Selasa, 31 Maret 2015

Hijrahnya Abu Salamah dan Ummu Salamah ke Madinah



Hijrahnya Abu Salamah dan Ummu Salamah ke Madinah

        Ummu Salamah R.ha menceritakan, “Ketika Abu Salamah berniat untuk berhijrah ke Madinah, maka dia mengikatkan di atas unta untuk saya. Lalu saya pun menaikinya, sedangkan anak saya Salamah bin Abi Salamah digendong. Kemudian dia menuntun unta dari depan. Ketika orang-orang dari Banu Mughirah melihatnnya, maka mereka berdiri dan berkata, “Kamu tidak bisa berbuat sekehendakmu! Bagaimana mungkin kami membiarkan kamu membawa wanita itu berjalan ke berbagai negeri.”
Ummu Salamah mengatakan, “Setelah berkata demikian, orang-orang dari Bani Mughirah itu langsung merebut kendali unta dari tangan Abu Salamah, sehingga Abu Salamah pergi berhijrah tanpa saya.” Melihat kejadian itu Kabilah Abu Salamah yaitu Bani Abdu Asad marah dan berkata, “Setelah kamu memisahkan Ummu Salamah dengan suaminya, Abu Salamah, maka kami tidak akan membiarkan anak mereka Salamah untuk tinggal di tempat kamu.” Maka mereka saling memperebutkan Salamah hingga akhirnya mereka menarik tangan Salamah hingga lepas dari badannya, kemudian Banu Abdu Asad membawanya pergi sedangkan saya ditahan oleh Banu Mughirah supaya tetap tinggal. Suami saya, Abu Salamah pergi ke Madinah dan sekarang saya terpisah dari suami dan anak saya. Setiap pagi hari saya pergi ke suatu padang untuk menangis sampai petang hari dan hal ini saya lakukan kurang lebih selama satu tahun, hingga sampai pada suatu hari ada seseorang dari Kabilah Bani Mughirah yang melewatiku sedang menangis, dia adalah paman saya. Melihat keadaan saya dia merasa kasihan lalu dia pergi mendatangi Bani Mughirah dan berkata, “Tidakkah kamu merasa kasihan melihat wanita itu menangis setiap hari karena kamu telah memisahkan dia dari suami dan anaknya?” Setelah itu kaumku berkata kepada saya, “Pergilah kamu ke tempat suamimu jika kamu ingin bertemu dengannya.” Setelah itu Kabilah Bani Abdul Asad mengembalikan puteraku. Kemudian saya pun pergi berhijrah bersama putraku, dan tidak ada seorangpun yang menyertaiku. Ketika saya sampai di Ta’im, saya bertemu dengan ‘Utsm,an bin Thalhah bin Abi Thalhah dari Bani Abdi Daar. Dia bertanya kepada saya, “Wahai binti Abi Umayah! Hendak pergi kemana engkau?” Saya menjawab, “Saya akan pergi ke Madinah untuk menemui suami saya.” Dia bertanya, “Apakah ada seseorang yang menyertaimu?” Saya menjawab, “Selain Allah dan anakku ini tidak ada seorang pun yang menyertai saya.” Dia berkata, “Demi Allah! Kalau begitu saya tidak akan membiarkan kamu berjalan sendirian.” Kemudian Utsman mengambil tali unta untuk dituntunnya, dan untaku dapat berjalan dengan cepat. Demi Allah! Saya belum pernah melihat orang Arab yang mempunyai akhlak semulia dia. Apabila kami tiba di suatu tempat peristirahatan, maka dia menyuruh unta itu supaya duduk sehingga saya dapat turun dengan mudah. Setelah itu dia membawa unta itu ke tempat teduh untuk ditambatkan, sedangkan dia beristirahat seorang diri di bawah pohon tersebut. Kemudian pada saat akan berangkat kembali, maka dia mendekatkan unta tersebut kepada saya dan berkata, “Silahkan naik!” Setelah saya naik dan duduk di atas punggung unta, maka dia menuntunnya kembali. Demikianlah sepanjang perjalanan dia memperlakukan saya hingga sampai di Madinah.
Ketika saya sampai di Quba”, di perkampungan bani Amr bin Auf, dia berkata kepada saya, “Suamimu ada di perkampungan ini, -- dan memang Abu Salamah tinggal di sana. Pergilah kamu menemuinya, semoga Allah memberkahimu.” Tidak berapa lama kemudian, Abu Salamah kembali ke Makkah. Ummu Salamah berkata, “Demi Allah! Belum pernah saya melihat suatu keluarga yang tertimpa musibah seperti musibah yang menimpa keluarga Abu Salamah. Juga belum pernah melihat teman seperjalanan yang mempunyai akhlak semulia akhlak Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah.”
Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah al Abdari masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah dan dia berhijrah bersama Khalid bin Walid.” (HR. Ibnu Ishaq dalam Kitab al-bidayah jilid III halaman 169i).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar