Sabtu, 14 Maret 2015

LITA'AARAFU


Manusia Diciptakan Berbangsa untuk Saling Kenal

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat : 13)
1. النَّاسُ أَيُّهَا يَا  Artinya “Wahai Manusia”
Pertama, Allah SWT menyeru kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Siapa saja. Tidak memandang mukmin maupun kafir. Laki-laki maupun perempuan. Tinggal di mana saja.  Desa kota, indonesia amerika. Status dan profesi apapun. Petani, pedagang atau pegawai negeri. Pejabat, rakyat, konglomerat maupun melarat.  Jendral maupun kopral dsb. Siapa saja.  Asalkan dia manusia termasuk dalam seruan ayat tersebut.

2. وَأُنْثَى ذَكَرٍ مِنْ كُمْ خَلَقْنَا إِنَّا  Artinya sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan”
Kedua, Allah SWT. Memberi maklumat, pengumuman atau informasi kepada seluruh manusia bahwa kamu (seluruh manusia itu) diciptakan oleh Allah SWT. Allah hendak menunjukkan  kuasa-Nya. Allahul Khaaliq artinya Allah Maha Pencipta. Seluruh makhluk adalah ciptaan Allah SWT.    
Allah SWT berfirman 
Dia-lah Allah, yang menciptakan  segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan)langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu

Baik yang ada di daratan, lautan maupun di angkasa raya. Baik yang berupa benda padat cai Allah SWT menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan. Allah SWT. hendak memberi pelajaran kepada manusia bahwa segala sesuatu berjalan menurut hukum sunatullah, peraturan Allah. Orang biasa memahami yang dimaksud adalah hukum sebab akibat. Bahwa terjadinya sesuatu didahului sesuatu yang lain. Terjadi hujan sebelumnya langit mendung. Ada asap ada api. Begitu pula Allah ciptakan manusia atau lahirnya seorang bayi melalui perantaraan laki-laki dan perempuan atau ayah dan ibu Allah berkuasa atas segala sesuatu. Jika Allah menghendaki tidak ada hal yang mustahil. Tidak ada yang sulit. Semua menjadi mudah. Allah SWT mampu dan kuasa berbuat berlawanan dengan hukum Sunatullah. Air itu mengalir dari dataran yang tinggi menuju dataran rendah. Dari  gunung ke daratan menuju lautan. “Air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut” Tetapi Allah mampu dan kuasa berlaku sebaliknya yaitu Air mengalir dari laut ke daratan bahkan naik sampai ke Gunung. Allah ceritakan kisah Nabi Nuh AS dengan Anaknya Air mulai meninggi yang keluar dari celah-celah bumi. Tiada satu celah pun di bumi kecuali keluar air darinya. Sementara dari langit turunlah hujan yang sangat deras yang belum pernah turun hujan dengan curah seperti itu di bumi, dan tidak akan ada hujan seperti itu sesudahnya. Lautan semakin bergolak dan ombaknya menerpa apa saja dan menyapu bumi. Perut bumi bergerak dengan gerakan yang tidak wajar sehingga bola bumi untuk pertama kalinya tenggelam dalam air sehingga ia menjadi bola air.
 Allah SWT berfirman:
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.
 (QS. Al-Qamar: 11-13)

Air meninggi di atas kepala manusia, dan ia melampaui ketinggian pohon, bahkan puncak gunung. Akhirnya, permukaan bumi diselimuti dengan air. Ketika mula-mula datang taufan, Nabi Nuh memanggil-manggil puteranya. puteranya itu berdiri agak jauh darinya. Nabi Nuh memanggilnya dan berkata:
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."
(QS. Hud: 42)

Anak itu menjawab ajakan ayahnya:
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
(QS. Hud: 43)
Itu kejadian atau peristiwa ribuan tahun yang lalu. Sedang yang baru terjadi masih terngiang-ngiang dalam ingatan kita peristiwa Tsunami 26 desember 2005 di Serambi Mekah, Aceh Darussalam. Bagaimana Allah menunjukkan kuasanya menjalankan air dari lautan menuju daratan yang menghancurkan gedung-gedung dan memporak-porandakan benda-benda yang dilewatinya.
Begitu pula sifat api membakar. Benda apa saja yang dimasukkan ke dalam kobaran api akan terbakar hangus jadi abu. Itu hukum sunatullah yang berlaku. Akan tetapi Allah SWT.kuasa dan mampu memberlakukan sebaliknya. Dan itu bukan suatu hal yang sulit bagi Allah SWT. Sebagaimana kisah nabi Allah Ibrohim AS. Ketika Raja Namrut hendak menghukum Nabi Ibrohim AS dengan dimasukkan ke dalam kobaran api yang membara yang sudah disiapkan oleh raja Namrut. Maka program namrut untuk membunuh nabi Ibrohim gagal total dengan  firman   Allah SWT.
Wahai api dinginlah dan beri keselamatan kepada kekasihku Nabi Ibrohim.
(QS............................    ....)
Kalau Allah SWT sudah memerintahkan Hai api dinginlah. Kira-kira dingin atau tetap panas. Kalau kita menjawab tetap panas berarti kita tidak paham siapa Allah SWT itu? Api yang menurut logika akal sehat akan menghancurkan meluluh-lantakkan nabi Ibrohim justru sebaliknya dingin, segar, dan sejuk. Bahkan menurut riwayat keadaan yang paling menyenangkan, menyejukkan, dan paling nyaman yang dirasakan Nabi Ibrohim ketika berada di dalam Kobaran Api Raja Namrud.
        Begitu pula tentang lahirnya seorang anak.   
وَأُنْثَى ذَكَرٍ  مِنْ كُمْ خَلَقْنَا إِنَّا  sesungguhnya Allah SWT. Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan.  Menurut ayat tersebut Lahirnya seorang anak manusia melalui perantaraan laki-laki dan perempuan, ayah dan ibu.  Akan tetapi Allah Kuasa dan mampu menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu, sebagaimana Allah ciptakan Nabiullah Adam AS dan Ibunda Siti Hawwa tanpa Ayah dan  Ibu. Hanya dengan satu kalimat “kun” jadi “fayakun” maka jadilah.Begitu pula Allah SWT kuasa lahirkan seorang anak tanpa ayah. Sebagaimana Allah SWT. Lahirkan Nabi Isa AS tanpa seorang ayah. Ketika Jibril diperintah Allah untuk mengkabarkan kepada Maryam bahwa engkau akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci.
Firman Allah SWT.
As% !$yJRÎ) O$tRr& ãAqßu Å7În/u |=ydL{ Å7s9 $VJ»n=äñ $|Å2y ÇÊÒÈ ôMs9$s% 4¯Tr& ãbqä3tƒ Í< ÖN»n=äî öNs9ur ÓÍ_ó¡|¡ôJtƒ ׎|³o0 öNs9ur à8r& $|Éót/ ÇËÉÈ
Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"
(QS. Maryam 19-20)

        Mendengar kabar dari Malaikat Jibril Maryam terkejut.”bagai disambar petir” Dalam bahasa jawa njenggleng sak rendeng, nggumun setahun. Maka bertanya kepada Jibril:"Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Akal sehat mengatakan bagaimana mungkin alias tidak mungkin atau mustahil. Ilmiah menjelaskan lahirnya nya seorang bayi didahului  perkawinan laki dan perempuan. Dokter ahli kandungan juga mengatakan wanita belum menikah atau disentuh laki-laki bisa hamil dan punya anak. Sekali lagi bagi  Allah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Tidak ada hal yang mustahil.
        Maka Allah terangkan ayat di atas untuk memberi pelajaran kepada kita semua bahwa segala sesuatu berlaku menurut hukum sunatullah. Peraturan Allah. Hukum sebab akibat. Hal inipun juga demi kebaikan dan kemudahan bagi manusia.

 3.
لِتَعَارَفُوا وَقَبَائِلَ شُعُوبًا وَجَعَلْنَاكُمْ
........dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
        Menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Allah SWT arsitek yang Maha Hebat dan Maha Sempurna. Allah SWT. menciptakan manusia 6 milyar yang hidup di dunia ini (belum yang sekarang sudah di alam kubur) tidak kekurangan model. Berbeda-beda dari tingkat individu atau perso-person. Kelompok dari tingkat keluarga, masyarakat, suku,  bahkan ke tingkat bangsa sekalipun. Dari tingkat individu atau person dari 6 milyar manusia sekarang tidak ada yang sama, baik dari segi  fisiknya maupun sifat dan karakternya. Jangankan orang yang beda generasi, beda orang tuanya,  beda tempat tinggal, jenis kelamin dan statusnya. Bahkan anak kembar yang hari lahirnya sama,  ibu dan bapaknya sama, jenis kelaminnya sama, begitupun  Allah kehendaki berbeda. Selain berbeda masing-masing punya kelebihan sekecil apapun, baik tingkat individu, suku atau kelompok, sampain ke tingkat bangsa-bangsa.
        Maka Allah perintahkan agar saling mengenal (lita’arufu). Mengapa Allah perintahkan agar saling mengenal? Tidak lain agar satu sama lain saling belajar. Saling mengambil manfaat. Bukankah masing-masing punya kelebihan walau sekecil apapun yang bisa kita ambil pelajaran? Baik pada tataran induvidu, keluarga, kelompok, masyarakat, suku, bahkan sampai tingkat bangsa-bangsa. Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari kelebihan orang lain kalau tidak mengenal?
        Sebelum mengambil contoh yang lain2 mari kita lihat Nabi dan para sahabat. Baik mewakili person, suku, maupun bangsa. Pribadi Nabi atau karakter Nabi SWA sebelum islam. Pribadi atau karakter sahabat Abu Bakar Ash Shidiq RA, sahabat Umar Bin Khathab, dan masih banyak sifat dan karakter sahabat Nabi SWA yang lain. Semua mempunyai kelebihan masing yang dapat di jadikan suri teladan. “Ash Habikan nujum” Para sahabat RA laksana bintang-bintang. Bukankah “Khiraruhum fil jahiliah, khiyaruhum fil Islam idza faqqahu?” Orang yang berbobot pada masa jahiliah akan berbobot pula dalam islam apabila faham agama.

       
4.                                                                                                    أَتْقَاكُمْ اللَّهِ عِنْدَ أَكْرَمَكُمْ إِنَّ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu

Setelah manusia mengembara sampai ke penjuru dunia. Kenal dengan manusia mulai dari person-person, suku, bangsa, dsb. Jangan sampai lupa status, jati diri, purwo duksina. Bahwa diantara sekian banyak manusia yang berbeda-beda itu. Orang yang paling mulia di sisi Allah SWT. adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu sekalian.
5.                                                                                                                         خَبِيرٌ عَلِيمٌ اللَّهَ إِنَّ
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar