Dua Puluh Tip Menyiasati Nafsu
SObatku muslim yang
dirahmati Allah SWT, ada dua titik lemah didalam diri ini,yang pertama
ada diluar diri kita yaitu godaan setan terkutuk yang tanpa
henti berjuang menjerumuskan kelembah yang terhina.Yang kedua yangmelekat
didalam diri kita yaitu hawa nafsu,yang keberadaannya tidak
permanen,artinya nafsu yang semula liar dan negative bisa dikendalikan dan
dididik sehingga menjadi positif. Hidup ini adalah medan perjuangan mengekang
dan mendidik hawa nafsu, Kadangkala kita menang dan kadangkala kita TKO melawan
hawa nafsu kita.
Ada tiga bentuk
perlawanan manusia terhadap hawa nafsu dalam dirinya.
Yang pertama,nafsu
muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman menang melawan hawa
nafsu, sehingga perbuatan manusia tersebut lebih banyak yang baik daripada yang
buruk.
Yang kedua, nafsu
lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali dirinya sendiri), yakni ketika iman
kadangkala menang dan kadangkala kalah melawan hawa nafsu, sehingga manusia
tersebut perbuatan baiknya relatif seimbang dengan perbuatan buruknya.
Yang ketiga adalah nafsu
la’ammaratu bissu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni ketika iman
kalah dibandingkan dengan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut lebih banyak
berbuat yang buruk daripada yang baik.
Coba direnungkan,
termasuk dimanakah posisi Kita?mudah-mudahan masih dalam kelompok nafsu
muthmainnah,ciri-cirinya adalah kita akan segera sadar dan gelisah disaat
terlanjur melakukan dosa dan maksiat walaupun sekecil apapun.
Beberapa trik untuk
meminimalkan perbuatan maksiat diantaranya :
1.Banyak melakukan
ibadah, terutama ibadah-ibadah sunnah (sholat dhuha, tahajud, baca Al
Qur’an, dll). Sebab makanan hati yang bersih adalah ibadah.
2. Minta
kepada Allah dengan sungguh-sungguh (berdoa) agar keinginan Anda semakin kuat
untuk meninggalkan hal-hal yang buruk.
3. Meyakini imbalan besar
yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang mampu mengendalikan hawa
nafsunya. “Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik
dari yang demikian itu (memperturuti hawa nafsu)?." Untuk orang-orang yang
bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir
dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri
yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya” (QS. Ali ‘Imron yat 15).
Kuatkan keyakinan
tersebut dengan banyak berzikir (mengingat Allah) dan beribadah kepadanya.
Jangan hanya mengandalkan ibadah wajib saja untuk mengendalikan nafsu, tambah
juga dengan ibadah sunnah, seperti shaum senin-kamis, sholat tahajjud, tilawah
Al Qur’an, sholat dhuha, dan lain-lain.
4.Jaga panca indera kita
dari pengaruh syahwat (nafsu). Jaga mata kita untuk tidak melihat hal-hal yang
berbau maksiat, jaga pendengaran dari pembicaraan yang jorok, jaga mulut dari
berkata-kata yang cabul, dan jaga tangan serta kaki kita untuk tidak menjamah
atau melangkah ke hal-hal yang maksiat.
5. Jaga pikiran kita
dengan selalu berpikir positif dan produktif yang akan didapat dari banyak
membaca yang positif dan hindari juga lingkungan yang membangkitkan hawa nafsu
kita.
6. Sadari betul bahwa
syahwat merupakan fasilitas syetan untuk menjerumuskan kita semua kepada api
neraka. Apa yang paling dekat dengan kita setelah Allah SWT , yaitu syetan.
Syetan berada pada peredaran darah manusia. Dia akan mendorong nafsu syahwat
kita dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan memasukkan data kotor
yang kita miliki untuk merangsang syahwat kita. Atau pun dari media luar yang
diterima panca indra..
7. Puasa. Semakin banyak
kita makan, semakin besar pembuluh darah,. dan syetan makin kuat pula mendorong
nafsu syahwat kita.dengan puasa kita akan mempersimpit pembuluh darah, dengan
begitu syetan akan berkurang pula energinya. Apalagi makanan atau minuman
tersebut haram.
8. Ketika syahwat itu
mulai memuncak maka segeralah berwudhu dan baca al-quran dengan maknanya.
Contoh apabila kalian melihat sesuatu yang sangat merangsang syahwat kalian
cepatlah berwudhu kemudian bacalah surat annas dan maknai dalam hati. Insya
Allah syahwat tersebut akan dapat dikontrol.
9. Jika anda telah merasa
mampu untuk menikah maka bersegeralah menikah. Dengan tujuan lillahita’ala.
Dengan begitu kita telah memiki penyaluran syahwat yang halal dan barokah. Dan
insya ALLAH mendapat keturunan yang soleh. Namun tetaplah setelah menikah untuk
selalu menjaga syahwatnya dari sesuatu yang diharamkan. Dan berdoalah sebelum
melakukan hubungan.
10. Apabila kita berada
dilingkungan yang penuh dengan rangsangan syahwat.maka berjihadlah dengan penuh
kesungguhan dan ucapkan lahaulawalaquwwataillabilla hil’aliyyilazhim dengan
memaknainya dalam hati.
11. Wanita merupakan
media syetan untuk merangsang syahwat dari luar tubuh . oleh karena itu Alloh
swt memerintahkan agar kaum wanita menutup dan menjaga auratnya. Namun
apabila aurat itu telah menyebar dilingkungan kita maka jagalah pandangan kita
dan ingatlah bahwa neraka itu banyak dipenuhi oleh wanita.yang seperti didepan
anda. Jika anda berani maka tegurlah, jika tidak bencilah perbuatan itu.
12. Penjarakan diri kita
pada sesuatu yang menghasilkan kenikmatan rohani. Yaitu lingkungan ibadah
kepada Allah SWT dan jauhkan diri anda dari zina dan yang merangsangnya.
Perbanyaklah mengisi waktu anda dengan ibadah terutama pada waktu malam. Dan
bacalah quran dan maknanya. Karena syetan yang ada pada diri kita akan merasa
terbakar(Oleh karena itu bakar dan bakar terus syetan dalam diri anda sampai
hangus). Sungguh syetan adalah musuh yang nyata bagi kita
13. Menyadari bahwa nafsu
adalah dinding pagar yang mengitari jahannam.
Barang siapa yang
terseeret ke dalam nafsu, berarti dia terseret ke dalam neraka.
Sabda nabi,
“Surga dikelilingi dengan
hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.”
Orang yang mengikuti
nafsu dikhawatirkan akan lepas dari iman, sementara dia tidak menyadarinya.
Mengikuti nafsu bias menutup pintu taufik bagi manusia dan membuka pintu
penyesalan.
Fudhail bin ‘Iyadh
berkatam “Barangsiapa yang mengikuti nafsu dan menuruti syahwatnya maka
terputuslah tali taufik dari dirinya.”
14.. Memanjakan nafsu
berarti merusak akal dan fikirannya dan itu berarti mengkhianati Allah dalam
hal penggunaana akal.
Mengikuti nafsu membuat
hamba tidak bias bangkit untuk mencapai syurga bersama-sama dengan orang yang
berhasil mendapatkannya.
Muhammad bin Abdul Warad
berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai satu hari, siapa yang tunduk
kepada nafsunya tidak akan bisa selamat dari siksaan-Nya. Di antara orang-orang
yang jatuh dan tidak bisa bangkit pada hari kiamat ialah orang yang tunduk
kepada nafsun bijakya.”
15. Menyadari bahwa
dengan mengekang nafsu akan menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah
manusia.
“Orang yang
mampu mengalahkan hawa nafsunya lebih kuat daripada orang yang mampu
menaklukkan sebuah kota sendirian.” Orang yang paling ksatria adalah
yang paling keras menentang hawa nafsunya.
Muawiyah berkata, “Sifat
ksatria ialah yang meninggalkan syahwat dan menentang hawa nafsu. Mengikuti
hawa nafsu berarti mengurangi sifat ksatria.” Memerangi nafsu lebih
hebat dan lebih berat daripada memerangi orang-orang kafir.
Menentang nafsu bisa
menyelamatkan penyakit hati dan badan sedangkan mengikutinya akan mendatangkan
penyakit hati dan badan. Semua penyakit hati berasal dari mengikuti nafsu. Jika
kita meneliti berbagai penyakit badan maka sebagian beasr berasal dari
memperturutkan hawa nafsu.
16. Menyadari bahwa tidak
ada satupun hari yang berlalu melainkan nafsu dan akan saling bergelut di dalam
diri orang yang besangkutan.
Mana yang dapat
mengalahkan rivalnya, maka dia akan mengusirnya dan menguasainya. Abu Darda
r.a. berkata,“Jika pada diri seseorang berkumpul nafsu dan amal, lalu
amalnya mengikuti nafsunya, maka hari yang dilaluinya adalah hari yang buruk.
Jika nafsunya mengikuti amalnya, maka harinya adalah hari yang baik.”
17. Menyadari bahwa dia diciptakan
bukan untuk kepentingan nafsu, tetapi untuk sesuatu urusan yang besar yang
tidak bisa dicapai kecuali dengan menentangnya.
Sesungguhnya Allah
menjadikan kesalahan dan mengikuti nafsu sebagai dua hal yang berdampingan dan
menjadikan kebenaran dan menentang nafsu sebagai dua hal yang berdampingan
sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf,“jika ada masalah yang rumit
engkau pecahkan, engkau tidak tahu mana yang benar, maka tinggalkanlah yang
lebih dekat kepada nafsumu, karena sesuatu yang dekat dengan kesalahan ialah
yang mengikuti hawa nafsu.”
18. Memiliki hasrat yang
kuat untuk melawan hawa nafsunya sehingga timbul kecemburuan yang amat sangat
terhadap dirinya sendiri jika melakukan kemaksiatan.
Membalutnya dengan
kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang akan dihadapi ketika melawan hawa
nafsunya sendiri. Membekalinya dengan kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya
untuk mereguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran
sekalipun hanya sesaat dan sebaik-baik hidup adalah jika seseorang mengetahui
hidup itu dengan kesabarannya.
19. Melibatkan hati dalam
mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak
nafsu itu meloloskan ketaatan dan berapa banyak nafsu itu mendatangkan
kehinaan.
Berapa banyak satu suapan
yang menghalangi beberapa suapan. Berapa banyak kenikmatan yang kecil
menghilangkan kenikmatan yang besar. Berapa banyak memperturutkan syahwat
berakibat menghancurkan kehormatan, menciptakan kenangan yang buruk,
mengakibatkan celaan dan aib berkepanjangan.
20. Memikirkan apa yang
dituntut oleh jiwa dan hati nuraninya dari pada dorongan hawa napsunya, lalu
berkata kepada akal dan agamanya, bahwa dorongan nafsu itu akan berakhir kepada
kehinaan.
Abdullan bin Mas’ud
berkata, “Jika salah seorang diantara kalian tertarik kepada seorang
wanita, maka hendaklah dia mengingat-ingat keburukannya.” Mempertimbangkan
kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian hari dan
sebaliknya mempertimbangkan penderitaan yang semakin menjadi-jadi sebagai
akibat menuruti kenikmatan hawa nafsu yang semu.
21. Menghinakan diri
sendiri ketika tunduk kepada hawa nafsu, sebab tidaklah seseorang menuruti hawa
nafsunya melainkan pasti akan mendapatkan kehinaan pada dirinya.
Jangan tertipu kehebatan dan kesombongan orang-orang yang
mengikuti nafsunya, padahal dilihat dari batinnya, mereka adalah orang-orang
yang paling hina dina. Orang seperti itu memadukan antara kesombongan dengan
kehinaan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar