D U A K E S A D A R A N
Semua manusia ingin hidup bahagia, sejahtera, mulya, jaya, sukses baik di dunia
apalagi di akhirat kelak. Dalam rangka mewujudkan keinginannya tersebut, mereka
berusaha dan berjuang (Juhud) dengan berbagai macam cara. Tidak
tanggung-tanggung, mereka rela berkorban diri, harta, banting tulang peras
keringat, mencurahkan segala kemanpuan akal dan fikir, serta segala potensi
yang ada pada diri mereka. Bahkan dalam rangka mewujudkan keinginannya tersebut
mereka rela korban nyawa sekalipun.
Namun semua itu titik pangkalnya (underane) dalam rangka
untuk meningkatkan taraf hidupnya baik berupa : harta, kedudukan/jabatan,
tempat tinggal, anak, wanita (lawan jenis), perhiasan yang serba nampak ini, maupun yang non-material berupa
: pengaruh, pujian dan celaan, kebesaran-kebesaran diri, nilai “Waah”, dan
seterusnya.
Bila hal-hal tersebut di atas datang
kepada kita, maka kita merasa, “Inilah kemuliaan”, yang nantinya akan
membahagiakan kehidupan kita, sehingga kita gunakan waktu demi waktu hampir
terpenuhi untuk mengejar dan menaikkan taraf hidup ini. Namun bagaimana
hasilnya? Kebahagiaan, ketentraman, rasa aman dan lain sebagainya, tidak
kunjung datang, namun nafsu dalam diri kita menggambarkan : “Ooh, bukan tidak
datang, tetapi akan datang bila fasilitas/ taraf kehidupan cukup (cukup dalam
arti syahwati). Maka akhirnya dikejarnya terus dunia ini, dikira itulah tempat
kebahagiaan, padahal hal itu ibarat bagaikan fatamorgana saja.
Di dunia ini (yang didalamnya terdapat
berbagai macam kesenangan berupa harta, uang,…, pengaruh, fasilitas-fasilitas
hidup), diciptakan Allah SWT tidak akan
lepas dari sifatnya – dzatiyahnya — adalah : kesenangan yang sedikit (QS. 9 :
98),
z`ÏBur É>#{ôãF{$# `tB äÏGt $tB ß,ÏÿZã $YBtøótB ßÈ/utItur â/ä3Î/ tͬ!#ur¤$!$# 4 óOÎgøn=tæ äotͬ!#y Ïäöq¡¡9$# 3 ª!$#ur ììÏJy ÒOÎ=tæ ÇÒÑÈ
z`ÏBur É>#{ôãF{$# `tB äÏGt $tB ß,ÏÿZã $YBtøótB ßÈ/utItur â/ä3Î/ tͬ!#ur¤$!$# 4 óOÎgøn=tæ äotͬ!#y Ïäöq¡¡9$# 3 ª!$#ur ììÏJy ÒOÎ=tæ ÇÒÑÈ
98. Di antara orang-orang
Arab Badwi itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan
Allah), sebagi suatu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu,
merekalah yang akan ditimpa marabahaya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui.
kesenangan yang menipu daya (QS. 3 :185), sesuatu permainan, sesuatu yang melalaikan
(QS. 57 : 20). Akan diberi alasan apapun, dipromosikan dan lain sebagainya
dzatiyah dunia tidak akan lepas dari sifat-sifat tersebut. Namun bagaimana
sikap ummat Islam (kita termasuk di dalamnya) memandang dunia?
“Dunia”
kita pandang sesuatu yang “besar”, sesuatu yang “penting”. Sehingga hari- hari
yang memenuhi fikir dan benak kita, yang kita bicarakan, yang terngiang-ngiang
di telinga adalah, masalah dunia. Sampai ke tingkat apa yang dinamakan “mabuk
dunia”. Mengapa kebesaran nilai-nilai dunia yang masuk ke hati kita?
Karena :
1.
Kita
tidak tahu ada sesuatu yang jauh-jauh lebih besar daripada dunia.
2.
Usaha
dan perjuangan kita : yang kita fikir, yang kita dengar, yang kita omongkan/
bicarakan, yang kita lihat (lewat 4 saluran panca indera) – hari demi hari, yaa
dunia, karena ya namanya mabuk, maka dunia yang kecil kita pandang besar;
sedang Akhirat yang besar kita pandang kecil.
Malangnya
hari ini, ummat Islam sedang dalam keadaan semacam di atas. Kapan sadarnya??!
Dua keadaan yang menjadikan manusia
berada dalam kesadaran, yaitu :
1.
Pada
saat Maut (mati/ malaikat ‘Izroil) datang.
Pada saat itu nanti, semua yang kedatangan ‘Izroil sadar secara
penuh, mengerti dan meyakini betul-betul, mana-mana yang dapat menyelamatkan
dirinya, mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana yang bermanfaat
dan mana yang tidak bermanfaat (madlorot), bahkan mana yang mencelakakan
dirinya. Dari yang berprofesi dokter, pimpinan proyek, teknokrat, ekonom,
fikirman, guru, dosen,….dan lain-lain pekerjaan dan profesi, tidak ada
satupun pada saat maut datang, mereka minta : “Ya Allah, kembalikan kami ke
dunia sebentar saja agar aku bisa menyelesaikan proyekku, agar aku bisa
mengurusi pasienku, agar aku bisa menyelesaikan urusan-urusan ke luar negeri
dan lain-lain, “Tidak ada!!”. Tetapi hanya satu saja yang diminta (tiap-tiap
orang yang akan mati),yaitu : “Ya Allah,
kembalikan aku ke dunia sebentar saja agar aku bisa beramal sholeh” (QS.
23 : 99 – 100).
#Ó¨Lym #sÎ) uä!%y` ãNèdytnr& ßNöqyJø9$# tA$s% Éb>u ÈbqãèÅ_ö$# ÇÒÒÈ þÌj?yès9 ã@yJôãr& $[sÎ=»|¹ $yJÏù àMø.ts? 4 Hxx. 4 $yg¯RÎ) îpyJÎ=x. uqèd $ygè=ͬ!$s% ( `ÏBur NÎgͬ!#uur îyöt/ 4n<Î) ÏQöqt tbqèWyèö7ã ÇÊÉÉÈ
Artinya : “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia
berkata : “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang
shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka
dibangkitkan”. (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 99-100).
öqs9ur #ts? ÏÎ) cqãBÌôfßJø9$# (#qÝ¡Ï.$tR öNÎhÅrâäâ yZÏã óOÎgÎn/u !$oY/u $tR÷|Çö/r& $uZ÷èÏJyur $oY÷èÅ_ö$$sù ö@yJ÷ètR $·sÎ=»|¹ $¯RÎ) cqãZÏ%qãB ÇÊËÈ
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang
berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata):
"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami
(ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang yakin." (As Sajdah: 12).
Sedang untuk beramal menjadi shaleh, harus usaha atas iman. Karena tidak
menjadi amal shaleh jika tidak atas iman.
Hal-hal yang kita pandang penting di
dunia ini sehingga menyibukkan kita, mengklaim waktu, tenaga, fikir kita, maka
di sana (mulai maut datang, di qubur, Makhsyar, Shiroth,…dan seterusnya)
tidaklah penting. Yang penting adalah, nilai Iman dan Amal Shaleh. Allah SWT
nanti menanya : “Hai hamba-Ku, apakah kau tidak tahu, bahwa iman dan amal
shaleh itu yang berharga, yang bermanfaat, yang penting buat dirimu?!”; Maka
kita akan menjawab : “Ya Allah, sesungguhnya aku mengerti, bahwa iman dan amal
shaleh itu penting tetapi aku tidak menganggap penting, aku dahulukan
yang lain-lain Ya Allah, sekarang
aku baru sadar, maka kembalikan aku sebentar saja ke dunia ya Allah,
agar aku bisa beriman dan beramal shaleh”.
Kita memohon kepada Allah sampai
menangis, hingga air mata habis, mata menjadi kering lalu menangis keluar darah
hingga nanah, namun pada saat itu kesadaran yang sudah terlambat, do’a yang
tidak dikabulkan!
Bagaimana keadaan orang yang mati, tidak
siap amalnya, tidak siap bekalnya?
Ketika mayat diusung, akan diangkat lalu
berjalan menuju qubur maka orang-orang yang tidak siap menghadapi alam
berikutnya yaitu, alam Barzah, dia menjerit-jerit dengan berkata — mafhum sebuah hadits--: “Hai manusia, ke
mana kalian akan membawa aku, ke mana kalian akan membawa aku !!!”(diucapkannya
berkali-kali); Yang apabila suara tersebut didengar oleh manusia, maka manusia
menjadi pingsan. Semua makhluk mendengar jeritan mayat tersebut kecuali
manusia. Adapun orang yang siap menghadapi alam Barzakh, dia berkata :
“Segerakan aku, segerakan aku,…”.
إذا وضعت الجنازة واحتملـها الرجال على أعناقهم
، فإن كانت صالحة قالت : قدمونى، قدمونى ،
وإن كانت غير صالحة قالت : يا ويلـها أين تذهبون بها ؟ يسمع صوتها
كل شيئ إلا الإنسان ، ولو سمعه صعق. {رواه البخارى}.
“Apabila mayat itu sudah diletakkan dalam
usungan – dan dibawa oleh orang –orang lelaki di atas bahunya – yakni ke qubur,
maka bila mayat itu orang yang beramal shaleh mengucapkan : “Segerakanlah
olehmu semua – membawa aku –ke qubur”; Tetapi bila mayat itu beramal buruk, ia
berkata : Kemanakah engkau semua pergi membawa diriku ini?”. Suara mayat
tersebut dapat didengar oleh segenap makhluk selain manusia, dan seandainya
manusia itu dapat mendengarkan pasti ia tidak sadarkan diri”. (HR. Bukhari).
Dapat menjaminkah kehidupan kita yang seperti ini termasuk
orang yang siap memasuki alam Barzakh??
Sebagai sebuah
khabar lagi, bahwa keadaan orang yang tidak mempunyai bekal cukup (iman dan
amal shaleh), di quburnya adalah termasuk sengsara/ menderita; Sedangkan yang
cukup iman dan amal shalehnya, maka dia bahagia. Sekecil-kecil atau
seringan-ringan kesengsaraan di qubur, jauh lebih berat daripada kesengsaraan
di dunia. Pada saat hari kebangkitan nanti (setelah kiamat kubro), semua
manusia dibangkitkan dengan mendengar suara terompet Malaikat. Maka keadaan
orang-orang yang tidak siap iman dan amalnya terperanjat, ketakutan, maunya
tidak mau dengan hari kebangkitan tersebut padahal di quburnya pun bukan
keenakan tetapi dalam kesengsaraan, namun lebih takut lagi untuk menghadapi
alam berikutnya. Mestinya dia ingin keluar dari qubur (yang sengsara) itu,
tetapi dia lebih suka sengsara di qubur daripada dibangkitkan, yang nanti akan
dikumpulkan di Makhsyar. Hal ini memang karena memang keadaan di Makhsyar akan
jauh lebih sulit dan menderita daripada di alam qubur.
Adapun kesadaran yang belum terlambat, semoga Allah SWT memberikan kesempatan dan pertolongan-Nya
kepada kita, adalah :
2. Masukkan diri kita ke dalam “Bi’ah Iman” atau Suasana/ Milieu
Iman.
Kita ini ibarat
orang yang sedang sakit, sebagaimana gambaran di muka,-- dunia kecil kita
pandang besar, Akhirat besar kita pandang kecil. Makhluk itu lemah tidak bisa
menolong bahkan minta pertolongan tetapi kita lebih yakin kepada makhluk
daripada Allah SWT Yang Maha Kuasa Menolong hamba-hamba-Nya yang Dia (Allah) tidak butuh pertolongan kepada
siapapun. Agama ini lezat, membahagiakan dan seterusnya, tetapi keadaan kita
hari ini, amal Agama bukan lezat tetapi beban dan seterusnya.
Seseorang yang sakit
lalu diopname di rumah sakit, yang keadaan/ suasana/ mileu ruangannya bersih,
segar, rapi, indah maka orang tersebut walaupun belum diobati dengan vitamin,
obat dan sebagainya, sudah sembuh 40% karena milieunya mendukung. Apalagi
diobati dengan obat, suntikan, infus ditambah vitamin dan lain-lain, maka akan
sembuhlah segera menjadi tubuh yang sehat.
Begitu pula jiwa
kita, apabila kita keluarkan dari bi’ah (suasana) jelek lalu kita masukkan ke
dalam bi’ah Iman, maka suasanyanya saja, sudah menjadikan kesegaran jiwa,
apalagi ditherapi dengan obat-obat, vitamin-vitamin bagi jiwa itu yaitu, Amalu-Rasul
SAW., maka akan berproses dalam jiwa kita sehingga menjadi jiwa yang sehat
normal, tidak lagi mabuk tetapi dalam keadaan sadar, hidup di dunia ini sadar,
mana-mana yang menipu, mana-mana yang bermanfaat dunia akhiratnya.
Apakah kita belum berada dalam Bi’ah Iman ?
Memang kita berada di tengah-tengah mayoritas ummat
Islam, tetapi bagaimana suasananya?
Telah kita ketahui bersama, bahwa walaupun 90% ummat
Islam, tetapi suasana Bi’ah Fasad di mana-mana, kebesaran-kebesaran makhluk
lebih kita kenal, lebih memenuhi rongga hati kita, sedang hati ini hanya satu,
yang tidak mungkin ditempati dua kebesaran : makhluk dan Allah sama-sama 100%
(QS. 33 : 51). Kita lebih kenal kepada kebesaran-kebesaran dunia daripada
kebesaran Akhirat. Kita lebih kenal nilai Maal (harta) daripada nilai ‘Amal.
Beginilah bi’ah kita yang mayoritas ummat Islam. Oleh karena itu, maka :
1. Bagaimana kita seharusnya ?
2. Bagaimana agar kerja dunia kita bernilai Ukhrowi, yang akhirnya
ada nilai amal shaleh?
3. Apa sajakah Amalur-Rasul?
4. Bagaimana agar jiwa ini tidak sakit sehingga Dien (Agama) ini
lezat buat jiwa kita?
5. Dengan apa kebahagiaan, ketentraman, rasa aman, selamat, sukses
dunia akhirat tercapai?
Demikianlah sedikit
pertanyaan dan lontaran-lontaran pemikiran buat kita, semoga terpanggil jiwa
kita untuk menyambutnya dalam rangka sukses dunia dan akhirat nanti. Insya
Allah. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar