Jumat, 27 Maret 2015

Penolakan Rasulullah SAW. Meninggalkan Dakwah


Penolakan Rasulullah SAW.
Meninggalkan Dakwah
(Hayaatush Shahabah Jilid 1 hal. 40 – 47)



“Wahai paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”



Diriwayatkan oleh Thabarani dan Bukhari dalam kitab at-Tarikh dari Aqil bin Abu Thalib, katanya : Para pemuka Quraisy menemui Abu Thalib. Kemudian diriwayatkan hadits sebagaimana yang disebutkan dalam bab “Menanggung Penderitaan” yang disebutkan didalamnya bahwa Abu Thalib berkata kepada Rasulullah SAW., “Demi Allah, wahai keponakanku, aku tahu bahwa engkau orang yang sangat kupatuhi. Kaummu telah menemuiku dan menuduh bahwa engkau telah mendatangi mereka di Ka’bah di hadapan khalayak ramai dan engkau telah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati mereka. Jika engkau berpendapat bahwa lebih baik engkau membiarkan mereka dengan keadaan mereka, maka lakukanlah”.

Kemudian Rasulullah SAW. menengadahkan kepalanya ke langit dan bersabda, “Demi Allah, aku tidak berusaha untuk meninggalkan apa yang telah diamanahkan, walaupun salah seorang dari kalian membakarku dengan api dari cahaya matahari ini.”
Di dalam riwayat oleh Baihaqi dikatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Nabi SAW., “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah datang menemuiku dan mereka berkata ini dan itu, maka kasihanilah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan urusan yang tidak mampu dipikul olehku dan olehmu. Maka jauhilah mereka dari perkataan yang dapat menyakiti mereka.”
Kata-kata itu telah membuat Rasulullah SAW. mengira bahwa pamannya akan meninggalkannya, tidak memberi perlindungan lagi dalam menjlankan usaha dakwah, rela menyerahkannya, dan tidak mampu lagi untuk berdiri di pihaknya. Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”
Kemudian berlinanganlah air mata Rasulullah SAW. karena menangis. Setelah itu perawi meriwayatkan hadits sebagaimana yang akan disebutkan nanti.
Dikeluarkan oleh Abd bin Huamid di dalam kitab musnadnya, dari Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya, dari Jabir bin Abdullah RA. katanya : Pada suatu hari kaum Quraisy berkumpul dan mereka berkata, “Carilah seorang di antara kalian yang paling tahu tentang sihir, nujum dan syair, kemudian temuilah lelaki ini (Rasulullah SAW.) yang telah memecah belah persatuan kita, mencerai beraikan urusan kita, dan mencaci maki agama kita. Lalu biarkan dia mengajak Muhammad bicara dan memperhatikan apa jawaban Muhammad kepadanya.”
Mereka berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih pandai dalam urusan ini selain Utbah bin Rabiah.”
Mereka berkata lagi, “Pergilah, hai Abu al Walid (Utbah).”
Utbah pun pergi menemui Rasulullah SAW. dan berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau lebih baik dari Abdullah?”
Rasulullah SAW. hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Utbah bertanya lagi, “Apakah engkau lebih baik dari Abdul Muththalib?” Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Rasulullah SAW.
Utbah berkata : ”Jika engkau mengakui bahwa mereka lebih baik daripadamu, ketahuilah bahwa mereka telah menyembah tuhan-tuhan (berhala) yang telah engkau caci maki itu. Dan jika engkau mengaku lebih baik daripada mereka, maka berbicaralah sehingga kami mendengar perkataanmu. Demi Allah, sesungguhnya tidaklah kami melihat seorang anak yang disayangi oleh kedua orang tuanya dan kaumnya, yang lebih mendatangkan kesialan kepada kaumnya daripada kamu. Sesungguhnya engkau telah memecah belah persatuan dan mencerai beraikan urusan kami, mencaci maki agama kami dan mempermalukan kami di kalangan bangsa Arab sehingga tersebar kabar kepada mereka bahwa ada seorang tukang sihir dan ahli nujum di antara kaum Quraisy. Demi Allah, kami tidak menantikan kecuali suara yang sangat keras di saat musibah, di mana sebagian kami berdiri di hadapan sebagian lainnya dengan membawa pedang sampai kami saling membinasakan. Hai Muhammad, jika kau mempunyai keinginan, kami akan mengumpulkan untukmu segala kekayaan sehingga kamu akan menjadi orang yang terkaya di antara kaum Quraisy. Jika kamu ingin menikah, pilihlah sepuluh wanita yang paling kamu sukai dan kami akan menikahkanmu.”
Rasulullah SAW. bersabda, “Sudah selesaikah pembicaraanmu?”
“Ya,” jawab Utbah.
Rasulullah SAW. bersabda lagi, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang …” setelah mengucapkan basmalah, Rasulullah SAW. membaca ayat di bawah ini :

Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya), maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(-Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya". Katakanlah: "Sesungguhnya pantaskah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Kemudian Dia menjadikannya dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud". (QS. Fushshilat : 1-13)

Utbah pun berkata : “Hentikan! Apakah kau tidak mempunyai syair selain itu?”
“Tidak,” Rasulullah SAW. menyahut.
Utbah bergegas kembali kepada kaum Quraisy. Mereka bertanya : “Apa yang telah terjadi?”
Utbah menjawab : “Apa yang kalian perintahkan untuk disampaikan telah kusampaikan semuanya tanpa ada satu pun yang ketinggalan.”
Mereka bertanya : “Apakah dia menjawab semua pertanyaanmu?”
“Ya,” jawab Utbah. Dia melanjutkan : “Tidak, demi Dzat Yang telah menegakkan Ka’bah, aku tidak memahami perkataannya sedikitpun kecuali dia mengancam kalian dengan petir sebagaimana yang telah ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud.”
Mereka berkata : “Celakalah kamu! Lelaki itu telah berbicara padamu dengan menggunakan bahasa Arab tetapi mengapa kau tidak paham apa yang dikatakannya?”
“Tidak!” jawab Utbah lagi, “Demi Allah, aku tidak memahami kata-katanya kecuali ancaman petir itu.”
Diriwayatkan oleh Baihaqi dan yang lainnya dari al Hakim dan ia menambahnya dengan perkataan : “Jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan mengikatkan panji-panji kami untukmu dan engkau menjadi ketua kami seumur hidup.”
Dalam riwayat Baihaqi disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW. membaca : “Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud.’”
Maka Utbah memegang mulut beliau dan meminta beliau dengan hak kekerabatan agar beliau berhenti. Utbah tidak keluar menemui keluarganya bahkan menjauhkan diri dari mereka. Maka Abu Jahal berkata : “Demi Allah, wahai kaum Quraisy! Kami tidak berpendapat mengenai diri Utbah selain ia telah cenderung mengikuti Muhammad, dan makanan Muhammad telah membuatnya senang dan ridha. Hal itu tidak terjadi melainkan karena kemiskinan yang menimpanya. Marilah ikut kami untuk menemuinya.”
Mereka pun mendatangi Utbah lalu Abu Jahal berkata : “Demi Allah, wahai Utbah, kami tidak datang kecuali karena engkau mulai simpati kepada Muhammad dan urusannya telah membuatmu senang dan ridha. Jika engkau mempunyai suatu kebutuhan, maka kami akan mengumpulkan harta kami untukmu yang lebih mencukupi daripada makanan Muhammad itu.”
Maka Utbah sangat marah dan bersumpah dengan nama Allah untuk tidak berbicara dengan Muhammad selamanya.
Utbah berkata : “Sesungguhnya kalian mengetahui bahwa aku adalah salah satu orang yang terkaya di kalangan kaum Quraisy, tetapi aku datang menemuinya” – Utbah menceritakan kepada mereka semua yang telah terjadi – “Dia telah menjawab pertanyaanku dengan sesuatu yang bukanlah sihir atau syair, dan bukan juga mantera. Dia membaca Bismillaahir Rahmaanir Rahiim … (QS. Fushshilat ayat 1-13). Maka aku tutup mulutnya dan memintanya dengan hak kekerabatan agar ia berhenti. Dan sesungguhnya kamu sekalian mengetahui bahwa jika Muhammad berkata-kata, ia tidak pernah berdusta; maka aku takut seandainya adzab turun kepada kalian.”
Demikian tersebut dalam kitab Al Bidaayah (3/26). Abu Ya’la meriwayatkan hadits ini dari Jabir RA. seperti hadits Abd bin Humaid. Abu Nu’aim menyebutkannya dalam kitab ad Dalail (hal. 75) semisal itu, dan al Haitsami berkata (juz 6, hal. 20) : Dalam sanadnya terdapat al Ajlah al Kindi. Dia dikuatkan oleh Ibnu Ma’in dan lainnya, tetapi an Nasa’I dan lainnya mendhaifkannya. Sedang rawi-rawi lainnya kuat (dapat dipercaya).
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Dala’il an Nubuwwah dari Ibnu Umar RA. bahwa kaum Quraisy berkumpul untuk menemui Rasulullah SAW. ketika beliau sedang duduk di dalam masjid. Utbah bin Rabi’ah berkata kepada mereka : “Tinggalkanlah aku seorang diri agar aku dapat menemuinya dan berbicara dengannya. Barangkali aku terasa lebih akrab dengannya daripada kalian.”
Utbah segera bangun dan duduk berdekatan dengan Rasulullah SAW. seraya berkata: “Wahai keponakanku, aku melihat engkau berasal dari kaum yang paling terhormat dan punya kedudukan paling mulia di sisi kami. Namun engkau telah melakukan sesuatu kepada kaummu yang tidak pernah seorang pun melakukan hal itu kepada kaumnya. Jika engkau menginginkan harta dari cerita yang engkau bawa itu, maka kaummu akan mengumpulkan harta untukmu sehingga engkau akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kemuliaan, maka kami akan memuliakanmu sehingga tiada seorangpun di antara kaummu yang lebih mulia darimu dan kami tidak akan membuat suatu keputusan tanpa tanpa persetujuanmu. Jika perbuatanmu itu disebabkan oleh kemasukan jin lalu engkau tidak mampu menghindarinya, maka kami akan mengorbankan apa saja yang menjadi milik kami sehingga kami diberi kesempatan untuk mencarikan obat penyakitmu. Jika engkau ingin jadi raja, maka kami akan menjadikan engkau seorang raja.”
Mendengar kata-kata itu Rasulullah SAW. bersabda : “Apakah engkau sudah selesai berbicara, wahai Abu al Walid?”
“Ya,” jawab Utbah.
Rasulullah SAW. membaca surat Haa Miim as Sajdah sehingga ketika Rasulullah SAW. membaca ayat sajadah, beliau bersujud sedangkan Utbah meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya, hingga Rasulullah SAW. selesai membaca ayat itu. Kemudian Utbah bangun dalam keadaan tidak mengetahui jawaban apa yang akan dia bawa ke tempat kaumnya beerkumpul.
Ketika kaum Quraisy melihat Utbah, mereka berkata : “Sesungguhnya ia telah kembali dengan rupa yang berbeda dengan keadaan ketika akan pergi menemui Muhammad.”
Utbah duduk di antara mereka dan berkata : “Wahai kaum Quraisy, aku telah menyampaikan kepadanya apa yang kalian perintahkan. Ketika aku telah selesai berbicara, ia mengucapkan kata-kata yang – demi Allah – kedua telingaku belum pernah mendengar kata-kata seperti itu. Aku tidak mengetahui apa yang telah kusampaikan kepadanya. Wahai orang-orang Quraisy, taatilah aku pada hari ini dan kalian boleh menentangku pada hari berikutnya. Tinggalkanlah lelaki itu dan jauhilah ia. Demi Allah! Ia tidak akan meninggalkan agamanya. Biarkanlah apa yang terjadi antara ia dan seluruh bangsa Arab. Seandainya ia berhasil, maka kemuliaannya akan menjadi kemuliaanmu dan keagungannya akan menjadi keagunganmu. Jika mereka berhasil mengalahkannya, maka kalian sudah dijaga darinya melalui tangan orang lain.”
Mereka berkata : “Kamu telah condong kepada Muhammad dan masuk agamanya, hai Abu al-Walid.”
Demikian disebutkan oleh Ibnu Ishaq secara lengkap seperti disebutkan dalam kitab al Bidaayah (juz 3 hal 63), dan al Baihaqi juga meriwayatkannya dengan singkat dari hadits Ibnu Umar. Ibnu Katsir berkata dalam kitab al Bidaayah (juz 3, hal. 64) : “Hadits ini gharib sekali dari sanad ini.”


Keistiqamahan Rasulullah SAW. dalam Berjihad Menjalankan Tugas dari Allah untuk Menyeru kepada Kalimat Allah
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari al Miswar bin Makhramah dan Marwan, keduanya berkata : “Rasulullah SAW. telah keluar pada masa perjanjian Hudaibiyah.” Kemudian dia menyebutkan sebuah hadits dengan panjang lebar sebagaimana yang akan dikemukakan dalam bab ini, dalam Akhlak Rasulullah SAW. yang menjadi petunjuk bagi manusia. Di dalam riwayat itu disebutkan : Ketika mereka dalam keadaan demikian, maka datanglah Budail bin Warqa’ al Khuza’i bersama satu rombongan dari kaumnya, Bani Khuza’ah. Mereka adalah tempat beliau meminta nasehat, sekaligus orang-orang yang dapat dipercaya menjaga rahasia Baginda SAW. dari kalangan penduduk Tihamah.
Budail berkata : “Sesungguhnya kami telah meninggalkan Ka’b bia Lu’ay dan Amir bin Lu’ay dan mereka sedang beristirahat di beberapa sumber air di Hudaibiyah. Bersama mereka unta-unta betina yang baru saja melahirkan dan unta-unta betina yang sedang bunting (maksudnya, mereka datang bersama sebuah rombongan yang besar). Tujuan mereka adalah untuk memerangi engkau dan mencegah engkau mengunjungi Ka’bah.”
Rasulullah SAW. bersabda : “Tujuan kami datang ke sini bukanlah untuk berperang, melainkan untuk melaksanakan umrah. (Dan sesungguhnya suku Quraisy) telah dilemahkan oleh peperangan dan dimadharati olehnya. Seandainya mereka mau, aku akan meneruskan perdamaian dan mereka harus membiarkan aku dan suku-suku Arab lainnya. Jika aku menang, dan mereka ingin masuk ke dalam agama yang telah dimasuki oleh manusia ini, mereka boleh melakukannya. Kalaupun mereka tidak ingin masuk ke dalam agama ini, maka (masa gencatan senjata belum habis sehingga) mereka bisa istirahat dari lelahnya peperangan. Jika mereka menolak perpanjangan perdamaian, maka demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, niscaya aku akan memerangi mereka dengan landasan agamaku ini, sampai kepalaku terpisah dari jasadku dan urusan Allah terlaksana.”
Dalam riwayat ath Thabarani, dari al Miswar bin Makhramah dan Marwan (hadits marfu’), Rasulullah SAW. bersabda : “Sungguh kasihan suku Quraisy! Peperangan telah menghabiskan mereka. Apakah ruginya bagi mereka jika mereka membiarkan aku dan orang-orang Arab yang lain. Seandainya bangsa Arab lainnya dapat menumpasku, maka itulah yang dikehendaki oleh mereka. Sedang bila Allah memenangkan aku, mereka bisa memeluk Islam secara serentak. Jika mereka menolak (Islam), mereka masih bisa berperang dan memiliki kekuatan. Bagaimana cara berpikir orang Quraisy itu? Demi Allah, aku akan terus memerangi mereka dengan landasan agama yang Allah mengutusku dengannya, hingga Allah memenangkan aku atau kepalaku terlepas dari jasadnya.” Demikian tercantum dalam kitab al Bidaayah (juz 4, hal. 165)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar