Jumat, 13 Maret 2015

D U A K E S A D A R A N


D U A   K E S A D A R A N


Semua manusia ingin  hidup bahagia,  sejahtera, mulya, jaya, sukses baik di dunia apalagi di akhirat kelak. Dalam rangka mewujudkan keinginannya tersebut, mereka berusaha dan berjuang (Juhud) dengan berbagai macam cara. Tidak tanggung-tanggung, mereka rela berkorban diri, harta, banting tulang peras keringat, mencurahkan segala kemanpuan akal dan fikir, serta segala potensi yang ada pada diri mereka. Bahkan dalam rangka mewujudkan keinginannya tersebut mereka rela korban nyawa sekalipun.  
Namun semua itu titik pangkalnya (underane) dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidupnya baik berupa : harta, kedudukan/jabatan, tempat tinggal, anak, wanita (lawan jenis), perhiasan yang  serba nampak ini, maupun yang non-material berupa : pengaruh, pujian dan celaan, kebesaran-kebesaran diri, nilai “Waah”, dan seterusnya.
        Bila hal-hal tersebut di atas datang kepada kita, maka kita merasa, “Inilah kemuliaan”, yang nantinya akan membahagiakan kehidupan kita, sehingga kita gunakan waktu demi waktu hampir terpenuhi untuk mengejar dan menaikkan taraf hidup ini. Namun bagaimana hasilnya? Kebahagiaan, ketentraman, rasa aman dan lain sebagainya, tidak kunjung datang, namun nafsu dalam diri kita menggambarkan : “Ooh, bukan tidak datang, tetapi akan datang bila fasilitas/ taraf kehidupan cukup (cukup dalam arti syahwati). Maka akhirnya dikejarnya terus dunia ini, dikira itulah tempat kebahagiaan, padahal hal itu ibarat bagaikan fatamorgana saja.
        Di dunia ini (yang didalamnya terdapat berbagai macam kesenangan berupa harta, uang,…, pengaruh, fasilitas-fasilitas hidup), diciptakan Allah SWT  tidak akan lepas dari sifatnya – dzatiyahnya — adalah : kesenangan yang sedikit (QS. 9 : 98),
z`ÏBur É>#{ôãF{$# `tB äÏ­Gtƒ $tB ß,ÏÿZム$YBtøótB ßÈ­/uŽtItƒur â/ä3Î/ tÍ¬!#ur¤$!$# 4 óOÎgøŠn=tæ äotÍ¬!#yŠ Ïäöq¡¡9$# 3 ª!$#ur ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÒÑÈ
z`ÏBur É>#{ôãF{$# `tB äÏ­Gtƒ $tB ß,ÏÿZム$YBtøótB ßÈ­/uŽtItƒur â/ä3Î/ tÍ¬!#ur¤$!$# 4 óOÎgøŠn=tæ äotÍ¬!#yŠ Ïäöq¡¡9$# 3 ª!$#ur ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÒÑÈ
98.  Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah), sebagi suatu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.



 kesenangan yang menipu daya (QS. 3 :185),     sesuatu permainan, sesuatu yang melalaikan (QS. 57 : 20). Akan diberi alasan apapun, dipromosikan dan lain sebagainya dzatiyah dunia tidak akan lepas dari sifat-sifat tersebut. Namun bagaimana sikap ummat Islam (kita termasuk di dalamnya) memandang dunia?
“Dunia” kita pandang sesuatu yang “besar”, sesuatu yang “penting”. Sehingga hari- hari yang memenuhi fikir dan benak kita, yang kita bicarakan, yang terngiang-ngiang di telinga adalah, masalah dunia. Sampai ke tingkat apa yang dinamakan “mabuk dunia”. Mengapa kebesaran nilai-nilai dunia yang masuk ke hati kita?
Karena :
1.  Kita tidak tahu ada sesuatu yang jauh-jauh lebih besar daripada dunia.
2.  Usaha dan perjuangan kita : yang kita fikir, yang kita dengar, yang kita omongkan/ bicarakan, yang kita lihat (lewat 4 saluran panca indera) – hari demi hari, yaa dunia, karena ya namanya mabuk, maka dunia yang kecil kita pandang besar; sedang Akhirat yang besar kita pandang kecil.

Malangnya hari ini, ummat Islam sedang dalam keadaan semacam di atas. Kapan sadarnya??!

        Dua keadaan yang menjadikan manusia berada dalam kesadaran, yaitu :
1.  Pada saat Maut (mati/ malaikat ‘Izroil) datang.
Pada saat itu nanti, semua yang kedatangan ‘Izroil sadar secara penuh, mengerti dan meyakini betul-betul, mana-mana yang dapat menyelamatkan dirinya, mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat (madlorot), bahkan mana yang mencelakakan dirinya. Dari yang berprofesi dokter, pimpinan proyek, teknokrat, ekonom, fikirman, guru, dosen,….dan lain-lain pekerjaan dan profesi, tidak ada satupun pada saat maut datang, mereka minta : “Ya Allah, kembalikan kami ke dunia sebentar saja agar aku bisa menyelesaikan proyekku, agar aku bisa mengurusi pasienku, agar aku bisa menyelesaikan urusan-urusan ke luar negeri dan lain-lain, “Tidak ada!!”. Tetapi hanya satu saja yang diminta (tiap-tiap orang yang akan mati),yaitu :  “Ya Allah, kembalikan aku ke dunia sebentar saja agar aku bisa beramal sholeh” (QS. 23 : 99 – 100).
#Ó¨Lym #sŒÎ) uä!%y` ãNèdytnr& ßNöqyJø9$# tA$s% Éb>u ÈbqãèÅ_ö$# ÇÒÒÈ þÌj?yès9 ã@yJôãr& $[sÎ=»|¹ $yJŠÏù àMø.ts? 4 Hxx. 4 $yg¯RÎ) îpyJÎ=x. uqèd $ygè=ͬ!$s% ( `ÏBur NÎgͬ!#uur îˆyöt/ 4n<Î) ÏQöqtƒ tbqèWyèö7ムÇÊÉÉÈ
Artinya : “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 99-100).
öqs9ur #ts? ÏŒÎ) šcqãB̍ôfßJø9$# (#qÝ¡Ï.$tR öNÎhÅrâäâ yZÏã óOÎgÎn/u !$oY­/u $tR÷Ž|Çö/r& $uZ÷èÏJyur $oY÷èÅ_ö$$sù ö@yJ÷ètR $·sÎ=»|¹ $¯RÎ) šcqãZÏ%qãB ÇÊËÈ
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (As Sajdah: 12).

Sedang untuk beramal menjadi shaleh, harus usaha atas iman. Karena tidak menjadi amal shaleh jika tidak atas iman.
        Hal-hal yang kita pandang penting di dunia ini sehingga menyibukkan kita, mengklaim waktu, tenaga, fikir kita, maka di sana (mulai maut datang, di qubur, Makhsyar, Shiroth,…dan seterusnya) tidaklah penting. Yang penting adalah, nilai Iman dan Amal Shaleh. Allah SWT nanti menanya : “Hai hamba-Ku, apakah kau tidak tahu, bahwa iman dan amal shaleh itu yang berharga, yang bermanfaat, yang penting buat dirimu?!”; Maka kita akan menjawab : “Ya Allah, sesungguhnya aku mengerti, bahwa iman dan amal shaleh itu penting tetapi aku tidak menganggap penting, aku dahulukan yang lain-lain        Ya Allah, sekarang aku baru sadar, maka kembalikan aku sebentar saja ke dunia ya Allah, agar aku bisa beriman dan beramal shaleh”.
        Kita memohon kepada Allah sampai menangis, hingga air mata habis, mata menjadi kering lalu menangis keluar darah hingga nanah, namun pada saat itu kesadaran yang sudah terlambat, do’a yang tidak dikabulkan!
        Bagaimana keadaan orang yang mati, tidak siap amalnya, tidak siap bekalnya?
        Ketika mayat diusung, akan diangkat lalu berjalan menuju qubur maka orang-orang yang tidak siap menghadapi alam berikutnya yaitu, alam Barzah, dia menjerit-jerit dengan berkata  — mafhum sebuah hadits--: “Hai manusia, ke mana kalian akan membawa aku, ke mana kalian akan membawa aku !!!”(diucapkannya berkali-kali); Yang apabila suara tersebut didengar oleh manusia, maka manusia menjadi pingsan. Semua makhluk mendengar jeritan mayat tersebut kecuali manusia. Adapun orang yang siap menghadapi alam Barzakh, dia berkata : “Segerakan aku, segerakan aku,…”.
إذا وضعت الجنازة واحتملـها الرجال على أعناقهم ، فإن كانت صالحة  قالت : قدمونى، قدمونى ، وإن كانت غير صالحة  قالت : يا ويلـها  أين تذهبون بها ؟  يسمع صوتها  كل  شيئ إلا  الإنسان ، ولو سمعه صعق. {رواه البخارى}.
“Apabila mayat itu sudah diletakkan dalam usungan – dan dibawa oleh orang –orang lelaki di atas bahunya – yakni ke qubur, maka bila mayat itu orang yang beramal shaleh mengucapkan : “Segerakanlah olehmu semua – membawa aku –ke qubur”; Tetapi bila mayat itu beramal buruk, ia berkata : Kemanakah engkau semua pergi membawa diriku ini?”. Suara mayat tersebut dapat didengar oleh segenap makhluk selain manusia, dan seandainya manusia itu dapat mendengarkan pasti ia tidak sadarkan diri”. (HR. Bukhari).

        Dapat menjaminkah kehidupan kita yang seperti ini termasuk orang yang siap memasuki alam Barzakh??
Sebagai sebuah khabar lagi, bahwa keadaan orang yang tidak mempunyai bekal cukup (iman dan amal shaleh), di quburnya adalah termasuk sengsara/ menderita; Sedangkan yang cukup iman dan amal shalehnya, maka dia bahagia. Sekecil-kecil atau seringan-ringan kesengsaraan di qubur, jauh lebih berat daripada kesengsaraan di dunia. Pada saat hari kebangkitan nanti (setelah kiamat kubro), semua manusia dibangkitkan dengan mendengar suara terompet Malaikat. Maka keadaan orang-orang yang tidak siap iman dan amalnya terperanjat, ketakutan, maunya tidak mau dengan hari kebangkitan tersebut padahal di quburnya pun bukan keenakan tetapi dalam kesengsaraan, namun lebih takut lagi untuk menghadapi alam berikutnya. Mestinya dia ingin keluar dari qubur (yang sengsara) itu, tetapi dia lebih suka sengsara di qubur daripada dibangkitkan, yang nanti akan dikumpulkan di Makhsyar. Hal ini memang karena memang keadaan di Makhsyar akan jauh lebih sulit dan menderita daripada di alam qubur.

        Adapun kesadaran yang belum terlambat, semoga Allah SWT  memberikan kesempatan dan pertolongan-Nya kepada kita, adalah :

2.  Masukkan diri kita ke dalam “Bi’ah Iman” atau Suasana/ Milieu Iman. 
Kita ini ibarat orang yang sedang sakit, sebagaimana gambaran di muka,-- dunia kecil kita pandang besar, Akhirat besar kita pandang kecil. Makhluk itu lemah tidak bisa menolong bahkan minta pertolongan tetapi kita lebih yakin kepada makhluk daripada Allah SWT Yang Maha Kuasa Menolong hamba-hamba-Nya yang  Dia (Allah) tidak butuh pertolongan kepada siapapun. Agama ini lezat, membahagiakan dan seterusnya, tetapi keadaan kita hari ini, amal Agama bukan lezat tetapi beban dan seterusnya.
Seseorang yang sakit lalu diopname di rumah sakit, yang keadaan/ suasana/ mileu ruangannya bersih, segar, rapi, indah maka orang tersebut walaupun belum diobati dengan vitamin, obat dan sebagainya, sudah sembuh 40% karena milieunya mendukung. Apalagi diobati dengan obat, suntikan, infus ditambah vitamin dan lain-lain, maka akan sembuhlah segera menjadi tubuh yang sehat.
Begitu pula jiwa kita, apabila kita keluarkan dari bi’ah (suasana) jelek lalu kita masukkan ke dalam bi’ah Iman, maka suasanyanya saja, sudah menjadikan kesegaran jiwa, apalagi ditherapi dengan obat-obat, vitamin-vitamin bagi jiwa itu yaitu, Amalu-Rasul SAW., maka akan berproses dalam jiwa kita sehingga menjadi jiwa yang sehat normal, tidak lagi mabuk tetapi dalam keadaan sadar, hidup di dunia ini sadar, mana-mana yang menipu, mana-mana yang bermanfaat dunia akhiratnya.
Apakah kita belum berada dalam Bi’ah Iman ?
Memang kita berada di tengah-tengah mayoritas ummat Islam, tetapi bagaimana suasananya?
Telah kita ketahui bersama, bahwa walaupun 90% ummat Islam, tetapi suasana Bi’ah Fasad di mana-mana, kebesaran-kebesaran makhluk lebih kita kenal, lebih memenuhi rongga hati kita, sedang hati ini hanya satu, yang tidak mungkin ditempati dua kebesaran : makhluk dan Allah sama-sama 100% (QS. 33 : 51). Kita lebih kenal kepada kebesaran-kebesaran dunia daripada kebesaran Akhirat. Kita lebih kenal nilai Maal (harta) daripada nilai ‘Amal.
Beginilah bi’ah kita yang mayoritas ummat Islam. Oleh karena itu, maka :
1.  Bagaimana kita seharusnya ?
2.  Bagaimana agar kerja dunia kita bernilai Ukhrowi, yang akhirnya ada nilai amal shaleh?
3.  Apa sajakah Amalur-Rasul?
4.  Bagaimana agar jiwa ini tidak sakit sehingga Dien (Agama) ini lezat buat jiwa kita?
5.  Dengan apa kebahagiaan, ketentraman, rasa aman, selamat, sukses dunia akhirat tercapai?

Demikianlah sedikit pertanyaan dan lontaran-lontaran pemikiran buat kita, semoga terpanggil jiwa kita untuk menyambutnya dalam rangka sukses dunia dan akhirat nanti. Insya Allah. Amiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar