INGAT MATI (DZIKRUL MAUT)
A. Firman Allah SWT :
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [QS. Al-Anbiyaa’ : 35]
Katakanlah, "Sesungguhnya kematian
yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,
kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan
yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [QS. Al-Jum’ah : 8]
Di manasaja kamu berada, kematian akan
mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, [QS.
An-Nisaa’ : 78] 185
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Dan sesungguhnya pada hari qiyamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh
ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan. [QS. Ali Imran : 185]
B. Hadits-hadits Nabi SAW :
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata,
Rasulullah SAW bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat pemutus kesenangan, yakni
mati”. [HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi dan ia
menghasankannya]
Dari Anas RA, bahwasanya Rasulullah SAW
pernah melewati suatu majlis yang pada waktu itu orang-orang sedang tertawa.
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat pemutus kesenangan
(yaitu mati)”. Anas berkata : Aku mengira beliau bersabda, “Sesungguhnya
tidaklah mengingat mati seseorang yang sedang sempit kehidupannya, kecuali akan
menjadikannya luas. Dan tidaklah mengingat mati seseorang yang sedang dalam
keluasan, kecuali akan menjadikannya sempit”.
[HR. Al-Bazzar dengan sanad hasan]
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia
berkata : Rasulullah SAW pernah masuk ke mushalla beliau, lalu beliau melihat
orang-orang sama tertawa terkekeh-kekeh, maka beliau bersabda, “Seandainya kamu
sekalian banyak-banyak mengingat pemutus kesenangan, tentu akan menyibukkan
kepada kalian dari berbuat apa yang telah aku lihat. Maka banyak-banyaklah
mengingat pemutus kesenangan, yaitu mati. Karena tidaklah datang satu haripun
kecuali kubur itu berbicara. Kubur itu berkata, “Aku adalah rumah yang
pengasingan, aku adalah rumah penyendirian, aku adalah rumah tanah, aku adalah
rumah cacing”. Apabila seorang hamba yang mukmin dikuburkan, kubur itu berkata
kepadanya, “Marhaban wa ahlan (selamat datang di tempat yang lapang dan kamu
sebagai teman yang baik). Sesungguhnya kamu sebelumnya merupakan orang yang
menyenangkan kepadaku diantara orang yang berjalan di punggungku (di bumi) maka
hari ini waktunya aku yang menguasaimu, kamu akan melihat apa yang aku perbuat
kepadamu”. Lalu diluaskan quburnya sejauh pandangan matanya, dan dibukakan
pintu surga baginya. Tetapi apabila ada hamba yang durhaka atau orang kafir
dikuburkan, maka kubur itu berkata kepadanya, “Laa marhaban wa laa ahlan”
(Tidak ada selamat bagimu dan tidak ada kekeluargaan bagimu). Sesungguhnya kamu
dahulu merupakan orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan di
punggungku (di atas bumi), maka hari ini aku yang menguasaimu dan kamu kembali
kepadaku. Kamu akan melihat apa yang aku perbuat kepadamu”. Rasulullah SAW
bersabda, “Lalu bumi itu menghimpitnya dengan kuat hingga menghancurkan
tulang-tulang rusuknya”. Abu Sa’id berkata : Kemudian Rasulullah SAW berisyarat
dengan jari-jari beliau, beliau memasukkan sebagian jari-jari beliau pada
sebagian yang lain, seraya bersabda, “Dan dilepaskan tujuh puluh ular, yang
seandainya seekor saja menyembur bumi, maka bumi itu tidak bisa menumbuhkan
sesuatu selama dunia ada. Dan ular itu mematuk dan melukainya hingga hari
perhitungan”. Rasulullah SAW bersabda (pula), “Sesungguhnya qubur itu adalah
satu kebun dari kebun-kebun surga atau satu jurang dari jurang-jurang neraka”. [HR. Tirmidzi]
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Kami
pernah keluar bersama Rasulullah SAW untuk (mengantar) satu jenazah. Lalu
beliau duduk di dekat kubur tersebut dan bersabda, “Tidaklah satu haripun
datang pada qubur, kecuali qubur itu menyeru dengan suara yang terang lagi
jelas, “Hai anak Adam, engkau telah melupakan aku, apakah engkau tidak tahu
bahwa aku adalah rumah penyendirian, rumah pengasingan, rumah kesedihan, rumah
cacing dan rumah kesempitan, kecuali terhadap oang yang Allah meluaskan aku
padanya”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Qubur itu adalah satu kebun dari
kebun-kebun surga, atau satu jurang dari jurang-jurang neraka”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath]
Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata : Saya
datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada
seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling
cerdik dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang
paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak
mempersiapkan bekal untuk mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdik, mereka
pergi dengan membawa kemulyaan dunia dan kemulyaan akhirat”. [HR. Ibnu Abid-Dunya di dalam
kitabul-Maut. Thabrani di dalam Ash-Shaghir dengan sanad hasan. Dan Baihaqi
juga meriwayatkan di dalam kitabuz-Zuhud, dengan lafadh] : Sesungguhnya ada
seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Siapa diantara orang-orang mukmin
itu yang lebih utama ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling baik akhlaqnya
diantara mereka”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapakah diantara orang-orang
mukmin yang paling cerdik ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling banyak
ingat mati diantara mereka, dan orang yang paling baik persiapannya untuk
kehidupan selanjutnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdik”.
Dari Sahal bin Sa’ad As-Saa’idiy RA ia
berkata : Telah meninggal seorang sahabat Nabi SAW, lalu para shahabat
menyanjung-nyanjungnya dan mereka menyebutkan pula tentang kebaikan ibadahnya,
sedangkan Rasulullah SAW hanya diam saja. Setelah mereka itu diam, Rasulullah
SAW bertanya, “Apakah ia dulu banyak mengingat mati ?”. Para shahabat menjawab,
“Tidak”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah ia dulu banyak meninggalkan
kesenangan-kesenangan dunia ?”. Para shahabat menjawab, “Tidak”. Beliau
bersabda, “Temanmu itu tidak menemui banyak dari apa yang kalian sangka
kepadanya”. [HR. Thabrani dengan sanad hasan]
Dan Al-Bazzar juga meriwayatkan dari haditsnya Anas, ia berkata : Disebutkan di
sisi Nabi SAW seorang laki-laki yaitu tentang ibadah dan kesungguhannya. Kemudian
Nabi SAW bertanya, “Bagaimana ingatnya saudaramu itu kepada mati ?”. Para
shahabat menjawab, “Kami tidak pernah mendengarnya dia menyebutkan tentang
mati”. Nabi SAW bersabda, “Saudaramu itu tidak di sana”. [HR. Al-Bazzar]
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata :
Rasulullah SAW pernah bersabda di atas mimbar sedangkan orang-orang ada di
sekelilingnya, “Hai para manusia, malulah kamu sekalian kepada Allah dengan
sebenar-benarnya malu”. Lalu ada seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah,
sesungguhnya kami telah malu kepada Allah Ta’ala”. Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa diantara kalian yang malu, maka tidaklah dia bermalam satu malam
kecuali ajalnya diantara dua matanya (dia ingat bahwa mati itu dekat),
hendaklah dia menjaga perut dan apa yang dia masukkan, menjaga kepala dan yang
ia himpun, hendaklah dia ingat mati dan kehancuran, dan hendaklah ia
meninggalkan hiasan dunia”. [HR. Thabrani di
dalam Al-Ausath
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata
: Rasulullah SAW bersabda, “Malulah kamu sekalian kepada Allah dengan
sebenar-benarnya malu”. Ibnu Mas’ud berkata : Kami berkata, “Ya Nabiyallah,
sesungguhnya kami sudah malu. Alhamdulillah”. Nabi SAW bersabda, “Bukan
demikian, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu ialah kamu menjaga
kepalamu dan apa yang dimasukkannya, kamu menjaga perut dan apa yang
dihimpunnya, hendaklah kamu ingat mati dan kehancuran. Barangsiapa menginginkan
akhirat dan meninggalkan hiasan dunia, maka barangsiapa yang melakukan
demikian, sungguh dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”. [HR. Tirmidzi]
Dari Adl-Dlahhak RA ia berkata : Ada
seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapa
orang yang paling zuhud itu ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang tidak melupakan
kubur dan kehancuran, meninggalkan kelebihan hiasan dunia, mengutamakan yang
kekal dari pada yang fana, tidak menghitung besok pagi sebagai hari-harinya,
dan menghitung dirinya termasuk orang-orang yang akan mati”. [HR. Ibnu Abid-Dunya]
Dari Utsman RA, bahwasanya Nabi SAW
bersabda, “Cukuplah mati itu sebagai penasehat, dan cukuplah keyaqinan itu
sebagai kekayaan”. [HR. Thabrani]
Dari Al-Baraa’ RA, ia berkata : Dahulu
kami bersama Rasulullah SAW (menguburkan) jenazah, lalu beliau duduk di tepi
kubur dengan menangis hingga air mata beliau menetes ke tanah. Kemudian beliau
bersabda, “Wahai saudara-saudaraku, untuk seperti ini, maka bersiap-siaplah
kalian”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan]
Dari Anas RA, ia berkata : Rasulullah
SAW pernah bersabda, “Ada empat hal dari kecelakaan, yaitu : kerasnya mata
(tidak bisa menangis takut kepada Allah), kerasnya hati, panjang angan-angan,
dan rakus kepada dunia”. [HR. Al-Bazzar]
Dari Umul Walid binti Umar, ia berkata
: Rasulullah SAW pernah muncul pada suatu sore, lalu beliau bertanya, “Hai para
manusia, apakah kamu sekalian tidak malu ?”. Para shahabat menjawab, “Malu dari
apa itu ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Kamu sekalian mengumpulkan apa-apa
yang tidak kalian makan, kamu sekalian membangun apa-apa yang tidak kalian huni
dan kalian berangan-angan apa-apa yang tidak kalian dapatkan. Apakah kamu
sekalian tidak malu dari semuanya itu ?”.
[HR. Thabrani]
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata
: Rasulullah SAW bersabda, “Malulah kamu sekalian kepada Allah dengan
sebenar-benarnya malu”. Ibnu Mas’ud berkata : Kami berkata, “Ya Nabiyallah,
sesungguhnya kami sudah malu. Alhamdu lillah”. Nabi SAW bersabda, “Bukan
demikian, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu ialah kamu
menjaga kepalamu dan apa yang dimasukkannya, kamu menjaga perut dan apa yang
dihimpunnya, hendaklah kamu ingat mati dan kehancuran. Barangsiapa menginginkan
akhirat dan meninggalkan hiasan dunia, maka orang yang melakukan demikian, sungguh
dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”. [HR. Tirmidzi]
Dari Dlahhak RA ia berkata : Ada
seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah
orang yang paling zuhud itu ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang tidak melupakan
kubur dan kehancuran, meninggalkan kelebihan hiasan dunia, mengutamakan yang
kekal dari pada yang fana, tidak menghitung besok pagi sebagai hari-harinya,
dan menghitung dirinya termasuk orang-orang yang akan mati”. [HR. Ibnu Abid-Dunya]
Dari Utsman RA, bahwasanya Nabi SAW
bersabda, “Cukuplah mati itu sebagai penasehat, dan cukuplah keyaqinan itu
sebagai kekayaan”. [HR. Thabrani]
Dari Baraa’ RA, ia berkata : Dahulu
kami bersama Rasulullah SAW (menguburkan) jenazah, lalu beliau duduk di tepi
kubur dengan menangis hingga air mata beliau menetes ke tanah. Kemudian beliau
bersabda, “Wahai saudara-saudaraku, untuk seperti ini, maka bersiap-siaplah
kalian”. [HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan]
Dari Anas RA, ia berkata : Rasulullah
SAW pernah bersabda, “Ada empat hal dari kecelakaan, yaitu : kerasnya mata
(tidak bisa menangis takut kepada Allah), kerasnya hati, panjang angan-angan,
dan rakus kepada dunia”. [HR. Bazzar]
Dari Umul Walid binti Umar, ia berkata
: Rasulullah SAW pernah muncul pada suatu sore, lalu beliau bertanya, “Hai para
manusia, apakah kamu sekalian tidak malu ?”. Para shahabat menjawab, “Malu dari
apa itu ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Kamu sekalian mengumpulkan apa-apa
yang tidak kalian makan, kamu sekalian membangun apa-apa yang tidak kalian huni
dan kalian berangan-angan apa-apa yang tidak kalian dapatkan. Apakah kamu
sekalian tidak malu dari semuanya itu ?”.
[HR. Thabrani]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA ia berkata
: Rasulullah SAW memegang pundak saya lalu bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini
seolah-olah kamu orang asing atau orang yang sedang di dalam perjalanan”. Dan
Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah kamu menunggu
waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi, maka janganlah kamu menunggu
waktu sore. Beramallah di waktu sehatmu untuk simpanan di waktu sakitmu, dan
beramallah di waktu hidupmu untuk simpanan ketika matimu”. [HR. Bukhari]
Dari Mu’adz RA, ia berkata : Aku pernah
berkata, “Ya Rasulullah, berilah washiyat kepadaku”. Beliau bersabda,
“Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, hitunglah dirimu termasuk
orang-orang yang akan mati dan ingatlah kepada Allah di waktu tenang maupun di
waktu bergejolak. Apabila kamu terlanjur melakukan keburukan maka iringilah
dengan melakukan amal kebaikan, rahasia dengan rahasia dan terang-terangan
dengan terang-terangan. [HR. Thabrani]
Dari seorang laki-laki Bani Nakha’i, ia
berkata : Aku pernah mendengar Abu Darda’ ketika akan meninggal, ia berkata,
“Aku ceritakan kepada kalian sebuah hadits yang aku pernah mendengarnya dari
Rasulullah SAW”. Aku mendengar beliau SAW bersabda, “Sembahlah Allah seolah-olah
kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.
Hitunglah dirimu termasuk orang-orang yang akan mati, dan hati-hatilah kamu
dari doanya orang yang teraniaya, karena doa tersebut dikabulkan”. [HR. Thabrani]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata
: Rasulullah SAW pernah melewati saya, pada waktu itu saya sedang memperbaiki
tembok saya dan ibu saya. Beliau bersabda, “Apa ini wahai ‘Abdullah ?”. Aku
menjawab, “Ya Rasulullah, ini sudah rusak, maka dari itu kami lalu
memperbaikinya”. Beliau bersabda, “Urusan (akhirat) itu lebih cepat dari pada
yang demikian itu”. Dan dalam satu riwayat, dia
berkata : Rasulullah SAW pernah melewati kami pada waktu itu kami sedang
memperbaiki rumah kami yang rusak. Lalu beliau bertanya, “Apa ini ?”. Maka kami
menjawab, “Rumah kami yang sudah rusak, maka kami memperbaikinya”. Beliau
bersabda, “Tidaklah aku melihat urusan (akhirat) itu kecuali lebih cepat dari
yang demikian itu”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih,
Ibnu Majah dan Ibnu Hibban]
Dari ‘Abdullah, dari Nabi SAW, beliau
bersabda, “Surga itu lebih dekat kepada seseorang diantara kalian daripada tali
sandalnya, sedangkan neraka juga seperti itu”.
[HR. Bukhari]
Dari Sa’ad bin Abu Waqqash RA, ia
berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Berilah
washiyat kepadaku ya Rasulullah !”. Beliau SAW bersabda, “Wajib atasmu merasa
cukup dari apa-apa yang ada di tangan manusia. Dan hati-hatilah kamu dari
berlaku rakus, karena yang demikian itu kefakiran yang ada, dan laksanakanlah
shalatmu sedangkan kamu akan berpisah (dengan dunia) dan hati-hatilah kamu dari
melakukan kesalahan-kesalahan”.
[HR. Hakim dan Baihaqi. Hakim berkata, shahih sanadnya]
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal, sebelum
datangnya saat-saat kekacauan seperti memotongnya malam yang gelap, di waktu
pagi seseorang dalam keadaan beriman dan di waktu sore menjadi kafir. Di waktu
sore seseorang dalam keadaan beriman dan di waktu pagi menjadi kafir. Dia
menjual agamanya dengan harta benda dunia”.
[HR. Muslim]
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian untuk beramal (sebelum datangnya
enam hal), yaitu : 1. matahari terbit dari barat, 2. asap, 3. dajjal, 4.
binatang raksasa, 5. kematian, dan 6. hari qiyamat”. [HR. Muslim]
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya
tujuh hal : 1. Tidaklah kamu menunggu kecuali kemelaratan yang melupakan, atau
2. kekayaan yang menyebabkan melampaui batas, atau 3. sakit yang merusakkan,
atau 4. tua yang melemahkan pikiran, atau 5. mati yang datangnya tak terduga,
atau 6. dajjal, yaitu seburuk-buruk yang ditunggu, atau 7. hari qiyamat, karena
hari qiyamat itu sangat dahsyat lagi pahit”.
[HR. Tirmidzi, ia berkata hadits hasan].
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata :
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada seorang laki-laki, pada waktu itu beliau
sedang menasehatinya, “Jagalah lima sebelum datangnya lima. 1. masa mudamu
sebelum datang masa tuamu, 2. masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, 3. masa
kayamu sebelum datang masa melaratmu, 4. masa longgarmu sebelum datang masa
sibukmu, dan 5. jagalah masa hidupmu sebelum datang matimu”. [HR. Hakim, ia berkata shahih atas
syarat Bukhari Muslim]
Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata,
Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, “Wahai para manusia,
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah sebelum kalian mati, dan bersegeralah
kalian beramal shalih sebelumkalian disibukkan, sambunglahhubungan di antara
kalian dan antara Tuhan kalian dengan banyak ingat kepadaNya, dan memperbanyak
sedekah seccara rahasia dan terang-terangan, niscaya kalian diberi rezki
ditolong dan diberi kekuasaan” [HR. Ibnu Majah]
36. Dari Syaddad bin Aus RA, dari Nabi
SAW, beliau bersabda, “Orang yang cerdik itu adalah orang yang merendahkan
dirinya dan beramal untuk sesudah mati. Dan orang yang pendek pemikirannya itu
adalah orang yang mengikutkkan dirinya kepada kemauannya dan dia banyak
berangan-angan kepada Allah [HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, ia berkata hadits
hasan]
37. Dari Mush’ab bin Sa’ad dari
ayahnya, ia berkata, Al A’masy berkata, dan aku tidak mengetahuinya selain dari
Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Dalam segala hal pelan-pelan itu baik,
kecuali dalam hal beramal untuk akhirat” [HR. Abu Dawud, Al-Hakim dan Baihaqi.
Hakim berkata, Shahih atas syarat Bukhari Muslim]
38. Dari Abu Hurairah RA ia berkata,
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun yang meninggal dunia, kecuali
dia pasti menyesal”. Para shahabat bertanya, “Apa penyesalannya ya Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Kalau dia orang yang baik, dia menyesali kenapa tidak
menambah kebaikannya itu, tetapi apabila dia orang yang jahat, dia menyesali
kenapa dia tidak menghentikan kejahatannya itu” [HR. Tirmidzi dan Baihaqi]
Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Telah dekat terjadinya hari qiyamat, sedangkan kita
tidak menambah kepada mereka kecuali semakin jauh”. [HR. Thabrani].
Dan Hakim juga meriwayatkan dan ia
berkata, “Shahih sanadnya”. Adapun lafadhnya : Rasulullah SAW bersabda, “Telah
dekat terjadinya hari qiyamat, sedangkan manusia tidaklah bertambah pada urusan
dunia, kecuali kerakusan. Dan tidaklah kalian bertambah kecuali semakin jauh
kepada Allah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar