Selasa, 31 Maret 2015

Kisah Islamnya Zaid bin Sun’ah al-Hibri al-Israili RA



Kisah Islamnya Zaid bin Sun’ah al-Hibri al-Israili RA

        Diriwayatkan oleh Thabrani dari Abdullah bin Salam RA menceritakan, “Sesungguhnya Allah SWT. ketika ingin memberikan hidayah kepada Zaid bin Sun’ah, maka Zaid berkata, “Semua tanda kenabian sudah aku ketahui di wajah Muhammad SAW, kecuali ada dua hal yang belum aku ketahui: pertama, kesabarannya melebihi tindakan bodohnya (kemarahannya); kedua, semakin dimarahi, dia akan semakin bersabar. Maka pada suatu hari Rasulullah SAW keluar rumahnya ditemani Ali bin Abi Thalib RA. Tiba-tiba seorang dengan menaiki kendaraannya datang kepada beliau SAW sambil berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai banyak kawan di kampung bani fulan yang mana mereka semua telah memeluk Islam, sedangkan sebelumnya aku pernah mengatakan pada mereka bahwa jika mereka masuk Islam, mereka akan mendapatkan rizki yang berlimpah ruah. Namun kenyataannya, sudah setahun ini mereka ditimpa kelaparan dan kekeringan. Aku takut kalau-kalau mereka akan keluar dari Islam, karena dulu mereka masuk Islam dengan satu harapan, aku takut mereka akan keluar dari Islam karena satu-satunya harapan mereka sekarang tidak tercapai. Apabila engkau bersedia membantu mereka dengan bantuan makanan, aku bersedia membawanya.” Maka Nabi SAW menoleh kepada Ali RA, lalu Ali RA berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, tidak ada makanan yang tersisa sedikit pun.”
        Zaid bin Sun’ah melanjutkan ceritanya, “Melihat hal itu, aku segera mendekati beliau dan berkata, “Wahai Muhammad (SAW), maukah engkau berhutang uang padaku, dan sebagai pembayarannya, berikan kepadaku kurma di kebun bani fulan sampai jangka waktu tertentu?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, tidak perlu disebutkan kebun si fulan. Tetapi aku akan membayarnya padamu dengan kurma yang diketahui (jumlahnya) sampai batas waktu sekian, sekian. Dan aku tidak menyebut kebun kurma si fulan.” Aku pun setuju, “Baiklah.” Setelah disetujui, akupun mengeluarkan uang dari kantongku sebesar 80 mitsqal uang emas yang sama nilainya dengan kurma yang akan dijual padaku hingga batas waktu sekian, sekian. Lalu Rasulullah SAW memberikan uang itu kepada orang badawi tadi sambil berkata, “Bawalah uang ini untuk menolong mereka, dan bagikan kepada mereka secara adil! Zaid melanjutkan ceritanya, “Dua atau tiga hari sebelum jatuh tempo, Rasulullah SAW ditemani Abu Bakar, Umar, dan Utsman R.hum serta para sahabat lainnya keluar untuk menyalati jenazah. Selesai mengerjakan shalat jenazah, ketika beliau hendak bersandar di sebuah dinding, aku mendatangi beliau, lalu aku tarik dengan keras kerah baju dan sorban beliau sambil kupandangi beliau dengan penuh kemarahan. Aku katakan pada beliau, “Wahai Muhammad, kenapa engkau belum membayar utangmu kepadaku? Demi Allah, aku lihat semua keturunan Abdul Muthalib itu suka menunda-nunda pembayaran utang, dan hal itu telah aku ketahui sejak aku bergaul dengan kalian!” Pada saat itu aku melihat Umar, yang mana kedua matanya berputar-putar (pertanda kemarahan), lalu dia melihat padaku, dan berkata sambil marah, “Wahai musuh Allah, mengapa kamu berani bicara dan berbuat seperti itu kepada Rasulullah SAW? Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya aku tidak takut akan azab Allah, pasti sudah kupenggal kepalamu dengan pedangku ini!” Ketika itu Nabi SAW melihat padaku dengan tenang. Lalu beliau berkata kepada Umar, “Wahai Umar, bayarlah utangku kapadanya dan tambahkanlah 20 sha’ kurma sebagai ganti rugi atas ancamanmu tadi kepadanya!” Setelah itu Umar membayarkan utangku dengan tambahan sebesar 20 sha’ kurma. Lalu aku bertanya kepada Umar, “Wahai Umar, kenapa kamu memberi tambahan?” Umar RA menjawab, “Aku disuruh oleh Rasulullah SAW untuk memberikan tambahan kepadamu sebagai ganti rugi atas ancamanku tadi kepadamu.” Pada saat itu aku berkata kepada Umar, “Wahai Umar, apakah kamu mengetahui siapa diriku sebenarnya?” Umar RA menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu aku berkata, “Sesungguhnya aku adalah Zaid bin Sun’ah, seorang pendeta Yahudi.” Umar RA bertanya, “Megapa kamu berbuat sedemikian kasar pada Rasulullah SAW?” Aku menjawab, “Wahai Umar, ketika aku melihat beliau SAW, aku telah melihat semua tanda kenabian di wajahnya itu, tetapi ada dua hal yang belum aku buktikan kebenarannya, yakni kesabaran dan ketinggian budi pekerti beliau SAW. Sekarang setelah aku buktikan kedua sifat itu, maka saksikanlah wahai Umar bahwa aku masuk Islam dan saksikan pula bahwa setengah dari hartaku akan aku sedekahkan kepada kaum muslimin.” Setelah itu Umar dan Zaid kembali lagi ke majlis Rasulullah SAW. Pada saat itu Zaid langsung mengikrarkan syahadat. “Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.” Diapun beriman pada beliau, membenarkan beliau, dan berbai’at pada beliau. Selanjutnya Zaid senantiasa ikut berperang bersama Rasulullah SAW dalam beberapa peperangan dan akhirnya beliau gugur syahid pada waktu perang Tabuk ketika menuju ke Madinah. – Semoga Allah merahmati Zaid.”
        (Berkata al-Haitsami dalam kitabnya jilid VIII halaman 240, hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dan semua sanadnya adalah tsiqat/bisa dipercaya, juga oleh Ibnu Majah. Ibnu Hibban, Hakim, dan Abu Syaikh meriwayatkannya dalam kitab Akhlaqun Nabi, juga para perawi lainnya seperti terdapat dalam kitab al-Ishaabah jilid I halaman 556, dan katanya, “Seluruh sanadnya adalah bisa dipercaya.” Dan diriwayatkan  pula oleh Abu Nu’aim dalam kitab Dalaa’ilun Nubuwwah halaman 23)

Hijrahnya Abu Salamah dan Ummu Salamah ke Madinah



Hijrahnya Abu Salamah dan Ummu Salamah ke Madinah

        Ummu Salamah R.ha menceritakan, “Ketika Abu Salamah berniat untuk berhijrah ke Madinah, maka dia mengikatkan di atas unta untuk saya. Lalu saya pun menaikinya, sedangkan anak saya Salamah bin Abi Salamah digendong. Kemudian dia menuntun unta dari depan. Ketika orang-orang dari Banu Mughirah melihatnnya, maka mereka berdiri dan berkata, “Kamu tidak bisa berbuat sekehendakmu! Bagaimana mungkin kami membiarkan kamu membawa wanita itu berjalan ke berbagai negeri.”
Ummu Salamah mengatakan, “Setelah berkata demikian, orang-orang dari Bani Mughirah itu langsung merebut kendali unta dari tangan Abu Salamah, sehingga Abu Salamah pergi berhijrah tanpa saya.” Melihat kejadian itu Kabilah Abu Salamah yaitu Bani Abdu Asad marah dan berkata, “Setelah kamu memisahkan Ummu Salamah dengan suaminya, Abu Salamah, maka kami tidak akan membiarkan anak mereka Salamah untuk tinggal di tempat kamu.” Maka mereka saling memperebutkan Salamah hingga akhirnya mereka menarik tangan Salamah hingga lepas dari badannya, kemudian Banu Abdu Asad membawanya pergi sedangkan saya ditahan oleh Banu Mughirah supaya tetap tinggal. Suami saya, Abu Salamah pergi ke Madinah dan sekarang saya terpisah dari suami dan anak saya. Setiap pagi hari saya pergi ke suatu padang untuk menangis sampai petang hari dan hal ini saya lakukan kurang lebih selama satu tahun, hingga sampai pada suatu hari ada seseorang dari Kabilah Bani Mughirah yang melewatiku sedang menangis, dia adalah paman saya. Melihat keadaan saya dia merasa kasihan lalu dia pergi mendatangi Bani Mughirah dan berkata, “Tidakkah kamu merasa kasihan melihat wanita itu menangis setiap hari karena kamu telah memisahkan dia dari suami dan anaknya?” Setelah itu kaumku berkata kepada saya, “Pergilah kamu ke tempat suamimu jika kamu ingin bertemu dengannya.” Setelah itu Kabilah Bani Abdul Asad mengembalikan puteraku. Kemudian saya pun pergi berhijrah bersama putraku, dan tidak ada seorangpun yang menyertaiku. Ketika saya sampai di Ta’im, saya bertemu dengan ‘Utsm,an bin Thalhah bin Abi Thalhah dari Bani Abdi Daar. Dia bertanya kepada saya, “Wahai binti Abi Umayah! Hendak pergi kemana engkau?” Saya menjawab, “Saya akan pergi ke Madinah untuk menemui suami saya.” Dia bertanya, “Apakah ada seseorang yang menyertaimu?” Saya menjawab, “Selain Allah dan anakku ini tidak ada seorang pun yang menyertai saya.” Dia berkata, “Demi Allah! Kalau begitu saya tidak akan membiarkan kamu berjalan sendirian.” Kemudian Utsman mengambil tali unta untuk dituntunnya, dan untaku dapat berjalan dengan cepat. Demi Allah! Saya belum pernah melihat orang Arab yang mempunyai akhlak semulia dia. Apabila kami tiba di suatu tempat peristirahatan, maka dia menyuruh unta itu supaya duduk sehingga saya dapat turun dengan mudah. Setelah itu dia membawa unta itu ke tempat teduh untuk ditambatkan, sedangkan dia beristirahat seorang diri di bawah pohon tersebut. Kemudian pada saat akan berangkat kembali, maka dia mendekatkan unta tersebut kepada saya dan berkata, “Silahkan naik!” Setelah saya naik dan duduk di atas punggung unta, maka dia menuntunnya kembali. Demikianlah sepanjang perjalanan dia memperlakukan saya hingga sampai di Madinah.
Ketika saya sampai di Quba”, di perkampungan bani Amr bin Auf, dia berkata kepada saya, “Suamimu ada di perkampungan ini, -- dan memang Abu Salamah tinggal di sana. Pergilah kamu menemuinya, semoga Allah memberkahimu.” Tidak berapa lama kemudian, Abu Salamah kembali ke Makkah. Ummu Salamah berkata, “Demi Allah! Belum pernah saya melihat suatu keluarga yang tertimpa musibah seperti musibah yang menimpa keluarga Abu Salamah. Juga belum pernah melihat teman seperjalanan yang mempunyai akhlak semulia akhlak Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah.”
Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah al Abdari masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah dan dia berhijrah bersama Khalid bin Walid.” (HR. Ibnu Ishaq dalam Kitab al-bidayah jilid III halaman 169i).

Senin, 30 Maret 2015

Kesabaran Abu Bakar Menghadapi Kekuarangan Pakaian



Kesabaran Abu Bakar Menghadapi Kekuarangan Pakaian
Dan Kegembiraan Jibril AS  atas hal itu

bnu Umar RA. menceritakan : ”Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk, dan di samping beliau ada Abu Bakar Shidiq RA. sedang memakai pakaian yang  dari bawah sampai dadanya dikancingi dengan duri. Tiba-tiba Jibril AS  datang menyampaikan salam dari Allah SWT kepada Nabi SAW. Jibril AS berkata :” Wahai Rasulullah ! Apa yang telah terjadi, saya lihat Abu Bakar memakai pakaian yang berkancing duri dari bawah sampai dadanya?” Nabi SAW menjawab: “Wahai Jibril ! Abu Bakar telah mengorbankan seluruh hartanya di jalan Allah sebelum penaklukan kota Makkah”.Jibril AS menjawab: ”Sampaikan pada Abu Bakar bahwa Allah mengirim salam untuknya, dan katakana padanya bahwa Allah bertanya, “Dalam kefakiran ini apakah kamu ridha kepada-Ku atau tidak ?”  Rasulullah SAW pun menghadapkan wajahynya ke arah Abu Bakar RA seraya bersabda: ”Wahai Abu Bakar, di sampingku ada Jibril AS  yang menyampaika salam untukmu dari Allah SWT  dan Allah bertanya kepadamu:  “Apakah kamu ridha denga kefakiran ini?”  Mendengar hal itu Abu Bakar RA. mengais dan berkata :          “Bagaimana mungkin saya tidak ridha kapada Rabb saya? Dalam keadaan apapun saya selalu ridha kepada Rabb saya.” (HR. Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilyah jilid VII halaman 105).

Kesabaran Mush’ab Bin Umair RA



Kesabaran Mush’ab Bin Umair RA
Dalam Menghadapi Penderitaan

Muhammad al Abdari menceritakan dari ayahnya, bahwa Mush’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang paling tampan di kota Makkah. Dia adalah seorang pemuda yang sempurna, dan pemuda yang paling bagus rambutnya di antara pemuda-pemuda kota Makkah, dan ia sangat disayang oleh orang tuanya. Karena ibunya seorang yang sangat kaya, maka dia dipakaikan pakaian yang paling indah dan halus, dia orang yang paling banyak memakai harum-haruman diantara yang lainya, sandal yang dipakainya juga sandal khusus buatan Hadramaut. Rasulullah SAW pernah berkata mengenai Mush’ab : ”Saya belum melihat seorang pemuda di kota Makkah yang paling bagus rambutnya, paling halus pakaiannya, paling banyak merasakan kenikmatan hidup selain dari Mush’ab bin Umair”. Ia mendengar kabar banhwa Rasulullah SAW sedang berda’wah di rumah Arqam bin Abi Arqam, maka ia menjumpai Rasulullah SAW, lalu masuk Islam dan membenarkan kerasulan Muhammad SAW, setalah itu ia pun keluar dari sana dan menyembunyikan keIslamnnya karena takut oleh ibunya dan kaumnya. Sejak itu secara sembunyi-sembunyi dia selalu mendatangi Nabi SAW. Pada suatu hari Utsman bin Thalhah melihatnya sedang melakukan sholat, lalu dia memeberitahukan kepada ibunya dan kaumnya. Maka mereka pun menangkapnya dan mengurungnya. Dia terus menerus dikurung hingga terjadi pengiriman rombongan pertama hijrah ke Habasyah. Dan ketika orang-orang Islam kembali dari sana, Mush’ab juga ikut bersama mereka, sedang ketika itu rambutnya betul-betul telah berubah menjadi gimbal. Melihat keadaan seperti itu, ibunya tidak lagi mencaci maki dirinya.( HR. Ibnu sa’ad dala kitabnya jilid III halaman 82).




Kesabaran Ammar Bin Yasir Dan Keluarganya



Kesabaran Ammar Bin Yasir Dan Keluarganya
Dalam Menanggung Penderitaan
        Jabir RA berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW melewati Ammar dan keluarganya yang sedang disiksa begitu keras. Maka Nabi SAW berkata, “Wahai keluarga Ammar, Wahai keluarga Yasir! Bergembiralah dengan surge yang telah dijanjikan kepada kamu.” (HR. Thabrani, al Hakim, Baihaqi, dan Ibnu Asakir dalam kitab al-Haitsami jilid IX halaman 293)
        Utsman bin Affan RA berkata, “Ketika saya sedang berjalan bersama Rasulullah SAW di Bath-ha, suatu daerah di Makkah yang berbatu, saya melihat Ammar dan kedua orang tuanya sedang disiksa di panas terik matahari supaya mereka meninggalkan Islam. Ayah Ammar berkata, “Ya Rasulullah, sepanjang umur berlangsung seperti ini?” Nabi SAW menjawab, “Wahai keluarga Yasir, bersabarlah. “Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir dan Engkau pasti akan mengampuni mereka.” (HR al Hakim dan Ibnu asakir dalam Kanzul Ummal jilid VII halaman 72)
        Abdullah bin Ja’far RA berkata, “Rasulullah SAW melewati Yasir, Ammar, dan ibunya yang sedang disiksa. Maka Nabi SAW berkata kepada mereka, “Wahai keluarga Yasir bersabarlah, karena tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surge.” (HR. Abu Ahmad al hakim dalam kitabnya jilid III halaman 647)
        Menurut riwayat Imam Ahmad dari Mujahid, yang paling pertama mati syahid dalam Islam adalah sumayyah ibu Ammar bin Yasir yang telah ditombak kemaluannya oleh Abu Jahal. (Dalam kitab al-Bidayah jilid III halaman 59)
        Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar berkata, “Orang-orang musyrik menyiksa Ammar lalu mereka memaksanya untuk mencaci maki Nabi SAW dan memuji patung sembahan mereka.” Ketika dia menemui Rasulullah SAW, maka beliau bertanya, “Apakah yang telah terjadi terhadap dirimu?” Ammar menjawab, “Yang telah terjadi adalah sesuatu yang tercela, ya Rasulullah! Pada saat itu saya dipaksa untuk mencaci maki engkau dan memuji patung sembahan mereka.” Nabi SAW bertanya, “Bagaimana keadaan hatimu pada saat itu?” Ammar RA menjawab, “Pada waktu itu hati saya tetap dalam iman.” Rasulullah SAW bersabda, “Kalau mereka memaksamu kemudian melakukan seperti itu maka lakukanlah apa yang mereka minta, karena hatimu tetap dalam iman.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-hilyah jilid I halaman 140)
        Abu ubaid menceritakan dari Muhammad bin Ammar, “Suatu ketika Rasulullah SAW berjumpa dengan Ammar yang sedang menangis, lalu Rasulullah SAW mengusap air matanya, seraya berkata, “Orang-orang musyrik telah menenggelamkanmu dalam air dan ketika itu kamu dipaksa untuk mengatakan begini dan begitu. Apabila mereka melakukan hal seperti itu lagi terhadapmu, maka katakanlah seperti yang telah kamu katakana sebelumnya kepada mereka.” Amr bin Maimun berkata, “Ketika orang-orang musyrik membakar Ammar dengan api, maka Rasulullah SAW melewatinya lalu Nabi SAW mengusap kepala Ammar sambil berdo’a, “Wahai api, dinginlah kamu terhadap Ammar sebagaimana kamu dingin dan menyelamatkan Ibrahim AS. Wahai Ammar, kamu akan mati dibunuh oleh golongan pemberontak.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam kitabnya jilid III halaman 177) 



enderitaan Bilal RA Di Jalan Allah



Penderitaan Bilal RA Di Jalan Allah

        Menurut riwayat Mujahid seperti itu juga, bahwa sisanya yang lain disiksa oleh orang-orang musyrik dengan dipakaikan baju besi, lalu dijemur di panas terik matahari yang menyengat. Karena panasnya, sehingga mereka sangat menderita. Pada sore harinyan Abu Jahal datang sambil membawa tombak lalu dia mencaci maki dan memberikan ancaman-ancaman. (al-Hilyah jilid I halaman 140)
        Dalam hadits lain yang juga menurut Mujahid dikatakan bahwa orang-orang musyrik mengikat leher Bilal dengan tali, lalu mereka membawanya berkeliling di antara dua gunung yang berada di Makkah. (Ibnu Sa’ad dalam Kitabnya jilid II halaman 166)
        Urwah bin Zubair RA berkata, “Bilal adalah seorang budak milik seorang wanita dari Kabilah Bani Jumah. Ketika dia masuk Islam maka orang-orang musyrik menyiksanya dengan membaringkannya di atas pasir yang panas dan meletakkan sebuah batu di atas dadanya supaya Bilal kembali menjadi musyrik. Tetapi ternyata Bilal hanya mengatakan, “Ahad, Ahad, Ahad.” Ketika Bilal sedang disiksa, lewatlah Waraqah bin Naufal bin Asad sambil berkata, “Wahai Bilal! Memang benar, Allah itu satu.” Lalu dia berkata kepada orang-orang musyrik, “Demi Allah! Apabila kamu membunuhnya, maka saya akan menjadikan kuburnya sebagai tempat yang dirahmati (diberkahi).” (HR. Zubair bin Bakar dalam al-Ishabah jilid III halaman 634)
        Hisyan bin Urwah RA bercerita, “Ketika orang-orang musyrik sedang menyiksa Bilal, maka Waraqah bin Naufal melewatinya, sedang ketika Bilal mengucapkan, “Ahad, Ahad, Ahad.” Maka Waraqah berkata kepadanya, “Wahai Bilal! Memang benar, Allah itu satu!” Kemudian Waraqah bin Naufal menemui Umayah bin Khalaf yang sedang menyiksa Bilal. Maka Waraqah berkata, Saya bersumpah, Demi Allah! Apabila kamu membunuhnya maka kuburannya akan saya jadikan sebagai tempat yang diberkahi.” Hingga pada suatu ketika Abu Bakar pun melewati mereka yang sedang menyiksa Bilal. Lalu Abu Bakar berkata kepada Umayah, “Apakah kamu tidak takut kepada Allah mengenai urusan orang ini? Sampai kapan kamu akan menyiksanya?” Umayah menjawab, “Kamulah orang yang telah merusaknya, oleh karena itu kamulah yang harus menyelamatkannya.” Abu Bakar menjawab, “Kalau begitu baiklah, saya bersedia untuk membebaskannya.” Saya mempunyai seorang budak yang lebih besar dan kuat dari padanya dan seagama denganmu. Oleh karena itu, saya akan menukarkan dia dengan Bilal. Umayah menjawab, “Baiklah kalau begitu.” Setelah usulan Abu Bakar diterima oleh Umayah, maka Umayah pun melepaskannya. Lalu Abu Bakar menukar Bilal dengan budak miliknya. Setelah itu Bilal pun dibebaskan oleh Abu Bakar. Sebelum Abu Bakar berhijrah dari Makkah, dia telah membebaskan enam orang budaknya yang masuk Islam selain Bilal.” (HR, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah jilid I halaman 148)
        Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan, bahwa pada siang hari ketika matahari panas menyengat, Umayah membawa Bilal keluar. Kemudian di tanah Makkah yang berkerikil dia ditelentangkan, lalu Umayah berkata, “Letakkan batu di atas dadanya! Maka sebuah batu besar diletakkan di atas dadanya.” Umayah berkata pada Bilal, “Kamu akan terus seperti ini sehingga kamu mati atau kamu tinggalkan ajaran Muhammad dan kembali menyembah Latta dan ‘Uzza!” Akan tetapi, walaupun Bilal mendapat pennyiksaan seberat itu, dia hanya mengucapkan, “Ahad, Ahad, Ahad, Allah hanyalah satu.”
        Ammar bin Yassir RA pernah membuat beberapa bait syair yang berisi tentang penderitaan Bilal dan para shahabat lainnya, juga mengenai Abu Bakar yang membebaskan Bilal. Abu Bakar diberinya julukan ‘Atiq yang artinya pembebas. Bunyi syair itu adalah sebagai berikut:
Semoga Allah memberi balasan yang lebih baik
Kepada Bilal dan teman-temannya yang dibebaskan
Kehinaan bagi Fakih dan Abu Jahal
Sore hari yang tidak akan pernah saya lupakan,
Pada hari itu mereke berdua menyiksa Bilal dengan keras
Sedang orang cerdik menginginkan dia terbebas dari penderitaan
Namun mereka berdua menyiksa Bilal karena suatu sebab
Yaitu karena Bilal beriman kepada Allah Yang Saturday Dan dia mengatakan, “Saya bersaksi bahwa Allah adalah Rabbku’
Oleh karena-Nya hati saya menjadi tenang
Bila mereka ingin menyiksa saya, maka siksalah!
Aku tidak akan menyekutukan Yang Maha Rahman karena takut mati
Wahai Rabb Ibrahim, Yunus, Musa, dan Isa AS! Selamatkanlah saya!
Kemudian janganlah Engkau uji orang yang menginginkan kesesatan
Dengan menjadikannya sebagai pihak yang menang
Padahal mereka bukan orang baik dan bukan pula orang yang bijaksana.
(Al-Hilyah jilid I halaman 148)

PENDERITAAN ABU BAKAR DAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN


PENDERITAAN ABU BAKAR
DAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN

    ‘Aisyah R.ha menceritakan, “Ketika kaum muslimin di Makkah berjumlah tiga puluh delapan orang, maka Abu Bakar RA meminta kepada Nabi SAW untuk berda’wah secara terang-terangan. Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Abu Bakar! Jumlah kita masih sedikit” Karena Abu Bakar terus-menerus meminta hal itu kepada Nabi SAW, akhirnya beliau pun memerintahkan kepada kaum muslimin agar berda’wah secara terang-terangan kepada kaumnya di kalangan keluarga masing-masing. Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk di Masjid, Abu Bakar berda’wah sambil berdiri di hadapan orang banyak, dan Abu Bakar adalah orang yang pertama berda’wah secara terang-terangan di hadapan orang banyak. Sehingga orang-orang musyrik bangkit dan beramai-ramai memukuli Abu Bakar di salah satu sudut Masjid. Pada waktu itu Utbah bin Rabi’ah memukuli Abu Bakar, menendangkan sandalnya, dan menginjak-injak perut Abu Bakar hingga terluka parah. Orang-orang Banu Ta’im berdatangan untuk menolong Abu Bakar dan menjauhkannya dari orang-orang musyrik. Abu bakar dimasukkan ke dalam kain, lalu dibawa ke rumahnya. Orang-orang dari Banu Taim mengira Abu Bakar telah mati. Oleh karena itu, setelah mereka membawa Abu Bakar pulang ke rumahnya, mereka kembali lagi ke Masjid dan berseru kepada orang-orang, “Demi Allah! Apabila Abu Bakar sampai meninggal dunia, pasti kami akan membunuh Utbah bin rabi’ah.” Kemudian mereka kembali menemui Abu Bakar untuk melihat keadaannya. Abu Quhafah dan orang-orang Banu Taim berusaha mengajak bicara kepada Abu Bakar, maka Abu Bakar pun sadar dan dapat diajak bicara. Pada siang harinya Abu Bakar berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Mendengar pertanyaan Abu Bakar seperti itu, mereka pun marah, lalu berdiri dan beranjak dari situ. Sebelum meninggalkan Abu Bakar, mereka berkata kepada ibunya, Ummu Khair, “Rawatlah dia dan berilah makan!” Setelah mereka semua pergi, maka ibunya menyuruh Abu Bakar supaya makan atau minum. Tetapi dia tetap bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Ibunya menjawab, “Saya tidak tahu keadaannya.” Abu Bakar berkata, “Pergi dan temuilah Ummu Jamil binti Khattab, lalu tanyakan kepadanya mengenai keadaan Rasulullah SAW!” Ibunya pun pergi ke rumah Ummu Jamil dan berkata kepadanya, “Abu Bakar menanyakan kepadamu mengenai keadaan Muhammad bin Abdullah.” Ummu Jamil menjawab, “Saya tidak tahu sedikitpun siapa Abu Bakar dan Muhammad bin Abdullah itu.” Kalau boleh, saya akan datang ke rumahmu untuk melihat keadaan Abu Bakar. Maka dia menjawab, “Baiklah.” Maka Ummu Jamil pun ikut bersama Ummu Khair ke rumahnya. Setelah dia melihat keadaan Abu Bakar yang tergeletak di atas tanah dan dalam keadaan sakit keras, maka Ummu Jamil mendekat dan berteriak, “Sesungguhnya orang yang memperlakukan kamu seperti ini adalah orang fasiq dan kafir. Semoga Allah membalas perbuatan mereka.” Abu Bakar RA bertanya pada Ummu Jamil, “Bagaimana keadaan Nabi SAW?” Ummu Jamil menjawab, “Ibumu berada di sini dan sedang mendengarkan.” Abu Bakar berkata, “Jangan hiraukan ibuku itu, bagaimana keadaan Nabi SAW?” “Beliau dalam keadaan sehat dan baik,” jawab Ummu Jamil. “Di manakah beliau sekarang berada?” Tanya Abu Bakar. Ummu Jamil menjawab, “Sekarang beliau di rumah Arqam bin Abil Arqam.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan makan dan minum sebelum aku bertemu dengan Rasulullah SAW.” Mereka berdua menunggu sampai keadaan aman. Setelah keadaan terasa aman, barulah keduanya memapah abu Bakar ke rumah arqam bin abil arqam. Ketika Abu Bakar tiba di hadapan nabi SAW, maka beliau menyambutnya dan memeluknya, dan kaum muslimin pun menyambut dan merawatnya. Rasulullah SAW merasa sangat kasihan melihat keadaan Abu Bakar seperti itu. Abu Bakar berkata kepada beliau, “Aku tidak apa-apa. Utbahlah yang memukuli wajahku, dan ini adalah ibuku yang sangat menyayangiku. Do’akan ia kepada Allah agar diberi hidayah.”. Maka Nabi SAW pun berdo’a untuk ibunya, lalu beliau pun mengajaknya untuk memeluk Islam. Maka Ummu Khair pun masuk Islam. Sejak peristiwa itu, Nabi SAW bersama kaum muslimin yang berjumlah 39 orang tinggal di rumah Arqam bin abil Arqam selama sebulan. Bertepatan dengan dipukulinya Abu Bakar oleh orang-orang Quraisy, Hamzah telah memeluk Islam.

FADHILAH MALU


FADHILAH MALU

A.   Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah tanpa asyik memperpanjangkan percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada istri-istri Nabi, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya sesudah ia wafat untuk selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu amat besar (dosanya) disisi Allah. [Al-Ahzab : 53]

B.   Hadits Rasulullah SAW

Dan apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengetahuinya dari wajah beliau". [HR Bukhari dan Muslim]

Dari Ibnu Umar RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melewati seorang laki-laki dari kaum  Anshar yang mana dia itu sedang menasehati saudaranya karena dia pemalu, maka Rasulullah SAW bersabda : "Biarkan saja dia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman". [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah]

Dari 'Imran bin Hushain RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan". [HR Bukhari dan Muslim]. Dalam suatu riwayat bagi Muslim : "Malu itu baik seluruhnya".

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : "Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enampuluh cabang lebih. Yang paling utama ialah ucapan : "Laa ilaaha illallooh" (Tiada Tuhan selain Allah) dan yang paling ringan ialah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman". [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah]

Dari Zaid bin Thalhah bin Rukanah, ia mengatakannya dari Rasulullah SAW : Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya bagi tiap-tiap agama ada akhlaqnya, dan akhlaq Islam adalah malu". [HR Malik, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas secara Marfu' juga]

Dari Anas RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Kekejian dan kata-kata kotor itu tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk, dan malu itu tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan menjadikannya indah. [HR Ibnu Majah dan Tirmidzi ia berkata : "Hadits Hasan Gharib"]

Dari Mujammi' bin Haritsah bin Zaid bin Haritsah dari pamannya RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : "Malu itu adalah salah satu cabang dari iman, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak punya malu". [HR Abusy Syaikh Ibnu Hibban di dalam Kitab Tsawab]

Sesungguhnya diantara apa-apa yang didapati orang-orang dari perkataan para Nabi dahulu ialah : "Apabila kamu sudah tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu". [HR. Bukhari]

Dari Ibnu 'Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Malu dan iman itu adalah selalu bersama, maka apabila hilang salah satunya hilang pula yang lain". [HR. Hakim, dan Thabarani meriwayatkan dari haditsnya Ibnu Abbas]
Dari 'Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Wahai 'Aisyah, seandainya malu itu diumpamakan seorang laki-laki, ia adalah orang laki-laki yang shaleh, dan seandainya perbuatan keji dan kotor itu diumpamakan seorang laki-laki, maka ia seorang laki-laki yang jahat". [HR. Thabarani]

Dari Abdullah bin Mas'ud RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu". Abdullah bin Mas'ud berkata : Kami berkata : "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami malu, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)". Rasulullah SAW bersabda : "Bukan begitu, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu itu ialah kamu menjaga kepala dan apa yang di dalamnya, kamu menjaga perut dengan segala isinya dan hendaklah kamu mengingat mati dan kehancuran. Barangsiapa menghendaki akhirat dengan meninggalkan kemewahan dunia, orang yang berbuat demikian, maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu". [HR Tirmidzi]

Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu di surga. Perkataan kotor itu termasuk perangai yang kasar dan perangai yang kasar itu di neraka". [HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya. Tirmidzi berkata : "Hadits Hasan Shahih"]

Dari Abu Umamah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Malu dan sedikit bicara itu dua cabang dari iman, sedang perkataan kotor dan banyak bicara itu dua cabang dari kemunafikan". [HR Tirmidzi, ia berkta : "Hadits Hasan Gharib"]

Dari Abu Umamah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Malu dan sedikit bicara itu termasuk bagian dari iman, dan keduanya itu mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Perbuatan keji dan kata-kata kotor itu dari syaithan, keduanya mendekatkan ke neraka dan menjauhkan dari surga". [HR Thabarani]

Dari Ibnu Umar RA, ia berkata : Bahwasanya Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla apabila menghendaki kehancuran seorang hamba, Dia mencabut rasa malu dari orang itu, apabila malu itu sudah dicabut, maka kamu tidak akan mendapatinya kecuali sebagai orang yang dibenci apabila kamu sudah tidak mendapatinya kecuali sebagai orang yang dibenci dan dimurkai, akan dicabut amanah darinya, apabila amanah telah dicabut darinya, kamu tidak akan mendapatinya kecuali sebagai orang yang berkhianat dan tidak dapat dipercaya. Apabila kamu sudah tidak mendapatinya kecuali ia berkhianat dan tidak bisa dipercaya, maka akan tercabut rahmat darinya. Apabila rahmat itu sudah dicabut dari orang itu, maka kamu tidak akan mendapatinya kecuali sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan terlaknat. Apabila kamu sudah tidak mendapatinya kecuali sebagai orang yang jauh dari kebaikan dan terlaknat, maka akan tercabutlah ikatan Islam dari orang itu". [HR Ibnu Majah]

Dari Qurrah bin Iyas RA, ia berkata : Dahulu ketika kami berada bersama Nabi SAW, ada orang yang bertanya kepada beliau tentang malu. Mereka berkata : "Ya Rasulullah, apakah malu itu termasuk agama ?" Rasulullah SAW bersabda : "Bahkan malu itu agama seluruhnya". Kemudian Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya malu, keperwiraan dan sedikit bicara (yaitu sedikitnya omongan bukan sedikitnya jiwa) dan menjauhkan diri dari segala hal yang tidak baik adalah termasuk dari iman". [HR Abusy Syaikh di dalam Ats-Tsawab] 

BERPEGANG TEGUH KEPADA ALQURAN


BERPEGANG TEGUH KEPADA ALQURAN

A.        Firman Allah SWT :

Dan Al-Qur'an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat. [Al-An'aam : 155]

Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. 
[Al-Israa' : 9]

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.
[An-Nisaa' : 105]

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. [An-Nahl : 44]
Hai orang-orang yang beriman, tha'atilah Allah dan tha'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa' : 59]

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditha'ati dengan seidzin Allah. [An-Nisa' : 64]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan dia banyak menyebut Allah. [Al-Ahzab : 21]

Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Katakanlah : "Tha'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". [Ali 'Imran : 31-32]

Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Al-A'raf : 157]

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. [Al-Hasyr : 7]

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para Shiddiqiin. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisaa' : 69]

B.         Hadits-hadits Nabi SAW :
Dari Katsir bin Abdullah dari ayahnya dari kakeknya RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : "Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya". [HR. Ibnu Abdil Barr]

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : "Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya". [HR. Malik]

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW pernah berkhutbah kepada orang banyak dikala hajji wada', beliau bersabda : "Sesungguhnya syaithan telah berputus asa bahwa ia akan disembah di tanahmu ini, tetapi ia puas ditha'ati pada selain demikian yaitu dari apa-apa yang kalian anggap remeh dari amal perbuatan kalian. Maka hati-hatilah kalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya". [HR. Al-Hakim]

Dari Jubair bin Muth'im RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : "Hendaklah kamu sekalian bergembira, karena sesungguhnya Al-Qur'an ini ujungnya berada ditangan Allah sedang ujungnya yang lain ditangan kamu sekalian. Oleh sebab itu hendaklah kalian berpegang teguh kepadanya, maka  sungguh kamu sekalian tidak akan binasa dan tidak pula akan sesat sesudah itu selama-lamanya". [HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabarani]

Dari Hudzaifah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : "Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-Qur'an) kemana saja ia beredar". [HR. Al-Hakim]

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda : "Biarkanlah saya memberikan apa-apa yang kutinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan tuntutan mereka dan penentangannya kepada Nabi-nabi mereka. Karena itu apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah dia, dan apabila aku memerintahkan sesuatu perkara kepada kalian, maka laksanakanlah perintah itu dengan semaksimalmu. [HR. Bukhari]

Dari Abu Musa, dari Nabi SAW beliau bersabda : "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan apa yang aku diutus oleh Allah dengannya adalah seperti seorang laki-laki yang datang kepada suatu kaum. Lalu laki-laki itu berkata : "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah melihat dengan mata kepalaku ada pasukan (musuh yang akan menghancurkan kita). Dan aku betul-betul memberikan peringatan kepadamu, maka mengungsilah agar selamat". Segolongan kaum itu ada yang tha'at, lalu di malam hari itu mereka pergi mengungsi dengan hati-hati, maka mereka selamat. Dan ada pula segolongan dari kaum itu yang tidak percaya, mereka tetap ditempatnya, maka diwaktu pagi tentara musuh itu datang menyerbu mereka, menghancurkan dan memporak-porandakan mereka. Demikianlah perumpamaan orang yang tha'at kepadaku lalu mau mengikuti apa yang aku datang dengannya dan perumpamaan orang yang bermakshiyat kepadaku dan mendustakan apa yang aku datang dengannya berupa Al-Haqq (kebenaran). [HR. Muslim]

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : "Semua ummatku kelak akan masuk surga, kecuali orang yang tidak mau". Para shahabat bertanya : "Ya Rasulullah siapa orang yang tidak mau (masuk surga) itu ?". Beliau SAW bersabda : "Barangsiapa yang tha'at kepadaku, niscaya ia masuk surga dan barangsiapa yang bermakshiyat kepadaku, sungguh ia telah menolak untuk masuk surga". [HR. Bukhari]



Minggu, 29 Maret 2015

BERKATA BAIK ATAU DIAM


BERKATA BAIK ATAU DIAM

A.   Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim. (11)
Hai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (12) [QS. Al-Hujuraat : 11-12]

B.   Hadits-hadits Nabi SAW :

Dari Abu Bakar RA, sesungguhnya Rasulullah SAW dalam khutbahnya pada hajji wada’ beliau bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta benda dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti hari kalian ini di dalam bulan kalian ini dan di dalam negeri kalian ini. Ketahuilah, bukankah aku sudah menyampaikan ?”. [HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang Islam atas orang Islam yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan harta bendanya”. [HR. Muslim dan Tirmidzi]
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling kecil (dosanya) seperti (dosanya) seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya, dan sesungguhnya sebesar-besar riba ialah seseorang yang terus-menerus (menjatuhkan) kehormatan saudaranya”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath]
Dari Sa’id bin Zaid RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya termsuk sebesar-besar riba ialah terus-menerus (menjatuhkan) kehormatan orang Islam tanpa alasan yang benar”. [HR. Abu Dawud]
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para shahabat, “Tahukah kalian sebesar-besar riba di sisi Allah ?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebesar-besar riba di sisi Allah ialah menganggap halal (menjatuhkan) kehormatan orang Islam”. Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat : Walladziina yu’dzuunal-mu’miniin wal mu’minaati bi ghairi maktasabuu fodihtamaluu buhtaanaw wa itsmam mubiina [QS. Al-Ahzab : 58] (Dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka sungguh mereka telah berbuat buhtan (kebohongan) dan dosa yang nyata). [HR. Abu Ya’la, para perawinya perawi shahih]
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Saya pernah berkata kepada Nabi SAW, “Cukup bagimu dari Shafiyah begini dan begitu”. Sebagian orang-orang yang meriwayatkan mengatakan : Yang dimaksud ‘Aisyah ialah, “Ia wanita yang pendek”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kamu telah mengatakan suatu kalimat seandainya dicamput dengan air laut sungguh air laut itu menjadi keruh”. Dan ‘Aisyah pernah berkata, “Saya pernah menceritakan tentang seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda, “Aku tidak suka menceritakan (keburukan) seseorang meskipun akan mendapatkan upah sekian dan sekian”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Baihaqi, Tirmidzi berkata : Hadits, hasan shahih]
Dari ‘Aisyah RA juga, ia berkata : Sesungguhnya untanya Shafiyah binti Huyaiyyin sedang sakit, sedang Zainab mempunyai kelebihan kendaran. Maka Nabi SAW bersabda kepada Zainab, “Berikanlah onta kepadanya !”. Lalu (Zainab) menjawab, “Saya disuruh memberi kepada wanita Yahudi itu !”. Kemudian Nabi SAW meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah, Muharram dan sebagian bulan Shafar. [HR. Abu Dawud]
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Dahulu ketika kami di sisi Nabi SAW, ada seorang laki-laki berdiri. Lalu orang-orang sama berkata, “Ya Rasulullah, alangkah sangat loyonya si fulan itu !”. Atau mereka berkata, “Alangkah sangat lemahnya orang itu”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah kepada teman kalian dan kalian telah makan dagingnya”. [HR. Abu Ya’la, dan Thabrani meriwayatkan dengan lafadhnya], sesungguhnya ada seorang laki-laki berdir di sisi Nabi SAW, maka orang-orang melihat ketika dia berdiri itu dalam keadan loyo. Mereka berkata, “Alangkah sangat loyonya si fulan itu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalian telah makan saudaramu dan kalian telah berbuat ghibah kepadanya”.
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya orang-orang menyebutkan tentang seorang laki-laki di sisi Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, “Orang itu tidak makan sehingga ia diberi makan, dan ia tidak punya tempat tinggal hingga diberi tempat tinggal”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah kepadanya”. Lalu mereka menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami hanya menceritakan apa adanya”. Rasulullah SAW bersabda, “Cukup bagimu (dikatakan berbuat ghibah) apabila kamu menyebutkan saudaramu dengan apa yang ada padanya”. [HR. Al-Ashbihaniy dengan sanad hasan]
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (kepada para shahabatnya), “Tahukah kalian apakah ghibah itu ?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “(Ghibah) ialah kamu menyebut tentang saudaramu dengan apa-apa yang dia tidak suka”. Ada yang bertanya kepada beliau, “Bagaimana pendapat engkau jika keadaan saudaraku itu memang betul-betul seperti apa yang aku katakan ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Jika keadaan saudaramu itu betul seperti apa yang kamu katakan, maka sungguh kamu telah berbuat ghibah kepadanya. Dan jika apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat buhtan (kebohongan) kepadanya”. [HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai]
Dari ‘Amr bin ‘Ash RA, bahwasanya dia pernah melewati seekor bangkai baghal, lalu dia berkata kepada sebagian shahabat-shahabatnya, “Sungguh seseorang makan bangkai ini sehingga memenuhi perutnya itu lebih baik baginya dari pada ia makan daging (menggunjing) seorang muslim”. [HR. Abusy-Syaikh Ibnu Hibban]
Dari Abu Huriarah, ia berkata : Telah datang seorang laki-laki (dari suku) Aslam kepada Rasulullah SAW lalu dia bersaksi atas dirinya sendiri bahwa dia berbuat zina. Dia bersaksi empat kali. Ia berkata, “Saya menyetubuhi wanita secara haram”. Setiap ia mengatakan yang demikian itu, Rasulullah SAW berpaling darinya. Lalu aku menyebutkan cerita itu sehingga beliau bertanya, “Apa yang kamu inginkan dengan cuapan ini ?”. Orang itu menjawab, “Saya menginginkan supaya engkau membersihkan diriku”. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan supaya ia dirajam. Lalu orang tersebut dirajam. Kemudian Rasulullah SAW mendengar ada dua orang laki-laki Anshar, salah satunya berkata kepada temannya, “Lihatlah kepada orang ini yang Allah telah menutupinya, tetapi ia tidak membiarkan dirinya, sehingga ia dirajam seperti anjing yang dilempari batu”. (Abu Hurairah) berkata : Rasulullah SAW diam saja. Sebentar kemudian beliau berjalan (bersama para shahabat), lalu melewati bangkai himar di dekat kaki beliau. Maka beliau bersabda, “Mana si fulan dan si fulan itu ?”. Mereka menjawab, “Ini kami ya Rasulullah”. Beliau bersabda kepada kedua orang itu, “Makanlah bangkai himar ini !”. Mereka berdua menjawab, “Ya Rasulullah, semoga Allah mengampuni engkau. Siapa yang mau memakan bangkai himar ini ?”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Apa-apa yang kamu dapat dari (menjelek-jelekkan) kehormatan orang laki-laki tadi adalah lebih buruk dari makan bangkai himar ini. Dan demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (orang laki-laki yang telah dirajam itu) sekarang sedang berendam di sungai surga”. [HR. Ibnu Hibban di dalam shahihnya]
Dari Abu Umamah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang diberi kitab catatannya dengan terbuka”. Maka orang itu bertanya, “Ya Tuhanku, mana catatan kebaikan ini dan itu yang telah saya kerjakan, koq tidak ada di sini ?”. Kemudian Allah menjawab, “(Kebaikan-kebaikanmu) terhapus oleh perbuatan ghibahmu kepada orang lain”. [HR. Al-Ashbihaniy]
Dari ‘Utsman bin ‘Affan RA, ia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ghibah dan Namimah (adu-adu) itu bisa meruntuhkan iman sebagaimana seorang penggembala yang menebang pohon”. [HR. Al-Ashbihaniy]