Bani Tsaqif, Penduduk
Tha’if Masuk Islam
Kitab Hayaatush Shahabah Jilid 1 hal. 40 - 47
Kepulangan Rasulullah
SAW. dari Bani Tsaqif dan Islamnya Urwah bin Mas’ud

Diriwayatkan dari
Ibnu Ishaq bahwa ketika Rasulullah SAW. kembali dari Tsaqif, beliau diikuti
oleh Urwah bin Mas’ud. Urwah berhasil menyusul Rasulullah SAW. di suatu tempat
di dekat Madinah. Ia kemudian memeluk Islam dan meminta izin Rasulullah SAW
untuk kembali kepada kaumnya agar dapat mengajak mereka masuk Islam.
Rasulullah SAW. bersabda kepada Urwah :
“Sesungguhnya mereka memusuhi kamu.”
Rasulullah SAW. tahu betul bahwa di
antara mereka terdapat penolakan yang kuat terhadap seorang penyeru yang
berasal dari kalangan mereka sendiri.
Urwah berkata : “Wahai Rasulullah, aku
adalah orang yang sangat disukai oleh mereka, lebih daripada kecintaan mereka
kepada anak-anak perempuan mereka sendiri.”
Memang Urwah adalah
orang yang sangat dicintai dan ditaati oleh kaumnya.
Dakwah Urwah Kepada
Kaumnya Agar Memeluk Islam dan Kisah Syahidnya Ia di Jalan Allah
Maka Urwah pun pergi untuk menyeru
kaumnya agar memeluk Islam, dengan harapan mereka tidak menentangnya, mengingat
kedudukannya yang terhormat di kalangan mereka. Ketika Urwah menaiki kamar
bagian atas rumahnya dan menyeru kaumnya kepada Islam, serta menunjukkan
keIslamannya, mereka serentak melemparinya dari segala arah dengan apa saja
yang bisa dijangkau, sehingga sebuah anak panah menembus badannya dan Urwah pun
terbunuh.
Ketika seseorang berkata kepada Urwah :
“Apa pendapatmu mengenai darahmu?”
Urwah menjawab : “Ini adalah kemuliaan
yang Allah telah memuliakanku dengannya juga sebagai persaksian yang Allah
berikan kepadaku. Tiada sesuatu pada diriku melainkan seperti apa yang ada pada
diri para syahid, yaitu orang-orang yang terbunuh bersama Rasulullah SAW.
sebelum berangkat meninggalkan kalian. Karena itu kuburkan aku bersama mereka.”
Setelah mereka membunuhnya, mereka
menguburkannya bersama para syahid.
Mereka mengaku bahwa Rasulullah SAW. bersabda
mengenai dirinya : “Sesungguhnya perumpamaannya di antara kaumnya adalah
seperti perumpamaan shahabt Yasin di antara kaumnya.
Banu Tsaqif Mengutus
Abdu Yalil bin Amir beserta Rombongan untuk Menemui Rasulullah SAW.
Kemudian Banu Tsaqif
berkumpul setelah beberapa bulan syahidnya Urwah. Mereka bermusyawarah yang
kesimpulannya bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menentang orang-orang
Arab yang tinggal berdekatan dengan kawasannya. Padahal mereka kebanyakan telah
masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah SAW. Maka mereka mengutus seorang
lelaki dari kalangan mereka untuk menemui Rasulullah SAW.
Ditunjuklah Abdu Yalil bin Amr sebagai
utusan mereka disertai oleh dua orang lelaki dari Bani al Ahlaf dan tiga orang
dari bani Malik. Ketika mereka hampir mendekati Madinah dan singgah di al
Qanah, mereka berjumpa dengan Mughirah bin Syu’bah yang sedang menggembalakan
unta-unta tunggangan dalam rangka menggantikan para shahabat Rasulullah SAW.
Tatkala al Mughirah melihat kedatangan mereka, maka ia bergegas menemui
Rasulullah SAW. untuk memberitahukan berita gembira mengenai kedatangan mereka.
Di jalan, ia bertemu Abu Bakar ash Shiddiq RA., lalu disampaikanlah berita kedatangan
utusan Tsaqif itu, bahwa mereka ingin berbaiat kepada Rasulullah SAW. dan
memeluk Islam apabila Rasulullah SAW. menyetujui syarat-syarat tertentu dan
mereka akan menulis satu surat tentang kaum mereka.
Abu Bakar berkata kepada al Mughirah :
“Aku meminta engkau bersumpah agar tidak mendahuluiku dalam menemui Rasulullah SAW,
sehingga akulah yang terlebih dahulu memberitahukannya kepada Rasulullah.”
Mughirah pun memenuhi permintaan Abu
Bakar RA, maka Abu Bakar menemui Rasulullah SAW. dan mengabarkan kedatangan
rombongan dari Thaif itu. Al Mughirah kembali menemui rombongan itu lalu
mengembalikan unta-unta gembalaannya ke kandangnya bersama mereka.
Al Mughirah mengajari rombongan dari
Thaif, bagaimana memberi salam kepada Rasulullah SAW. akan tetapi mereka tidak
mau melakukannya selaun dengan salam jahiliyah.
Ketika mereka sampai di sisi Rasulullah
SAW. maka dibuatlah kemah untuk mereka di dalam kawasan masjid. Khalid bin
Sa’id bin al ‘Ash adalah perantara Rasulullah SAW. dengan rombongan itu. Apabila
Khalid datang membawa makanan untuk mereka, mereka tidak akan memakannya
sebelum Khalid memakannya. Khalid pula yang menjadi juru tulis yang menulis
surat perjanjian mereka.
Di antara syarat yang diajukan kepada
Rasulullah SAW. adalah agar Rasulullah SAW. membiarkan mereka menyembah
berhala-berhala selama tiga tahun. Tetapi Rasulullah SAW. menolak syarat itu,
kemudian mereka meminta agar mereka dibiarkan menyembahnya selama dua tahun,
tetapi Rasulullah SAW. tetap menolaknya. Demikian juga ketika mereka mengajukan
waktu satu tahun, Rasulullah SAW. tetap menolaknya. Maka mereka lalu mengurangi
permintaannya agar dibiarkan menyembah berhala selama satu bulan saja setelah
mereka pulang ke Thaif, agar mereka dapat melembutkan dan menyatukan hati
orang-orang yang bodoh di kalangan mereka.
Tetapi semua permintaan itu tetap
ditolak oleh Rasulullah SAW, sebaliknya Rasulullah SAW mengutus Sufyan bin Harb
dan al Mughirah bin Syu’bah bersama mereka untuk memusnahkan berhala-berhala
itu. Mereka juga meminta kepada Rasulullah SAW. agar dibiarkan tidak
mengerjakan shalat dan tidan menghancurkan berhala-berhala mereka dengan tangan
meeka sendiri.
Sabda Rasulullah SAW. : “Baiklah, aku
mengizinkan kalian untuk tidak memecahkan berhala-berhala itu dengan tangan
kalian sendiri. Tetapi mengenai shalat, sesungguhnya tidak ada kebaikan dalam
agama jika tidak ada shalat di dalamnya.”
Mereka berkata : “Kami akan
mengerjakannya meskipun ini merupakan suatu kehinaan.”
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Utsman bin
Abu al ‘Ash bahwa rombongan Bani Tsaqif datang menemui Rasulullah SAW. datang
menemui Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW. memberikan penginapan untuk mereka
di kawasan masjid agar hati mereka menjadi lembut. Mereka mengajukan syarat
kepada Rasulullah SAW. supaya tidak dikumpulkan untuk diberangkatkan dalam
berjihad, supaya tidak diminta mengeluarkan sepersepuluh dari hasil pertanian
mereka sebagai zakat, tidak usah melakukan tajibah, dan tidak diangkat seorang
pimpinan untuk memerintah mereka kecuali dari kalangan mereka sendiri.
Rasulullah SAW. bersabda kepada mereka :
“Kalian boleh tidak disuruh untuk berangkat berjihad, tidak usah melakukan
tajibah, dan tidak akan diangkat seorang pimpinan selain dari golongan kalian.
Tetapi tidak ada kebaikan dalam agama jika tidak ada ruku’ (shalat) di
dalamnya.”
Utsman bin Abu al ‘Ash berkata : “Wahai
Rasulullah, ajarilah aku al Qur’an dan jadikan aku imam bagi kaumku.”
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh
Abu Dawud.
Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud juga
dari Wahb, katanya : Aku bertanya kepada Jabir RA. mengenai keadaan orang-orang
Bani Tsaqif ketika mereka berbaiat.
Jabir berkata : “Mereka mengajukan
syarat kepada Rasulullah SAW. agar mereka tidak dipungut zakat dan tidak keluar
untuk berjihad.”
Jabir mendengar Rasulullah SAW. bersabda
setelah mereka mengajukan syarat itu : “Mereka akan mengeluarkan zakat dan
berjihad apabila telah memeluk Islam.”
Demikianlah yang dikemukakan dalam
kitan al Bidaayah (5/29) dengan singkat.
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan
Ibnu majah dari Aus bin Hudzaifah RA. katanya : Kami tiba untuk menemui
Rasulullah SAW. bersama rombongan dari Bani Tsaqif. Kemudian bani al Ahlaf
singgah di rumah al Mughirah RA. sementara Rasulullah SAW memerintahkan Bani
Malik dalam kubah beliau.
Setiap malam Rasulullah SAW. datang
menemui kami lalu berbincang-bincang dengan kami sambil berdiri di atas kedua
kakinya, sampai beliau berdiri dengan satu kaki di satu saat dan dengan kaki
satunya lagi di lain saat, untuk memberikan kesempatan masing-masing kaki
beristirahat, saking lamanya beliau berdiri.
Perkara yang paling banyak diceritakan
kepada kami adalah mengenai perlakuan kaum Quraisy kepadanya. Rasulullah SAW.
bersada : “Aku tidak bersedih meski kami dulu adalah golongan yang lemah dan
dihinakan di Makkah. Ketika kami telah hijrah ke Madinah, peperangan antara
kami dengan mereka berlangsung seimbang, kadang-kadang kami menag dan
kadang-kadang kami kalah.”
Suatu malam Rasulullah SAW. terlambat
di luar waktu yang biasanya beliau datang kepada kami. Kami bertanya kepadanya
: “Sesungguhnya tuan telah terlambat datang kepada kami malam ini?”
Rasulullah SAW. bersabda : “Tiba-tiba
aku teringat waktu biasanya aku membaca al Qur’an, karena itu aku tidak suka
datang ke sini sebelum aku menyelesaikan bacaanku.”
Demikianlah sebagaimana dikemukakan
dalam al Bidaayah (5/32), diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa’d (5/510) dari Aus RA.
dengan isi sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar