H a
r a m P u t u s
A s a
Firman Allah SWT :
... وَ لاَ تَايْئَسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللهِ، اِنَّه لاَ يَايْئَسُ
مِنْ رَّوْحِ اللهِ اِلاَّ اْلقَوْمُ اْلكفِرُوْنَ. يوسف:87
.... dan janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum
yang kafir. [QS. Yusuf : 87]
... وَ مَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبّه اِلاَّ الضَّآلُّوْنَ.
الحجر:56
.... tidak ada orang yang berputus asa
dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat. [QS. Al-Hijr : 56]
قُلْ يعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلى
اَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا، اِنَّه هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. الزمر:53
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS. Az-Zumar : 53]
... وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ، اِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ
رَحِيْمًا. النساء:29
..... dan janganlah kamu membunuh dirimu,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS. An-Nisaa’ : 29]
Hadits-hadits Nabi SAW :
Dari Abu Hurairah RA ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menerjunkan diri dari gunung untuk bunuh
diri, maka dia di neraka jahannam menerjunkan diri di dalamnya, kekal lagi
dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa minum racun untuk bunuh diri,
maka racunnya itu di tangannya dia meminumnya di neraka jahannam kekal lagi
dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan
senjata tajam, maka senjata tajam itu di tangannya dia melukai dengannya di
neraka jahannam, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya”. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan
Nasai]
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bunuh diri dengan menggantung diri, dia
akan menggantung diri di neraka. Orang yang menikam dirinya (dengan senjata
tajam) maka dia akan menikam dirinya di neraka. Dan orang yang bunuh diri
dengan menerjunkan diri dari tempat yang tinggi, maka dia akan menerjunkan diri
di neraka”. [HR. Bukhari]
Dari Al-Hasan Al-Bashriy ia berkata :
Telah menceritakan kepada kami Jundub bin Abdullah di Masjid ini, dan kami
tidak lupa hadits darinya itu dan kami tidak khawatir bahwa Jundub berdusta
atas nama Rasulullah SAW, Nabi SAW bersabda : Dahulu ada seorang laki-laki
mengalami luka-luka, lalu dia bunuh diri. Allah berfirman, “Hamba-Ku ini
tergesa-gesa dengan dirinya, maka Aku haramkan surga untuknya”. [HR. Bukhari]
Dalam satu riwayat (Nabi SAW bersabda) :
Dahulu diantara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang terluka,
lalu dia tidak sabar. Kemudian dia mengambil pisau lalu memotong tangannya,
maka darahnya mengalir tanpa berhenti sehingga dia mati. Allah berfirman,
“Hamba-Ku telah mendahului kehendak-Ku dengan dirinya”. [HR Bukhari]
Dari Jabir bin Samurah RA bahwasanya ada
seorang laki-laki yang mengalami luka-luka, kemudian dia menghampiri tempat
anak panah dan melukai dirinya dengan anak panah tersebut (sehingga mati). Maka
Nabi SAW tidak mau menshalatkannya.
[HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya].
Dari Abu Qilabah RA bahwasanya Tsabit bin
Dlahhak RA mengkhabarkan kepadanya bahwasanya dia pernah berbaiat kepada
Rasulullah SAW di bawah sebuah pohon. Dan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa bersumpah atas suatu sumpah dengan agama selain Islam secara dusta
dengan sengaja, maka dia sebagaimana yang dia ucapkan. Barangsiapa bunuh diri
dengan sesuatu, maka dia akan disiksa dengannya pada hari qiyamat. Tidak ada
nadzar atas seseorang pada sesuatu yang tidak dia miliki. Mela’nat orang mukmin
itu seperti membunuhnya. Barangsiapa menuduh orang mukmin dengan kekafiran,
maka dia seperti membunuhnya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan sesuatu
untuk melukainya, maka dia disiksa dengannya pada hari qiyamat”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan
Nasai dengan diringkas. Dan Tirmidzi juga meriwayatkan dan dia menshahihkannya,
lafadhnya] : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Tidak ada nadzar atas
seseorang pada apa-apa yang dia tidak memilikinya. Orang yang mela’nat orang
mukmin, seperti orang yang membunuhnya. Barangsiapa menuduh orang mukmin dengan
kekafiran, maka dia seperti membunuhnya. Barangsiapa membunuh diri dengan
sesuatu, maka pada hari qiyamat Allah akan menyiksanya dengan sesuatu yang dia
pakai untuk bunuh diri itu”.
Dari Tsabit bin Dlahhak ia berkata : Nabi
SAW bersabda, “Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam secara bohong
dan sengaja, maka dia seperti apa yang diucapkan. Barangsiapa membunuh dirinya
dengan sesuatu, maka Allah akan menyiksanya dengan sesuatu itu di neraka
jahannam”. Ini menurut riwayat Sufyan. Adapun menurut riwayat Syu’bah,
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam
secara bohong, maka dia seperti apa yang dia ucapkan. Dan barangsiapa
menyembelih (melukai) dirinya dengan sesuatu, maka dia akan dilukai dengan
sesuatu itu pada hari qiamat”.
[HR. Muslim juz I, hal 105]
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata : Saya
ikut bersama Rasulullah SAW dalam perang Hunain. Beliau bersabda terhadap
seseorang yang diketahui keislamannya, “Orang ini termasuk ahli neraka”. Ketika
kami telah memasuki peperangan, orang itu berperang dengan garang, lalu dia
terluka. Ada yang melaporkan kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, orang yang
engkau katakan sebagai ahli neraka tadi, ternyata pada hari ini berperang
dengan garang dan sekarang sudah meninggal”. Nabi SAW bersabda, “Dia ke neraka
!”. Sebagian kaum muslimin hampir-hampir merasa ragu. Pada saat demikian itu,
datang seseorang melapor, “Ternyata dia belum mati, tetapi mengalami luka parah
!”. Pada malam harinya, orang itu tidak sabar dengan lukanya, lalu dia bunuh
diri. Ketika Nabi SAW diberitahu yang demikian itu, maka beliau bersabda,
"Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan
utusan-Nya”. Kemudian beliau memerintah Bilal supaya menyeru pada orang banyak,
lalu Bilal melaksanakannya, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali jiwa
(diri) yang muslim. Dan sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang
yang jahat”. [HR. Muslim juz I, hal
105]
Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy, bahwa
Rasulullah SAW bertemu dengan orang-orang musyrik dan terjadilah peperangan.
Setelah Rasulullah SAW kembali kepada pasukannya dan yang lain pun kembali
kepada pasukan mereka, dan diantara pengikut Rasulullah SAW ada seorang yang
tidak membiarkan musuh yang lari menyendiri tanpa mengejarnya dan memukulnya
dengan pedang, orang-orang berkata, “Pada hari ini, tak seorang pun diantara
kita yang bertempur sehebat si Fulan”. Mendengar hal itu Rasulullah SAW
bersabda, “Ingat-ingatlah, dia termasuk ahli neraka”. Seseorang diantara kaum
muslimin berkata, “Aku akan selalu menyertainya”. (Rawi berkata), “Lalu orang
itupun keluar bersamanya (orang yang disabdakan Rasulullah SAW sebagai ahli
neraka). Kemanapun dia pergi, orang itu selalu menyertainya, setiap kali orang
itu berhenti iapun ikut berhenti. Dan setiap kaliorang itu berlari diapun ikut
berlari bersamanya. Lalu dia terluka parah. Kemudian dia ingin mempercepat
kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedangnya berada
diantara dua susunya, lalu dia menekankan badannya pada pedang, sehingga dia mati
bunuh diri”. Orang yang selalu menyertai itu datang kepada Rasulullah SAW dan
berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau memang utusan Allah”. Rasulullah SAW
bertanya, “Ada apa ini ?”. Orang itu menjawab, “Orang yang engkau sabdakan
sebagai ahli neraka tadi dimana orang-orang menganggap hal itu penting, maka
aku berkata, “Aku menyediakan diri untuk menyertainya”. Lalu aku keluar
mencarinya, sehingga ketika dia terluka parah, dia berusaha mempercepat
kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada
diantar dua susunya, kemudian dia menekankan badannya sehingga mati bunuh
diri". Pada saat itu Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang
orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli surga, padahal sebenarnya
dia termasuk ahli neraka. Dan ada orang yang orang banyak memandangnya beramal
dengan amal ahli neraka, padahal dia termasuk ahli surga”. [HR. Muslim juz I, hal 106]
Dari Jabir, bahwa Ath-Thufail bin Amr
Ad-Dausiy datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau
mau berada dalam benteng yang kokoh dan kuat ?”. (Benteng itu milik keluarga Daus
di zaman Jahiliyah). Rasulullah SAW menolak untuk itu, karena sudah ada yang
disimpankan Allah pada golongan Anshar. Ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah,
Ath-Thufail bin Amr juga hijrah ke sana disertai seseorang dari kaumnya.
Ternyata mereka tidak kerasan tinggal di Madinah. Kemudian orang yang menyertai
Ath-Thufail bin Amr tersebut sakit. Dia tidak sabar dengan sakitnya, maka
diambilnya anak panah bermata lebar miliknya. Dengan itu dia potong ruas-ruas
jarinya, sehingga kedua tangannya mengalirkan darah dengan deras, sehingga
mati. Suatu hari Ath-Thufail bin Amr memimpikan orang itu. Dalam mimpinya
Ath-Thufail melihat orang tersebut dalam keadaan baik, tetapi dia menutupi
kedua tangannya. Lalu Ath-Thufail bertanya, “Apa tindakan Tuhanmu terhadapmu
?”. Orang itu menjawab, “Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya SAW”.
Ath-Thufail bertanya lagi, “Kenapa aku lihat engkau menutupi kedua tanganmu ?”.
Orang itu menjawab, “Dikatakan kepadaku : “Kami tidak akan memperbaiki dirimu
apa yang telah engkau rusak”. Kemudian Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada
Rasulullah SAW, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, untuk kedua tangannya, maka
ampunilah dia”. [HR. Muslim juz I, hal
109]
Keterangan :
Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas,
jelaslah bahwa putus asa dan bunuh diri itu haram hukumnya. Namun
demikian, apabila ada orang Islam yang melakukan hal tersebut, tidak otomatis
dia menjadi kafir, dan ternyata Nabi juga memintakan ampun untuk seorang
shahabat setelah mendengar cerita mimpinya ATh-Thufail Ad-Dausiy tersebut.
Dengan demikian, apabila ada orang Islam yang mati bunuh diri, maka kitapun
tetap berkewajiban menshalatkannya. Adapun urusan dia dengan Allah, kita
serahkan pada Allah, wallaahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar