Penolakan Rasulullah SAW.
Meninggalkan Dakwah
(Hayaatush
Shahabah Jilid 1 hal. 40 – 47)
“Wahai paman,
seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku,
sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah
memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”
Kemudian Rasulullah SAW.
menengadahkan kepalanya ke langit dan bersabda, “Demi Allah, aku tidak berusaha
untuk meninggalkan apa yang telah diamanahkan, walaupun salah seorang dari
kalian membakarku dengan api dari cahaya matahari ini.”
Di dalam riwayat oleh
Baihaqi dikatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Nabi SAW., “Wahai
keponakanku, sesungguhnya kaummu telah datang menemuiku dan mereka berkata ini
dan itu, maka kasihanilah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan
urusan yang tidak mampu dipikul olehku dan olehmu. Maka jauhilah mereka dari
perkataan yang dapat menyakiti mereka.”
Kata-kata itu telah
membuat Rasulullah SAW. mengira bahwa pamannya akan meninggalkannya, tidak
memberi perlindungan lagi dalam menjlankan usaha dakwah, rela menyerahkannya,
dan tidak mampu lagi untuk berdiri di pihaknya. Rasulullah SAW. bersabda,
“Wahai paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di
tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga
Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”
Kemudian
berlinanganlah air mata Rasulullah SAW. karena menangis. Setelah itu perawi
meriwayatkan hadits sebagaimana yang akan disebutkan nanti.
Dikeluarkan oleh Abd
bin Huamid di dalam kitab musnadnya, dari Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya,
dari Jabir bin Abdullah RA. katanya : Pada suatu hari kaum Quraisy berkumpul
dan mereka berkata, “Carilah seorang di antara kalian yang paling tahu tentang
sihir, nujum dan syair, kemudian temuilah lelaki ini (Rasulullah SAW.) yang telah
memecah belah persatuan kita, mencerai beraikan urusan kita, dan mencaci maki
agama kita. Lalu biarkan dia mengajak Muhammad bicara dan memperhatikan apa
jawaban Muhammad kepadanya.”
Mereka berkata, “Kami
tidak mengetahui seorang pun yang lebih pandai dalam urusan ini selain Utbah
bin Rabiah.”
Mereka berkata lagi,
“Pergilah, hai Abu al Walid (Utbah).”
Utbah pun pergi
menemui Rasulullah SAW. dan berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau lebih baik
dari Abdullah?”
Rasulullah SAW. hanya
terdiam mendengar pertanyaan itu. Utbah bertanya lagi, “Apakah engkau lebih
baik dari Abdul Muththalib?” Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Rasulullah SAW.
Utbah berkata : ”Jika
engkau mengakui bahwa mereka lebih baik daripadamu, ketahuilah bahwa mereka
telah menyembah tuhan-tuhan (berhala) yang telah engkau caci maki itu. Dan jika
engkau mengaku lebih baik daripada mereka, maka berbicaralah sehingga kami
mendengar perkataanmu. Demi Allah, sesungguhnya tidaklah kami melihat seorang
anak yang disayangi oleh kedua orang tuanya dan kaumnya, yang lebih
mendatangkan kesialan kepada kaumnya daripada kamu. Sesungguhnya engkau telah
memecah belah persatuan dan mencerai beraikan urusan kami, mencaci maki agama
kami dan mempermalukan kami di kalangan bangsa Arab sehingga tersebar kabar
kepada mereka bahwa ada seorang tukang sihir dan ahli nujum di antara kaum
Quraisy. Demi Allah, kami tidak menantikan kecuali suara yang sangat keras di
saat musibah, di mana sebagian kami berdiri di hadapan sebagian lainnya dengan
membawa pedang sampai kami saling membinasakan. Hai Muhammad, jika kau
mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan sehingga
kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy. Jika kamu ingin
menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan
menikahkanmu.”
Rasulullah SAW.
bersabda, “Sudah selesaikah pembicaraanmu?”
“Ya,” jawab Utbah.
Rasulullah SAW.
bersabda lagi, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
…” setelah mengucapkan basmalah, Rasulullah SAW. membaca ayat di bawah ini :
“Haa Miim.
Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang
dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang
mengetahui, Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan
mereka berpaling (daripadanya), maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka
berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu
seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu
ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)."
Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu,
diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka
tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(-Nya), (yaitu)
orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya
(kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang shalih, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya".
Katakanlah: "Sesungguhnya pantaskah kamu kafir kepada Yang menciptakan
bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat)
demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu
gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan
padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu
sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada
penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku
dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang
dengan suka hati". Kemudian Dia menjadikannya dalam dua masa dan Dia
mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat
dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan
sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Jika mereka berpaling, katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan
petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud". (QS.
Fushshilat : 1-13)
Utbah pun berkata :
“Hentikan! Apakah kau tidak mempunyai syair selain itu?”
“Tidak,” Rasulullah SAW.
menyahut.
Utbah bergegas kembali
kepada kaum Quraisy. Mereka bertanya : “Apa yang telah terjadi?”
Utbah menjawab : “Apa
yang kalian perintahkan untuk disampaikan telah kusampaikan semuanya tanpa ada
satu pun yang ketinggalan.”
Mereka bertanya :
“Apakah dia menjawab semua pertanyaanmu?”
“Ya,” jawab Utbah.
Dia melanjutkan : “Tidak, demi Dzat Yang telah menegakkan Ka’bah, aku tidak
memahami perkataannya sedikitpun kecuali dia mengancam kalian dengan petir
sebagaimana yang telah ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud.”
Mereka berkata : “Celakalah
kamu! Lelaki itu telah berbicara padamu dengan menggunakan bahasa Arab tetapi
mengapa kau tidak paham apa yang dikatakannya?”
“Tidak!” jawab Utbah
lagi, “Demi Allah, aku tidak memahami kata-katanya kecuali ancaman petir itu.”
Diriwayatkan oleh Baihaqi
dan yang lainnya dari al Hakim dan ia menambahnya dengan perkataan : “Jika
engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan mengikatkan panji-panji kami
untukmu dan engkau menjadi ketua kami seumur hidup.”
Dalam riwayat Baihaqi
disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW. membaca : “Jika mereka berpaling, maka
katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang
menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud.’”
Maka Utbah memegang
mulut beliau dan meminta beliau dengan hak kekerabatan agar beliau berhenti.
Utbah tidak keluar menemui keluarganya bahkan menjauhkan diri dari mereka. Maka
Abu Jahal berkata : “Demi Allah, wahai kaum Quraisy! Kami tidak berpendapat
mengenai diri Utbah selain ia telah cenderung mengikuti Muhammad, dan makanan
Muhammad telah membuatnya senang dan ridha. Hal itu tidak terjadi melainkan
karena kemiskinan yang menimpanya. Marilah ikut kami untuk menemuinya.”
Mereka pun mendatangi
Utbah lalu Abu Jahal berkata : “Demi Allah, wahai Utbah, kami tidak datang
kecuali karena engkau mulai simpati kepada Muhammad dan urusannya telah
membuatmu senang dan ridha. Jika engkau mempunyai suatu kebutuhan, maka kami
akan mengumpulkan harta kami untukmu yang lebih mencukupi daripada makanan
Muhammad itu.”
Maka Utbah sangat
marah dan bersumpah dengan nama Allah untuk tidak berbicara dengan Muhammad
selamanya.
Utbah berkata :
“Sesungguhnya kalian mengetahui bahwa aku adalah salah satu orang yang terkaya
di kalangan kaum Quraisy, tetapi aku datang menemuinya” – Utbah menceritakan
kepada mereka semua yang telah terjadi – “Dia telah menjawab pertanyaanku
dengan sesuatu yang bukanlah sihir atau syair, dan bukan juga mantera. Dia
membaca Bismillaahir Rahmaanir Rahiim … (QS. Fushshilat ayat 1-13). Maka aku
tutup mulutnya dan memintanya dengan hak kekerabatan agar ia berhenti. Dan
sesungguhnya kamu sekalian mengetahui bahwa jika Muhammad berkata-kata, ia
tidak pernah berdusta; maka aku takut seandainya adzab turun kepada kalian.”
Demikian tersebut
dalam kitab Al Bidaayah (3/26). Abu Ya’la meriwayatkan hadits ini dari Jabir RA.
seperti hadits Abd bin Humaid. Abu Nu’aim menyebutkannya dalam kitab ad Dalail
(hal. 75) semisal itu, dan al Haitsami berkata (juz 6, hal. 20) : Dalam
sanadnya terdapat al Ajlah al Kindi. Dia dikuatkan oleh Ibnu Ma’in dan lainnya,
tetapi an Nasa’I dan lainnya mendhaifkannya. Sedang rawi-rawi lainnya kuat
(dapat dipercaya).
Diriwayatkan oleh Abu
Nu’aim di dalam kitab Dala’il an Nubuwwah dari Ibnu Umar RA. bahwa kaum Quraisy
berkumpul untuk menemui Rasulullah SAW. ketika beliau sedang duduk di dalam
masjid. Utbah bin Rabi’ah berkata kepada mereka : “Tinggalkanlah aku seorang
diri agar aku dapat menemuinya dan berbicara dengannya. Barangkali aku terasa
lebih akrab dengannya daripada kalian.”
Utbah segera bangun
dan duduk berdekatan dengan Rasulullah SAW. seraya berkata: “Wahai keponakanku,
aku melihat engkau berasal dari kaum yang paling terhormat dan punya kedudukan
paling mulia di sisi kami. Namun engkau telah melakukan sesuatu kepada kaummu
yang tidak pernah seorang pun melakukan hal itu kepada kaumnya. Jika engkau
menginginkan harta dari cerita yang engkau bawa itu, maka kaummu akan
mengumpulkan harta untukmu sehingga engkau akan menjadi orang yang paling kaya
di antara kami. Jika engkau menginginkan kemuliaan, maka kami akan memuliakanmu
sehingga tiada seorangpun di antara kaummu yang lebih mulia darimu dan kami
tidak akan membuat suatu keputusan tanpa tanpa persetujuanmu. Jika perbuatanmu
itu disebabkan oleh kemasukan jin lalu engkau tidak mampu menghindarinya, maka
kami akan mengorbankan apa saja yang menjadi milik kami sehingga kami diberi
kesempatan untuk mencarikan obat penyakitmu. Jika engkau ingin jadi raja, maka
kami akan menjadikan engkau seorang raja.”
Mendengar kata-kata
itu Rasulullah SAW. bersabda : “Apakah engkau sudah selesai berbicara, wahai
Abu al Walid?”
“Ya,” jawab Utbah.
Rasulullah SAW.
membaca surat Haa Miim as Sajdah sehingga ketika Rasulullah SAW. membaca ayat
sajadah, beliau bersujud sedangkan Utbah meletakkan kedua tangannya di belakang
punggungnya, hingga Rasulullah SAW. selesai membaca ayat itu. Kemudian Utbah
bangun dalam keadaan tidak mengetahui jawaban apa yang akan dia bawa ke tempat
kaumnya beerkumpul.
Ketika kaum Quraisy
melihat Utbah, mereka berkata : “Sesungguhnya ia telah kembali dengan rupa yang
berbeda dengan keadaan ketika akan pergi menemui Muhammad.”
Utbah duduk di antara
mereka dan berkata : “Wahai kaum Quraisy, aku telah menyampaikan kepadanya apa
yang kalian perintahkan. Ketika aku telah selesai berbicara, ia mengucapkan
kata-kata yang – demi Allah – kedua telingaku belum pernah mendengar kata-kata
seperti itu. Aku tidak mengetahui apa yang telah kusampaikan kepadanya. Wahai
orang-orang Quraisy, taatilah aku pada hari ini dan kalian boleh menentangku
pada hari berikutnya. Tinggalkanlah lelaki itu dan jauhilah ia. Demi Allah! Ia
tidak akan meninggalkan agamanya. Biarkanlah apa yang terjadi antara ia dan
seluruh bangsa Arab. Seandainya ia berhasil, maka kemuliaannya akan menjadi
kemuliaanmu dan keagungannya akan menjadi keagunganmu. Jika mereka berhasil mengalahkannya,
maka kalian sudah dijaga darinya melalui tangan orang lain.”
Mereka berkata :
“Kamu telah condong kepada Muhammad dan masuk agamanya, hai Abu al-Walid.”
Demikian disebutkan
oleh Ibnu Ishaq secara lengkap seperti disebutkan dalam kitab al Bidaayah (juz
3 hal 63), dan al Baihaqi juga meriwayatkannya dengan singkat dari hadits Ibnu
Umar. Ibnu Katsir berkata dalam kitab al Bidaayah (juz 3, hal. 64) : “Hadits
ini gharib sekali dari sanad ini.”
Keistiqamahan
Rasulullah SAW. dalam Berjihad Menjalankan Tugas dari Allah untuk Menyeru
kepada Kalimat Allah
Dikeluarkan oleh Imam
Bukhari dari al Miswar bin Makhramah dan Marwan, keduanya berkata : “Rasulullah
SAW. telah keluar pada masa perjanjian Hudaibiyah.” Kemudian dia menyebutkan
sebuah hadits dengan panjang lebar sebagaimana yang akan dikemukakan dalam bab
ini, dalam Akhlak Rasulullah SAW. yang menjadi petunjuk bagi manusia. Di dalam
riwayat itu disebutkan : Ketika mereka dalam keadaan demikian, maka datanglah
Budail bin Warqa’ al Khuza’i bersama satu rombongan dari kaumnya, Bani
Khuza’ah. Mereka adalah tempat beliau meminta nasehat, sekaligus orang-orang
yang dapat dipercaya menjaga rahasia Baginda SAW. dari kalangan penduduk
Tihamah.
Budail berkata :
“Sesungguhnya kami telah meninggalkan Ka’b bia Lu’ay dan Amir bin Lu’ay dan
mereka sedang beristirahat di beberapa sumber air di Hudaibiyah. Bersama mereka
unta-unta betina yang baru saja melahirkan dan unta-unta betina yang sedang
bunting (maksudnya, mereka datang bersama sebuah rombongan yang besar). Tujuan
mereka adalah untuk memerangi engkau dan mencegah engkau mengunjungi Ka’bah.”
Rasulullah SAW.
bersabda : “Tujuan kami datang ke sini bukanlah untuk berperang, melainkan
untuk melaksanakan umrah. (Dan sesungguhnya suku Quraisy) telah dilemahkan oleh
peperangan dan dimadharati olehnya. Seandainya mereka mau, aku akan meneruskan
perdamaian dan mereka harus membiarkan aku dan suku-suku Arab lainnya. Jika aku
menang, dan mereka ingin masuk ke dalam agama yang telah dimasuki oleh manusia
ini, mereka boleh melakukannya. Kalaupun mereka tidak ingin masuk ke dalam
agama ini, maka (masa gencatan senjata belum habis sehingga) mereka bisa
istirahat dari lelahnya peperangan. Jika mereka menolak perpanjangan
perdamaian, maka demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, niscaya aku akan
memerangi mereka dengan landasan agamaku ini, sampai kepalaku terpisah dari
jasadku dan urusan Allah terlaksana.”
Dalam riwayat ath
Thabarani, dari al Miswar bin Makhramah dan Marwan (hadits marfu’), Rasulullah SAW.
bersabda : “Sungguh kasihan suku Quraisy! Peperangan telah menghabiskan mereka.
Apakah ruginya bagi mereka jika mereka membiarkan aku dan orang-orang Arab yang
lain. Seandainya bangsa Arab lainnya dapat menumpasku, maka itulah yang
dikehendaki oleh mereka. Sedang bila Allah memenangkan aku, mereka bisa memeluk
Islam secara serentak. Jika mereka menolak (Islam), mereka masih bisa berperang
dan memiliki kekuatan. Bagaimana cara berpikir orang Quraisy itu? Demi Allah,
aku akan terus memerangi mereka dengan landasan agama yang Allah mengutusku
dengannya, hingga Allah memenangkan aku atau kepalaku terlepas dari jasadnya.”
Demikian tercantum dalam kitab al Bidaayah (juz 4, hal. 165)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar