(+) = Serba Lebih..
(-) = Menderita
Fir’aun, Qorun, Namrud, Abu Jahal, dan lain-lain
3.
(-) = Minim…….
(+) = Bahagia
Hampir rata-rata para Nabi, Sh.Bilal, dan lain-lain
4.
(-) = Minim………
(-) = Menderita
Yahudi Miskin (*)

            Logika manusia mudah untuk memahami apa yang terjadi pada nomor 1 (satu) yaitu, dengan dunia : orang bahagia,…  dan nomor 4 (empat) yakni, bila dunianya pas-pasan (minim) orang tidak bahagia,…  padahal kenyataan yang terjadi nomor 2 (dua) bahwa, dunia yang yang serba lebih tetapi dalam hidupnya sengsara sampai-sampai orang kafir pun tidak berani memberi nama anaknya dengan nama Fir’aun, Namrud, Qorun, dan lain-lain karena mereka tahu bahwa nama-nama tersebut hidupnya tidak bahagia padahal dalam keadaan ditunggui macam dunia apapun. Begitu pula nomor 3 (tiga); ibarat tanpa dunia tetapi hidupnya bahagia, maka banyak manusia memberi nama anaknya sebagaimana nama-nama para Nabi yang rata-ratanya tidak disertai dengan asbab dhohir.
            Dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di atas, orang bisa bahagia dalam keadaan dunianya serba lebih, orang bisa bahagia dalam keadaan dunianya serba minim. Karena memang Allah SWT tidak meletakkan kebahagiaan, kemuliaan, keselamatan,…   pada ada atau tidak adanya dunia, tetapi Allah SWT meletakkan itu semua pada pemenuhan terhadap Diin. Inilah Jalan Iman dan Amal Sholeh. Namun Diin yang Mathlub (yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya), bukan Diin yang maujud (yang seadanya).

            Apabila manusia menghendaki :
1.      Kebahagiaan, maka Allah SWT hanya berikan kepada orang-orang yang menempuh jalan Iman dan Amal Sholeh.
الذين أمنوا وتطمئن قلوبهم بذكرالله  ألا بذكرالله تطمئن القلوب {الرعد : 28}
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram”. (QS. Huud, 13 : 18).
قد أفلح المؤمنون . ألذين هم في صلاتهم خاشعون .{المؤمنون : 1 – 2}
Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”.
(QS. Al-Mu’minuun, 23 : 1 – 2).

2.      Kemuliaan, hanya terdapat pada orang yang beriman
ولله العزة ولرسوله و للمؤمنين ولكن المنفقين لا يؤمنون. {المنفقون : 8}
Artinya : “…Padahal kemuliaan (‘Izzah) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin tetapi orang-orang munafiq itu tiada mengetahui”. (QS. Al-Munafiquun, 63 : 8).

3.      Keamanan, hanya Allah SWT  berikan kepada orang-orang yang beriman.
ألذين أمنوا ولم يلبسوا إ يمانهم بظلمهم أولــئـك لهم الأمن وهم مهتدون.{الأنعام : 82}
Artinya : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedholiman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’aam , 6 : 82)

4.      Pertolongan Allah, hanya Allah SWT  berikan kepada orang yang beriman.
إنالننصر رسلنا والذين أمنوا فىالحيات الدنيا ويوم يقوم الأشهاد. {مؤمن : 51}

Artinya : “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (QS. Mu’min, 40  : 51).
ولقد أرسلنا  من قبلك رسلا إلى قومهم فجاء وهم بالبينات فانتقمنا من الذين أجرموا وكان حقا علينا نصر المؤمنين. {الروم : 47}. 
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan, lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”.
(QS. Ar-Ruum, 30 : 47).
ولينصرن  الله من ينصره  إن الله لقوي عزيز. {الحج : 40}.
Artinya : “ … Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong Agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj, 22 : 40).

5.      Ketinggian Derajat, hanya Allah SWT. berikan kepada orang-orang yang beriman.
ولا تهنوا ولا تحزنوا  وانتم الأعلون  إن كنتم مؤمنين. {ال عمران : 39}.
Artinya : “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali ‘Imraan, 3 : 39)

6.      Dicintai sesama, hanya terdapat pada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
إن الذين أمنوا وعمل الصالحات  سيجعل لهم الرحمن ودا. {مريم : 98}
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa cinta  (kasih sayang)”. (QS. Maryam, 19 : 96).

7.      Keberkahan dari Allah,  hanya Allah SWT  janjikan dan berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
ولو أن أهل القرى  أمنوا وا تقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء  والأرض  ولكن كذبوا  فأخذنهم بما كانوا  يكسبون. {الأعراف : 96}.
Artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al-A’raaf, 7 : 96).

8.      Kehidupan yang baik, hanya Allah SWT  berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
من عمل صالحا من ذكر  أو أنثى وهو مؤمن  فلنحيينه  حيوة  طيبة  ولنجزينهم  أجرهم  باحسن  ما كانوا يعملون. {النحل : 97}.
Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl, 16 : 97).

9.      Kesejahteraan, rasa tenang, bebas dari kegelisahan dan kesusahan, hanya Allah SWT  berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
ألا  إن الياء  الله لا خوف  عليهم ولاهم يحزنون.  ألذين أمنوا وكانوا يتقون.  لهم البشرى  فى الحياة الدنيا  وفى الأخرة. لا تبديل  لكلمات الله  ذلك هو الفوز العظيم. {يونس : 62 – 63}
Artinya : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus, 10 : 62– 64).

            Jalan bahagia dengan menyandarkan atas Mulk dan Maal (atau pemenuhan adanya dunia) itu hanya perkiraan manusia yang sifatnya sangat relatif. Allah SWT bisa pakai dunia sebagai alat untuk memberikan manfaat kepada manusia atau madlorot bagi manusia. Allahu Shamad Itu semua tergantung mutlak pada Allah SWT.
            Sama-sama dunianya serba lebih (penuh dengan asbab dhohir) tetapi berbeda antara :
-          Fir’aun, Qorun dengan Nabi Sulaiman A.S, Nabi Daud A.S.
-          Haman dengan Nabi Yusuf A.S.
-          Abu Jahal dengan Sh. Abdurrahman bin Auf R.A.

Bila manusia menempuh jalan iman dan amal shaleh, maka manusia langsung mengambil manfaat dari Qudrat (Kuasa) Allah SWT.. Untuk itu Allah Kuasa menggunakan segala macam perbendaharaan  (Khazanah Allah)  baik yang nampak (dhohir) berupa : benda mati (air, tanah, angin,…dan lain-lain) dan makhluk hidup (Khidzir-khidzir masa kini) maupun yang tidak nampak (Ghoib), misal : Malaikat.
            Berikut ditunjukkan beberapa contoh bagaimana hasil dari beliau-beliau yang menempuh Jalan Iman dan Amal shaleh, antara lain :

1.   Kisah Maryam

Dalam QS. Ali ‘Imran, 3 : 37  diceritakan bahwa setiap Nabi Zakaria A.S. masuk ke dalam Mihrab Siti Maryam, selalu didapatinya makanan, padahal Siti Maryam tidak memasak dan tidak pula keluar untuk mencarinya. Sebagaimana firman Allah SWT :
...كلما دخل عليها زكريا المحراب.  وجد عندها رزقا. قال يا مريم  أنى لك هذا   قلت هو من عندالله   إن الله يرزق من يشاء  بغير  حساب. {ال عمران : 37}.
Artinya : “…Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata : “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?”. Maryam menjawab : “Makanan ini dari sisi Allah (Min ‘Indillaah)”. Sesungguhnya  Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.
(QS. Ali ‘Imran , 3 : 37).

Ada sementara orang berpendapat bahwa makanan tersebut dikirim oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya.
Bantahan : Bila memang demikian halnya (dikirim oleh seseorang), berarti bukan Min ‘Indillaah (dari sisi Allah). Padahal jika kisah tersebut diabadikan oleh Allah SWT  di dalam Al-Qur’an, tentulah peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang luar biasa menurut ukuran manusia dan bukan kejadian yang lumrah.

2.   Kisah Nabi Musa A.S.

Allah tolong Nabi Musa A.S. dan anak buahnya (Bani Isra’il) sampai ke tepi laut  karena dikejar-kejar oleh Fir’aun dan pasukannya, maka Nabi Musa A.S. diperintahkan oleh Allah SWT  untuk memukulkan tongkatnya ke laut, maka terbelahlah lautan itu menjadi dua. Kemudian lewatlah Nabi Musa dan anak buahnya dan selamatlah mereka, sedang ketika Fir’aun dan pasukannya lewat, Nabi Musa A.S. memukulkan tongkatnya sekali lagi atas perintah Allah SWT., sehingga tenggelamlah mereka.
(QS. Asy Syu’ara:61-63)
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa lautan yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak begitu dalam, maka pemukulan tongkat ke laut itu sebenarnya terbatas hanya untuk mengukur kedalaman laut (menjajagi = Jw) mana yang dangkal dan mana yang tidak, kemudian dilewatinya.

Bantahan : Jika demikian halnya, sungguh sangat bodoh jika Fir’aun la’natulloh ‘Alaihi beserta pasukannya melewati lautan yang dalam sehingga terbenam, sementara Nabi Musa A.S. selamat karena dapat dengan tepat memilih lautan yang dangkal. Sungguh suatu analisa dari keberuntungan dan “kebetulan” yang menggelikan.

3.   Kisah Nabi Ibrahim A.S.

Nabi Ibrahim A.S.  ditangkap oleh anak buah Raja Namrud karena menghancurkan berhala-berhalanya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar, namun api menjadi dingin atas perintah Allah SWT, maka Nabi Ibrahim pun selamat. Peristiwa ini tercantum dalam QS. Al-Anbiyaa’, 21 : 68–69
قالوا  حرقوه  وأنصروا  ألهتكم  إن كنتم فاعلين .  قلنا يا نار كوني  بردا وسلما  على  إبراهيم. {الأنبياء : 68 –69} .
Artinya : “Mereka berkata : “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman : “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (QS. Al-Anbiyaa’, 21 : 68 –69).

Sekali lagi, bagi sementara orang yang menolak adanya Mu’jizat para Nabi (faham rasionalis murni) berpendapat bahwa yang dimaksud api dalam ayat itu adalah api fitnah bukan api yang sebenarnya.

4.   Kisah Nabi Muhammad SAW.
Ketika Nabi Muhammad SAW  hijrah ke Madinah, beliau SAW  bersembunyi bersama Sh. Abu Bakar  RA. di Gua Tsur. Dan ternyata ada dari para pengejarnya yang mencurigai gua tersebut dan akan memasukinya. Tetapi atas kehendak Allah SWT , tiba-tiba di pintu gua tersebut terdapat laba-laba yang sedang membuat rumahnya dan tampak bahwa rumah laba-laba tersebut masih utuh, sehingga mereka berkeyakinan bahwa tidak mungkin ada yang masuk ke dalam gua tersebut, sebab jika memang ada orang yang masuk ke dalam gua, tentunya rumah laba-laba itu sudah terlihat rusak. Maka kembalilah rombongan pengejar tersebut.

5.   Peristiwa Perang Khondak.
Pada waktu Rasulullah SAW dan para shahabat menggali parit di sekeliling kota Madinah, semua merasa lapar dan payah, namun pekerjaan tetap harus diteruskan. Untuk memasak makanan sudah tidak memungkinkan lagi karena pada waktu itu sedang krisis pangan. Tatkala Nabi SAW  sedang beristirahat, ada salah seorang shahabat yang bernama Sh. Jabir RA.  Yang membisikkan khusus kepada Nabi SAW, bahwa ia dan istrinya berniat hendak menjamu Nabi dengan memasak seekor kambing yang masih kecil, sehingga hanya cukup untuk Nabi dan beberapa orang saja, yakni sekitar empat atau lima orang. Nabi SAW  justru memerintahkan supaya semua orang yang tengah bekerja (jumlah shahabat pada waktu itu + 300 orang) untuk beristirahat, guna memenuhi undangan Sh. Jabi RA.   Setelah gule kambing terhidang dalam kuwali, beliau SAW  membagi-bagikan gule kambing tersebut kepada semua yang ikut bekerja dengan rata sehingga semua merasa kenyang, sedang gule kambing yang berada di dalam kuwali tersebut tidak berkurang jumlahnya.



6.   Kisah Sh. Anas bin Malik R.A.
Sh. Anas bin Malik R.A. pernah menjadi anak angkat Rasulullah SAW.  Pada waktu itu musim kemarau tengah melanda, pohon-pohon kurma milik Sh. Anas R.a. hampir semua mati. Kemudian beliau R.A. mendirikan shalat sunnah dua reka’at, memohon hujan kepada Allah SWT. ; lalu beliau (Sh. Anas R.A.) melihat ke kebun kurmanya, namun tidak terjadi perubahan apa-apa. Selanjutnya beliau R.A. shalat sunnah dua reka’at untuk yang kedua kalinya dengan lebih memperbaiki shalatnya, lalu dilihatnya lagi kebun kurmanya, namun tetap juga belum turun hujan. Shahabat Anas R.A. shalat lagi dengan lebih baik, tidak berapa lama -- kemudian hujan telah turun -- khusus hanya di kebun kurmanya.

--==o0==-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar