Rabu, 18 Maret 2015

Salman al-Farisi


Salman al-Farisi


Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi. Namun dia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Pergolakan batin itulah yang mendorongnya untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya.

Kisah Salman diceritakan langsung kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas: Salman dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar.

Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara. Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.

“Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.”

“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai salat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’”.

Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. “Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”

Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: “Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.”

“Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita,” tegas Salman.

Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya. Salman tak kehabisan akan dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah. Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: “Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan salat dengan anda.”

Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.

Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.

Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya. Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri. Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.
Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau. Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.

Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah karena idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang Khandaq. Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel. Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.

Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.
Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.
Menggali Khandaq
Setelah Rasulullah SAW mendengar berita persiapan pasukan gabungan musyrikin tersebut, maka Rasulullah SAW segera bermusyawarah dengan para shahabat untuk mencari cara yang terbaik dalam menghadapi musuh yang sangat besar tersebut. Apakah kaum muslimin akan bertahan di dalam kota Madinah atau akan menyongsong musuh di luar kota.
Dalam musyawarah itu shahabat Salman Al-Farisiy mengusulkan agar kaum muslimin bertahan saja di dalam kota Madinah dan sekeliling kota Madinah agar dibikin khandaq (parit pertahanan), supaya musuh yang akan menyerang kota Madinah itu tidak bisa masuk ke dalam kota. Pendapat Salman Al-Farisiy yang demikian itu sangat mengherankan kaum muslimin pada waktu itu, karena cara yang demikian itu sama sekali belum pernah dikenal oleh bangsa ‘Arab. Akhirnya pendapat Salman Al-Farisiy tersebut disetujui oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin.
Kemudian Rasulullah SAW segera memerintahkan kaum muslimin untuk membuat parit pertahanan tersebut. Pekerjaan berat ini dikerjakan serentak oleh kaum muslimin dengan ikhlash dan penuh semangat, dan Nabi SAW sendiri ikut serta bekerja di tengah-tengah para shahabat, sehingga perbuatan beliau ini menjadi pendorong semangat kaum muslimin untuk bekerja keras dalam membuat parit tersebut.
Muslim meriwayatkan dari Al-Baraa’, ia berkata, “Dahulu (menjelang) pertempuran Al-Ahzab, Rasulullah SAW bersama-sama kami (para shahabat) mengangkati pasir (tanah), dan tanah itu menutupi perutnya yang putih. Pada waktu itu beliau bersenandung :
Demi Allah, seandainya bukan karena Engkau,
tidaklah kami mendapat petunjuk,
Kami tidak sedeqah dan kami tidak shalat,
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami,
Sesungguhnya orang-orang itu telah menolak ajakan kami.
Al-Baraa’ berkata : Dan kadang-kadang beliau bersenandung dengan mengeraskan ucapan :
Sesungguhnya pembesar-pembesar kaum itu telah menolak ajakan kami.
Apabila mereka menghendaki fitnah, kami enggan memenuhinya.
[HR. Muslim juz 3 : 420-431]
Dalam riwayat lain dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata : Rasulullah SAW datang kepada kami diwaktu kami menggali parit, kami mengangkati tanah diatas pundak-pundak kami, kemudian Rasulullah SAW bersenandung :
Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat,
Ampunilah shahabat Muhajirin dan Anshar.
[HR. Muslim juz 3 : 1431]
Dan di lain riwayat dari Anas dari Nabi SAW beliau mengucapkan :
Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirah,
Ampunilah shahabat Anshar dan Muhajirah.
[Muslim juz 3, hal. 1431]
Di lain riwayat dari Syu’bah bin Qatadah dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah SAW mengucapkan :
Ya Allah, sesungguhnya kehidupan itu adalah kehidupan akhirat.
Syu’bah berkata : Atau beliau mengucapkan :
Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirah.
Muliakanlah shahabat Anshar dan Muhajirah.
[HR. Muslim juz 3 : 1431]
Di lain riwayat, dari Anas bin Malik, ia berkata : Dahulu para shahabat bersenandung, sedangkan Rasulullah SAW ada bersama mereka. Mereka mengucapkan :
اَللّهُمَّ لاَ خَيْرَ اِلاَّ خَيْرُ اْلآخِرَهْ        فَانْصُرِ اْلاَنْصَارَ وَ اْلمُهَاجِرَهْ
Ya Allah, tidak ada kebaikan, kecuali kebaikan akhirah
Tolonglah shahabat Anshar dan Muhajirah.
[HR. Muslim juz 3, 1431-1432]
Di lain riwayat dari Anas, bahwasanya para shahabat sama mengucapkan pada perang Khandaq :
نَحْنُ الَّذِيْنَ بَايَعُوْا مُحَمَّدًا               عَلَى اْلاِسْلاَمِ مَا بَقِيْنَا اَبَدًا
Kamilah orang-orang yang berbaiat kepada Muhammad
untuk berpegang kepada Islam selama hayat dikandung badan,
Sedangkan Nabi SAW mengucapkan :
Ya Allah, sesungguhnya kebaikan itu adalah kebaikan akhirah.
Ampunilah shahabat Anshar dan Muhajirah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar