Manusia
Diciptakan Berbangsa untuk
Saling Kenal
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat : 13)
1. النَّاسُ أَيُّهَا يَا Artinya “Wahai Manusia”
Pertama, Allah SWT menyeru kepada
seluruh manusia tanpa terkecuali. Siapa saja. Tidak memandang mukmin maupun
kafir. Laki-laki maupun perempuan. Tinggal di mana saja. Desa kota, indonesia amerika. Status dan
profesi apapun. Petani, pedagang atau pegawai negeri. Pejabat, rakyat,
konglomerat maupun melarat. Jendral
maupun kopral dsb. Siapa saja. Asalkan
dia manusia termasuk dalam seruan ayat tersebut.
2. وَأُنْثَى ذَكَرٍ مِنْ كُمْ خَلَقْنَا إِنَّا Artinya “sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan”
Kedua,
Allah SWT. Memberi maklumat, pengumuman atau informasi kepada seluruh manusia
bahwa kamu (seluruh manusia itu) diciptakan oleh Allah SWT. Allah hendak
menunjukkan kuasa-Nya. Allahul Khaaliq
artinya Allah Maha Pencipta. Seluruh makhluk adalah ciptaan Allah SWT.
Allah
SWT berfirman
Dia-lah Allah, yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia
berkehendak (menciptakan)langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha
mengetahui segala sesuatu
Baik yang ada di daratan, lautan maupun
di angkasa raya. Baik yang berupa benda padat cai Allah SWT menciptakan manusia
dari seorang laki-laki dan perempuan. Allah SWT. hendak memberi pelajaran
kepada manusia bahwa segala sesuatu berjalan menurut hukum sunatullah,
peraturan Allah. Orang biasa memahami yang dimaksud adalah hukum sebab akibat.
Bahwa terjadinya sesuatu didahului sesuatu yang lain. Terjadi hujan sebelumnya
langit mendung. Ada asap ada api. Begitu pula Allah ciptakan manusia atau
lahirnya seorang bayi melalui perantaraan laki-laki dan perempuan atau ayah dan
ibu Allah berkuasa atas segala sesuatu. Jika Allah menghendaki tidak ada hal
yang mustahil. Tidak ada yang sulit. Semua menjadi mudah. Allah SWT mampu dan
kuasa berbuat berlawanan dengan hukum Sunatullah. Air itu mengalir dari dataran
yang tinggi menuju dataran rendah. Dari
gunung ke daratan menuju lautan. “Air
mengalir sampai jauh akhirnya ke laut” Tetapi Allah mampu dan kuasa berlaku
sebaliknya yaitu Air mengalir dari laut ke daratan bahkan naik sampai ke
Gunung. Allah ceritakan kisah Nabi Nuh AS dengan Anaknya Air mulai meninggi
yang keluar dari celah-celah bumi. Tiada satu celah pun di bumi kecuali keluar
air darinya. Sementara dari langit turunlah hujan yang sangat deras yang belum
pernah turun hujan dengan curah seperti itu di bumi, dan tidak akan ada hujan
seperti itu sesudahnya. Lautan semakin bergolak dan ombaknya menerpa apa saja
dan menyapu bumi. Perut bumi bergerak dengan gerakan yang tidak wajar sehingga
bola bumi untuk pertama kalinya tenggelam dalam air sehingga ia menjadi bola
air.
Allah SWT berfirman:
"Maka Kami bukakan pintu-pintu
langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan
mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh
telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan
dan paku.
(QS. Al-Qamar: 11-13)
Air meninggi di atas kepala manusia, dan
ia melampaui ketinggian pohon, bahkan puncak gunung. Akhirnya, permukaan bumi
diselimuti dengan air. Ketika mula-mula datang taufan, Nabi Nuh
memanggil-manggil puteranya. puteranya itu berdiri agak jauh darinya. Nabi Nuh
memanggilnya dan berkata:
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam
gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di
tempat yang jauh terpencil: "Hai
anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama
orang-orang yang kafir."
(QS.
Hud: 42)
Anak itu menjawab ajakan ayahnya:
Anaknya menjawab:
"Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air
bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab
Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi
penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang
ditenggelamkan.
(QS. Hud: 43)
Itu kejadian atau
peristiwa ribuan tahun yang lalu. Sedang yang baru terjadi masih
terngiang-ngiang dalam ingatan kita peristiwa Tsunami 26 desember 2005 di
Serambi Mekah, Aceh Darussalam. Bagaimana Allah menunjukkan kuasanya
menjalankan air dari lautan menuju daratan yang menghancurkan gedung-gedung dan
memporak-porandakan benda-benda yang dilewatinya.
Begitu pula sifat api
membakar. Benda apa saja yang dimasukkan ke dalam kobaran api akan terbakar
hangus jadi abu. Itu hukum sunatullah yang berlaku. Akan tetapi Allah SWT.kuasa
dan mampu memberlakukan sebaliknya. Dan itu bukan suatu hal yang sulit bagi
Allah SWT. Sebagaimana kisah nabi Allah Ibrohim AS. Ketika Raja Namrut hendak
menghukum Nabi Ibrohim AS dengan dimasukkan ke dalam kobaran api yang membara yang
sudah disiapkan oleh raja Namrut. Maka program namrut untuk membunuh nabi
Ibrohim gagal total dengan firman Allah SWT.
Wahai api dinginlah dan beri keselamatan
kepada kekasihku Nabi Ibrohim.
(QS............................ ....)
Kalau Allah SWT sudah
memerintahkan Hai api dinginlah. Kira-kira dingin atau tetap panas. Kalau kita
menjawab tetap panas berarti kita tidak paham siapa Allah SWT itu? Api yang
menurut logika akal sehat akan menghancurkan meluluh-lantakkan nabi Ibrohim
justru sebaliknya dingin, segar, dan sejuk. Bahkan menurut riwayat keadaan yang
paling menyenangkan, menyejukkan, dan paling nyaman yang dirasakan Nabi Ibrohim
ketika berada di dalam Kobaran Api Raja Namrud.
Begitu pula tentang lahirnya seorang anak.
وَأُنْثَى ذَكَرٍ مِنْ كُمْ خَلَقْنَا إِنَّا sesungguhnya Allah SWT. Menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan perempuan. Menurut
ayat tersebut Lahirnya seorang anak manusia melalui perantaraan laki-laki dan
perempuan, ayah dan ibu. Akan tetapi
Allah Kuasa dan mampu menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu, sebagaimana Allah
ciptakan Nabiullah Adam AS dan Ibunda Siti Hawwa tanpa Ayah dan Ibu. Hanya dengan satu kalimat “kun” jadi “fayakun” maka jadilah.Begitu pula Allah SWT kuasa lahirkan seorang
anak tanpa ayah. Sebagaimana Allah SWT. Lahirkan Nabi Isa AS tanpa seorang ayah.
Ketika Jibril diperintah Allah untuk mengkabarkan kepada Maryam bahwa engkau
akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci.
Firman Allah SWT.
As% !$yJRÎ) O$tRr& ãAqßu Å7În/u |=ydL{ Å7s9 $VJ»n=äñ $|Å2y ÇÊÒÈ ôMs9$s% 4¯Tr& ãbqä3t Í< ÖN»n=äî öNs9ur ÓÍ_ó¡|¡ôJt ×|³o0 öNs9ur à8r& $|Éót/ ÇËÉÈ
Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang
utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".Maryam
berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak
pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang
pezina!"
(QS. Maryam 19-20)
Mendengar kabar dari Malaikat Jibril Maryam terkejut.”bagai disambar petir” Dalam bahasa jawa
njenggleng sak rendeng, nggumun setahun. Maka bertanya kepada Jibril:"Bagaimana akan ada bagiku seorang anak
laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan
(pula) seorang pezina!" Akal sehat mengatakan bagaimana mungkin alias
tidak mungkin atau mustahil. Ilmiah menjelaskan lahirnya nya seorang bayi
didahului perkawinan laki dan perempuan.
Dokter ahli kandungan juga mengatakan wanita belum menikah atau disentuh
laki-laki bisa hamil dan punya anak. Sekali lagi bagi Allah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Tidak
ada hal yang mustahil.
Maka Allah terangkan ayat di atas untuk memberi pelajaran
kepada kita semua bahwa segala sesuatu berlaku menurut hukum sunatullah.
Peraturan Allah. Hukum sebab akibat. Hal inipun juga demi kebaikan dan
kemudahan bagi manusia.
|
3.
|
لِتَعَارَفُوا وَقَبَائِلَ شُعُوبًا وَجَعَلْنَاكُمْ
|
........dan
menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal.
Menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Allah SWT arsitek yang Maha Hebat dan
Maha Sempurna. Allah SWT. menciptakan manusia 6 milyar yang hidup di dunia ini
(belum yang sekarang sudah di alam kubur) tidak kekurangan model. Berbeda-beda
dari tingkat individu atau perso-person. Kelompok dari tingkat keluarga,
masyarakat, suku, bahkan ke tingkat
bangsa sekalipun. Dari tingkat individu atau person dari 6 milyar manusia
sekarang tidak ada yang sama, baik dari segi fisiknya maupun sifat dan karakternya.
Jangankan orang yang beda generasi, beda orang tuanya, beda tempat tinggal, jenis kelamin dan
statusnya. Bahkan anak kembar yang hari lahirnya sama, ibu dan bapaknya sama, jenis kelaminnya sama,
begitupun Allah kehendaki berbeda. Selain
berbeda masing-masing punya kelebihan sekecil apapun, baik tingkat individu,
suku atau kelompok, sampain ke tingkat bangsa-bangsa.
Maka
Allah perintahkan agar saling mengenal (lita’arufu).
Mengapa Allah perintahkan agar saling mengenal? Tidak lain agar satu sama lain
saling belajar. Saling mengambil manfaat. Bukankah masing-masing punya
kelebihan walau sekecil apapun yang bisa kita ambil pelajaran? Baik pada
tataran induvidu, keluarga, kelompok, masyarakat, suku, bahkan sampai tingkat
bangsa-bangsa. Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari
kelebihan orang lain kalau tidak mengenal?
Sebelum
mengambil contoh yang lain2 mari kita lihat Nabi dan para sahabat. Baik
mewakili person, suku, maupun bangsa. Pribadi Nabi atau karakter Nabi SWA
sebelum islam. Pribadi atau karakter sahabat Abu Bakar Ash Shidiq RA, sahabat
Umar Bin Khathab, dan masih banyak sifat dan karakter sahabat Nabi SWA yang
lain. Semua mempunyai kelebihan masing yang dapat di jadikan suri teladan. “Ash Habikan nujum” Para sahabat RA
laksana bintang-bintang. Bukankah
“Khiraruhum fil jahiliah, khiyaruhum fil Islam idza faqqahu?” Orang yang
berbobot pada masa jahiliah akan berbobot pula dalam islam apabila faham agama.
4.
أَتْقَاكُمْ اللَّهِ عِنْدَ أَكْرَمَكُمْ إِنَّ
Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu
Setelah manusia mengembara sampai ke
penjuru dunia. Kenal dengan manusia mulai dari person-person, suku, bangsa,
dsb. Jangan sampai lupa status, jati diri, purwo duksina. Bahwa diantara sekian
banyak manusia yang berbeda-beda itu. Orang yang paling mulia di sisi Allah SWT.
adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu sekalian.
5.
خَبِيرٌ عَلِيمٌ اللَّهَ إِنَّ
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar