DOA IBLIS
Terkadang rasa
bergantung dan tawakkal kita rendah. Rasa bergantung kepada Allah terhadap
segala sesuatu yang kita usahakan. Kebanyakn manusia ketika berusaha dan
melakukan sesuatu ia lupa bergantung kepada Allah. Lupa sekedar meminta dan
mengemis kepada Allah agar memudahkan usahanya, melanacarkan rezekinya dan
memuluskan usahanya. Kebanyakn manusia hanya bersandar kepada sebab, fokus
kepada usaha yang ia lakukan, tetapi lupa sekedar mengucapkan doa permohoan,
lupa sekedar mengucapkan beberapa patah kata,
“Ya Allah permudahkanlah”
“Ya Allah lancarkanlah”
Atau sekedar mengucapkan
doa singkat ,
اللهم يسر ولا تعسر
Allahumma yassir wa laa tu’assir
Atau doa dalam setiap
aktifitas seperti sebelum dan sesudah makan, masuk dan keluar WC atau sebelum
dan sesudah tidur.
Manusia semakin lupa berdoa
tatkala, usaha yang ia lakukan selalu berhasil tanpa berdoa. Padahal ini adalah
istidjraj (makar dari Allah). Ia dibiarkan bersenang-senang padahal
hakikatnya Allah melupakannya. Allah Ta’ala berfirman,
نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ
“Mereka telah lupa kepada
Allah, maka Allah melupakan mereka.” (At-Taubah: 67)
Padahal sudah selayaknya
kita menggantungkan diri dan berdoa memohon kepada Allah, setiap saat dan bahkan pada hal yang
terkesan sepele kita juga menggantungkan dan memohon kepada Allah. Dalam hadits
dijelaskan bahkan sekedar tali sandal yang putus kita berdoa kepada Allah agar
dimudahkan dan digantikan dengan yang lebih baik.
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah
berkata,
“Pada hadits terdapat dalil
bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang meminta kepada-Nya semua mashlahat agam
dan dunia berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain sebagai mana mereka
meminta hidayah dan ampunan. Dalam hadist, ‘hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabbnya semua kebutuhan,
sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas’.”[2]
dari Aisyah radhiallahu
‘anha, dia berkata,
“Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam menyukai doa-doa yang
sederhana dan padat makna (al-Jawami) dan beliau meninggalkan doa-doa
selainnya.”[3]
Doa Iblis saja dikabulkan
AllahTa’ala
berfirman mengenai permohonan Iblis,
قَالَ أَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Iblis menjawab: “Beri
tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”
Maka Allah menjawab,
قَالَ إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِينَ
“Allah berfirman:
“Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (Al-A’raf: 14-15)
Ahli Tafsir Ibnu Katsir
rahimahullah berkata,
“Allah Ta’ala mengabulkan
apa yang Iblis Minta karena padanya ada hikmah, keinginan dan kehendak yang
tidak bisa ditolak dan diselisihi.” [4]
Doa kita pasti dikabulkan
Allah Ta’ala
berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ
دَاخِرِينَ
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al
Mukmin: 60).
Orang yang berdoa tidak
pernah rugi karena doanya akan ada 3 kemungkinan:
1.dikabulkan
1.dikabulkan
2.disimpan sebagai kebaikan
(jika tidak dikabulkan) untuk akhirat
3.dijauhkan dari keburukan
“Abu Sa’id radhiallahu
‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak
ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah dosa yang tidak ada dosa di dalamnya
dan memuutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, [1] baik dengan disegerakan baginya
(pengabulan doanya) di dunia atau [2]dengan disimpan baginya (pengabulan
doanya) di akhirat atau [3] dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya”, para shahabat berkata: “Wahai
Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?” Beliau menjawab: “Allah
lebih banyak (pengabulan doanya)”[5]
Oleh karena itu Allah malu
jika hambanya berdoa kemudian kembali dengan tangan hampa. dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
“Sesunguhnya Rabb kalian
tabaraka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan
kepada-Nya, lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.”[6]
Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
Tentu saja berdoa perlu
memperhatikan sebab terhalang doa seperti makanan yang haram kemudian juga
perhatiakn waktu dan tempat mustajabnya doa. Yang terpenting adalah keyakinan
dan keimanan kita.
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Berdoalah kepada Allah
dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak
mengabulkan doa dari hati yang lalai.”[8]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar