NATIIJAH DIIN (BUAH DIEN)
Semua
manusia ingin agar hidupnya senang, bahagia, mulya, tenteram, sejahtera, jaya, sukses,
selamat, baik di dunia maupun akhirat. Sebaliknya tidak ada satu orangpun yang ingin
hidupnya susah, menderita, hina, celaka, baik di dunia apalagi di akhirat. Dalam rangka memenuhi keinginannya tersebut, manusia berusaha dan
berjuang (juhud) dengan cara yang berbeda-beda, antara lain, dengan menaikkan
taraf hidup (harta, tahta, wanita; jabatan, pengaruh, rumah, perhiasan,
kekuasaan, anak dan fasilitas-fasilitas lainnya). Dengan
naiknya taraf hidup tersebut manusia merasa
bahwa inilah kemuliaan, dengan ini nanti akan bahagia, aman, tenteram, jaya, sukses, dan seterusnya. Ringkasnya dengan
meyakini hal-hal yang serba musyahadah. Ada
pula dalam memenuhi keinginannya
tersebut di atas, manusia tidak meyakininya hal-hal
yang serba musyahadah seperti di atas, tetapi meyakini hal-hal yang tidak nampak atau yang ghoib. Dari berbagai macam
usaha dan perjuangan tersebut bila diringkas dapat dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu,
usaha dan berjuang atas :
1.
Jalan kebendaan
2.
Jalan Iman dan
Amal Shaleh.
Usaha dan
perjuangan manakah yang akan mengundang kebahagiaan, ‘Izzah (kemuliaan),
keamanan, pertolongan Allah SWT, dicintai sesama, ketinggian derajat, berkah
(mendapat keberkahan dari Allah SWT.), kehidupan yang baik, kesejahteraan dan
rasa tenang, bebas dari rasa gelisah dan kesusahan, sukses dunia dan akhirat? Marilah kita kaji bersama-sama.
Telah sama kita ketahui, bahwa rasa senang, bahagia, tentram, …dan lain
sebagainya, letaknya adalah di hati (jiwa). Marilah kita amati kenyataan yang
terjadi antara keadaan dunia seseorang dengan keadaan hidupnya/ jiwanya.
|
NO.
|
KEADAAN
DUNIA
|
KEADAAN
JIWA
|
C O N T O H
|
|
1.
|
(+) = Serba Lebih..
|
(+) = Bahagia
|
N. Sulaiman AS, N. Dawud AS, N. Yusuf AS, Sh. Abdurrahman bin Auf, dan lain-lain
|
|
2.
|
(+) = Serba Lebih..
|
(-) = Menderita
|
Fir’aun, Qorun, Namrud, Abu Jahal, dan lain-lain
|
|
3.
|
(-) = Minim…….
|
(+) = Bahagia
|
Hampir rata-rata para Nabi, Sh.Bilal, dan
lain-lain
|
|
4.
|
(-) = Minim………
|
(-) = Menderita
|
Yahudi Miskin (*)
|
Logika manusia mudah untuk memahami
apa yang terjadi pada nomor 1 (satu) yaitu, dengan dunia : orang bahagia,… dan nomor 4 (empat) yakni, bila dunianya
pas-pasan (minim) orang tidak bahagia,…
padahal kenyataan yang terjadi nomor 2 (dua) bahwa, dunia yang yang
serba lebih tetapi dalam hidupnya sengsara sampai-sampai orang kafir pun tidak
berani memberi nama anaknya dengan nama Fir’aun, Namrud, Qorun, dan lain-lain
karena mereka tahu bahwa nama-nama tersebut hidupnya tidak bahagia padahal
dalam keadaan ditunggui macam dunia apapun. Begitu pula nomor 3 (tiga); ibarat
tanpa dunia tetapi hidupnya bahagia, maka banyak manusia memberi nama anaknya
sebagaimana nama-nama para Nabi yang rata-ratanya tidak disertai dengan asbab
dhohir.
Dari kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi di atas, orang bisa bahagia dalam keadaan dunianya serba lebih, orang
bisa bahagia dalam keadaan dunianya serba minim. Karena memang Allah SWT tidak
meletakkan kebahagiaan, kemuliaan, keselamatan,… pada ada atau tidak adanya dunia, tetapi
Allah SWT meletakkan itu semua pada pemenuhan terhadap Diin. Inilah Jalan Iman
dan Amal Sholeh. Namun Diin yang Mathlub (yang dikehendaki oleh Allah
dan Rasul-Nya), bukan Diin yang maujud (yang seadanya).
Apabila manusia menghendaki :
1.
Kebahagiaan, maka Allah SWT hanya berikan kepada orang-orang
yang menempuh jalan Iman dan Amal Sholeh.
الذين أمنوا وتطمئن
قلوبهم بذكرالله ألا بذكرالله تطمئن
القلوب {الرعد : 28}
Artinya : “(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram”. (QS.
Huud, 13 : 18).
قد أفلح المؤمنون .
ألذين هم في صلاتهم خاشعون .{المؤمنون : 1 – 2}
Artinya : “Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam
shalatnya”.
(QS. Al-Mu’minuun,
23 : 1 – 2).
2.
Kemuliaan, hanya terdapat pada orang yang beriman
ولله العزة ولرسوله
و للمؤمنين ولكن المنفقين لا يؤمنون. {المنفقون : 8}
Artinya : “…Padahal
kemuliaan (‘Izzah) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan orang-orang
Mukmin tetapi orang-orang munafiq itu tiada mengetahui”. (QS.
Al-Munafiquun, 63 : 8).
3.
Keamanan, hanya Allah SWT
berikan kepada orang-orang yang beriman.
ألذين أمنوا ولم
يلبسوا إ يمانهم بظلمهم أولــئـك لهم الأمن وهم مهتدون.{الأنعام : 82}
Artinya : “Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedholiman (syirik),
mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’aam , 6 : 82)
4.
Pertolongan Allah, hanya Allah SWT berikan kepada orang yang beriman.
إنالننصر رسلنا
والذين أمنوا فىالحيات الدنيا ويوم يقوم الأشهاد. {مؤمن : 51}
Artinya : “Sesungguhnya
Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan
dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (QS. Mu’min,
40 : 51).
ولقد أرسلنا من قبلك رسلا إلى قومهم فجاء وهم بالبينات
فانتقمنا من الذين أجرموا وكان حقا علينا نصر المؤمنين. {الروم : 47}.
Artinya : “Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada
kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan, lalu
Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu
berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”.
(QS. Ar-Ruum, 30 :
47).
ولينصرن الله من ينصره
إن الله لقوي عزيز. {الحج : 40}.
Artinya : “ …
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong Agama-Nya. Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj, 22 : 40).
5.
Ketinggian Derajat, hanya Allah SWT.
berikan kepada orang-orang yang beriman.
ولا تهنوا ولا
تحزنوا وانتم الأعلون إن كنتم مؤمنين. {ال عمران : 39}.
Artinya : “Janganlah
kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali ‘Imraan, 3 : 39)
6.
Dicintai sesama, hanya terdapat pada orang-orang yang beriman
dan beramal shaleh.
إن الذين أمنوا
وعمل الصالحات سيجعل لهم الرحمن ودا.
{مريم : 98}
Artinya : “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh kelak Allah Yang Maha Pemurah akan
menanamkan dalam hati mereka rasa cinta
(kasih sayang)”. (QS. Maryam, 19 : 96).
7.
Keberkahan dari Allah, hanya Allah SWT janjikan dan berikan kepada orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh.
ولو أن أهل
القرى أمنوا وا تقوا لفتحنا عليهم بركات
من السماء والأرض ولكن كذبوا
فأخذنهم بما كانوا يكسبون.
{الأعراف : 96}.
Artinya : “Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya”. (QS. Al-A’raaf, 7 : 96).
8.
Kehidupan yang baik, hanya Allah
SWT berikan kepada orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh.
من عمل صالحا من
ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه
حيوة طيبة ولنجزينهم
أجرهم باحسن ما كانوا يعملون. {النحل : 97}.
Artinya : “Barangsiapa
yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl, 16 : 97).
9.
Kesejahteraan, rasa tenang, bebas dari kegelisahan
dan kesusahan, hanya Allah
SWT berikan kepada orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh.
ألا إن الياء
الله لا خوف عليهم ولاهم
يحزنون. ألذين أمنوا وكانوا يتقون. لهم البشرى
فى الحياة الدنيا وفى الأخرة. لا
تبديل لكلمات الله ذلك هو الفوز العظيم. {يونس : 62 – 63}
Artinya : “Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka
selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang
demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus, 10 : 62– 64).
Jalan bahagia dengan menyandarkan
atas Mulk dan Maal (atau pemenuhan adanya dunia) itu hanya perkiraan manusia
yang sifatnya sangat relatif. Allah SWT bisa pakai dunia sebagai alat untuk memberikan
manfaat kepada manusia atau madlorot bagi manusia. Allahu Shamad Itu semua
tergantung mutlak pada Allah SWT.
Sama-sama dunianya serba lebih
(penuh dengan asbab dhohir) tetapi berbeda antara :
-
Fir’aun, Qorun
dengan Nabi Sulaiman A.S, Nabi Daud A.S.
-
Haman dengan Nabi
Yusuf A.S.
-
Abu Jahal dengan
Sh. Abdurrahman bin Auf R.A.
Bila manusia
menempuh jalan iman dan amal shaleh, maka manusia langsung mengambil manfaat
dari Qudrat (Kuasa) Allah SWT.. Untuk itu Allah Kuasa menggunakan segala macam
perbendaharaan (Khazanah Allah) baik yang nampak (dhohir) berupa : benda mati
(air, tanah, angin,…dan lain-lain) dan makhluk hidup (Khidzir-khidzir masa
kini) maupun yang tidak nampak (Ghoib), misal : Malaikat.
Berikut ditunjukkan beberapa contoh
bagaimana hasil dari beliau-beliau yang menempuh Jalan Iman dan Amal shaleh,
antara lain :
1.
Kisah Maryam
Dalam QS. Ali
‘Imran, 3 : 37 diceritakan bahwa setiap
Nabi Zakaria A.S. masuk ke dalam Mihrab Siti Maryam, selalu didapatinya
makanan, padahal Siti Maryam tidak memasak dan tidak pula keluar untuk
mencarinya. Sebagaimana firman Allah SWT :
...كلما دخل عليها زكريا
المحراب. وجد عندها رزقا. قال يا
مريم أنى لك هذا قلت هو من عندالله إن الله يرزق من يشاء بغير
حساب. {ال عمران : 37}.
Artinya : “…Setiap
Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya.
Zakaria berkata : “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?”.
Maryam menjawab : “Makanan ini dari sisi Allah (Min ‘Indillaah)”.
Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada
siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.
(QS. Ali ‘Imran ,
3 : 37).
Ada sementara
orang berpendapat bahwa makanan tersebut dikirim oleh seseorang yang tidak
diketahui identitasnya.
Bantahan : Bila memang
demikian halnya (dikirim oleh seseorang), berarti bukan Min ‘Indillaah (dari
sisi Allah). Padahal jika kisah tersebut diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an, tentulah peristiwa
tersebut merupakan peristiwa yang luar biasa menurut ukuran manusia dan bukan
kejadian yang lumrah.
2.
Kisah Nabi Musa A.S.
Allah tolong Nabi
Musa A.S. dan anak buahnya (Bani Isra’il) sampai ke tepi laut karena dikejar-kejar oleh Fir’aun dan
pasukannya, maka Nabi Musa A.S. diperintahkan oleh Allah SWT untuk memukulkan tongkatnya ke laut, maka
terbelahlah lautan itu menjadi dua. Kemudian lewatlah Nabi Musa dan anak
buahnya dan selamatlah mereka, sedang ketika Fir’aun dan pasukannya lewat, Nabi
Musa A.S. memukulkan tongkatnya sekali lagi atas perintah Allah SWT., sehingga
tenggelamlah mereka.
(QS. Asy
Syu’ara:61-63)
Ada sebagian orang
yang berpendapat bahwa lautan yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak begitu
dalam, maka pemukulan tongkat ke laut itu sebenarnya terbatas hanya untuk
mengukur kedalaman laut (menjajagi = Jw) mana yang dangkal dan mana yang tidak,
kemudian dilewatinya.
Bantahan : Jika demikian halnya,
sungguh sangat bodoh jika Fir’aun la’natulloh ‘Alaihi beserta pasukannya
melewati lautan yang dalam sehingga terbenam, sementara Nabi Musa A.S. selamat
karena dapat dengan tepat memilih lautan yang dangkal. Sungguh suatu analisa
dari keberuntungan dan “kebetulan” yang menggelikan.
3.
Kisah Nabi Ibrahim A.S.
Nabi Ibrahim
A.S. ditangkap oleh anak buah Raja
Namrud karena menghancurkan berhala-berhalanya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar,
namun api menjadi dingin atas perintah Allah SWT, maka Nabi Ibrahim pun
selamat. Peristiwa ini tercantum dalam QS. Al-Anbiyaa’, 21 : 68–69
قالوا حرقوه
وأنصروا ألهتكم إن كنتم فاعلين . قلنا يا نار كوني بردا وسلما
على إبراهيم. {الأنبياء : 68 –69}
.
Artinya : “Mereka
berkata : “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar
hendak bertindak”. Kami berfirman : “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi
keselamatanlah bagi Ibrahim”. (QS. Al-Anbiyaa’, 21 : 68 –69).
Sekali lagi, bagi
sementara orang yang menolak adanya Mu’jizat para Nabi (faham rasionalis murni)
berpendapat bahwa yang dimaksud api dalam ayat itu adalah api fitnah bukan api
yang sebenarnya.
4. Kisah Nabi
Muhammad SAW.
Ketika Nabi
Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau
SAW bersembunyi bersama Sh. Abu
Bakar RA. di Gua Tsur. Dan ternyata ada
dari para pengejarnya yang mencurigai gua tersebut dan akan memasukinya. Tetapi
atas kehendak Allah SWT , tiba-tiba di pintu gua tersebut terdapat laba-laba
yang sedang membuat rumahnya dan tampak bahwa rumah laba-laba tersebut masih
utuh, sehingga mereka berkeyakinan bahwa tidak mungkin ada yang masuk ke dalam
gua tersebut, sebab jika memang ada orang yang masuk ke dalam gua, tentunya
rumah laba-laba itu sudah terlihat rusak. Maka kembalilah rombongan pengejar
tersebut.
5. Peristiwa Perang
Khondak.
Pada waktu
Rasulullah SAW dan para shahabat menggali parit di sekeliling kota Madinah,
semua merasa lapar dan payah, namun pekerjaan tetap harus diteruskan. Untuk
memasak makanan sudah tidak memungkinkan lagi karena pada waktu itu sedang
krisis pangan. Tatkala Nabi SAW sedang
beristirahat, ada salah seorang shahabat yang bernama Sh. Jabir RA. Yang membisikkan khusus kepada Nabi SAW,
bahwa ia dan istrinya berniat hendak menjamu Nabi dengan memasak seekor kambing
yang masih kecil, sehingga hanya cukup untuk Nabi dan beberapa orang saja,
yakni sekitar empat atau lima orang. Nabi SAW
justru memerintahkan supaya semua orang yang tengah bekerja (jumlah
shahabat pada waktu itu + 300 orang) untuk beristirahat, guna memenuhi undangan
Sh. Jabi RA. Setelah gule kambing
terhidang dalam kuwali, beliau SAW
membagi-bagikan gule kambing tersebut kepada semua yang ikut bekerja
dengan rata sehingga semua merasa kenyang, sedang gule kambing yang berada di
dalam kuwali tersebut tidak berkurang jumlahnya.
6. Kisah Sh. Anas bin
Malik R.A.
Sh. Anas bin Malik
R.A. pernah menjadi anak angkat Rasulullah SAW.
Pada waktu itu musim kemarau tengah melanda, pohon-pohon kurma milik Sh.
Anas R.a. hampir semua mati. Kemudian beliau R.A. mendirikan shalat sunnah dua
reka’at, memohon hujan kepada Allah SWT. ; lalu beliau (Sh. Anas R.A.) melihat
ke kebun kurmanya, namun tidak terjadi perubahan apa-apa. Selanjutnya beliau
R.A. shalat sunnah dua reka’at untuk yang kedua kalinya dengan lebih
memperbaiki shalatnya, lalu dilihatnya lagi kebun kurmanya, namun tetap juga
belum turun hujan. Shahabat Anas R.A. shalat lagi dengan lebih baik, tidak
berapa lama -- kemudian hujan telah turun -- khusus hanya di kebun kurmanya.
--==o0==-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar