FADHILAH ISTIGHFAR
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku
mohon ampun dan bertaubat kepada Allah yang tiada tuhan (berhak disembah)
kecuali hanya Dia, Dzat Maha hidup kekal dan berdiri sendiri”
Hadits Rasulullah SAW.
Dari
Zaid bin Haritsah –maula Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam- berkata: Aku
mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ
“Siapa
yang membaca Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa
Atuubu Ilaihi maka akan diampuni dosanya walaupun ia pernah lari dari
medan perang.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, al-Thabrani, Al-Hakim dan Ibnu Abi
Syaibah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah di Shahih
Abi Dawud dan Shahih al-Tirmidzi)
Terdapat
tambahan dalam sebagian riwayat –seperti dalam Sunan Al-Tirmidzi &
al-Hakim-, “Astaghfirullah Al-‘Adzim”.
Al-Hakim
mengeluarkannya dalam Mustadraknya dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu
'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثًا غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَارًّا مِنْ الزَّحْفِ
“Siapa
yang membaca Asataghfirullaah Alladzii Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal
Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah
lari dari medan perang.” (HR. Al-Hakim, beliau berkata: “ini adalah hadits
shahih sesuai syarat Muslim namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.”
Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no.
8541. Abu Nu’aim meriwayatkan yang serupa dalam Akhbar Ashbahan dari hadits Abu
Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)
Fadhilah Istighfar
Doa
ini mengandung istighfar (permohonan ampunan) yang sangat agung dan memakai
wasilah (sarana) yang sangat mulia dengan menyebut nama-nama Allah yang Maha
Indah –Allah, Al-Adzim, Al-Hayyu, dan Al-Qayyum-, ikrar akan uluhiyah Allah dan
tekad bertaubat saat itu juga.
Astaghfirullah
memiliki makna meminta ampunan kepada Allah, memohon agar Allah menutupi
dosa-dosanya, dan tidak menghukumnya atas dosa-dosa tersebut.
Disebut
kalimat tauhid setelah kalimat “Aku meminta ampun kepada Allah” memberikan
makna bahwa hamba tersebut mengakui kewajibannya untuk ibadah kepada Allah
semata yang itu menjadi hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini menuntut agar
orang yang beristighfar untuk membuktikan ubudiyahnya kepada Allah dengan
mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Al-Hayyul
Qayyum: dua nama Allah yang agung ini disebut sesudahnya memiliki kaitan dengan
permintaan ampunan karena semua nama Allah dan sifat-Nya yang Maha tinggi yang
Dzatiyah dan Fi’liyah kembali kepada keduanya. Sifat Dzatiyah merujuk kepada
nama Al-Hayyu (Maha hidup kekal). Sedangkan sifat fi’liyah kembali kepada nama
Al-Qayyum (Tegak berdiri sendiri dan mengurusi semua makhluk-Nya)
Ditutup
doa tersebut dengan Waatubu Ilaihi (Aku bertaubat kepada-Nya) mengandung
keinginan kuat dari hamba untuk bertaubat (kembali) kepada Allah Tabaraka wa
Ta’ala. Karenanya jika hamba mengucapkan kalimat ini hendaknya ia jujur dalam
melafadzkannya pada dzahir & batinnya. Jika ia dusta, dikhawatirkan ia
tertimpa kemurkaan Allah. (Lihat al-Fuuthaat al-Rabbaniyah: 3/701)
Allah
siapkan balasan terbaik untuknya, yakni ampunan untuknya sehingga dihapuskan
dosa-dosanya, ditutupi aib-aibnya, dilapangkan rizkinya, dijaga fisiknya,
dipelihara hartanya, mendapat kucuran barakah, semakin meningkat kualitas
agamanya, menjapatkan jaminan keamanan di dunia dan akhirat, dan mendapat
keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dosa
yang akan diampuni dengan doa istighfar ini bukan hanya dosa-dosa kecil, tapi
juga dosa besar. Bahkan dosa yang terkategori min akbaril dzunub (dosa
paling besar), yaitu lari dari medan perang, “. . . walaupun ia pernah
lari dari medan perang.”
Lari
dari medan perang adalah lari meninggalkan medan jihad fi sabilillah saat
berkecamuk peperangan melawan orang kafir. Ini menunjukkan bahwa melalui doa
istighfar yang agung ini Allah akan mengampuni dosa-dosa terbesar yang tidak
memiliki konsekuensi hukuman jiwa dan harta seperti lari dari medan perang dan
dosa-dosa semisalnya. Jika hamba mengucapkan doa di atas dengan ikhlash, jujur,
memahami makna-maknanya; niscaya ia akan mendapatkan kabar gembira maghfirah
yang agung ini.
Setiap
diri kita dipenuhi dosa dan kesalahan; bisa berupa tidak menunaikan kesyukuran,
tidak menunaikan perintahnya, tidak meninggalkan larangan-Nya, menyia-nyiakan
kesempatan yang dibeirkan-Nya, lalai dari mengingat-Nya, dan sebagainya.
Dosa-dosa tersebut akan membuat sesak dada, menghilangkan keberkahan hidup,
mempersempit rizki, membuat berat menjalankan ketaatan, menjadi sebab datangnya
berbagai kesulitan, dan di akhirat menjadi sebab kegelapan dan kesengsaraan.
Karenanya setiap kita membutuhkan ampunan Allah setiap saat. Doa istighfar ini
menjadi salah satu alternatif dan saranan meraih ampunan-Nya. Wallahu A’lam.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar