Burung
Hud-Hud Menjadi Asbab Hidayah
Coba
kita pelajari dengan baik kisah yang dijelaskan dalam Al-quran, perihal Burung
Hud-Hud yang mempunyai peran dalam da’wah dan menjadi asbab hidayah.Kita tidak
boleh menyepelekan peran kalangan kaum muslimin yang lemah atau belum banyak
Ilmunya terjun dalam kerja da’wah ini. Kisah ini akan menjadi renungan kita
semua, bagaimana burung bisa mempunyai peran dalam da’wah dan asbab Hidayah?
Mudah-mudahan kita semua menjadi bagian dari asbab hidayah di seluruh alam (QS
An Naml : 20-44)
20.
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat
hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.
21.
Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau
benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan
alasan yang terang.”
22.
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah
mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari
negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
23.
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia
dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
24.
Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan
telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu
menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,
25.
agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di
langit dan di bumi[1096] dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa
yang kamu nyatakan.
26.
Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang
besar.”
27.
Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk
orang-orang yang berdusta.
28.
Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian
berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”
29.
Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan
kepadaku sebuah surat yang mulia.
30.
Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
31.
Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku
sebagai orang-orang yang berserah diri.”
32.
Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam
urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu
berada dalam majelis(ku).”
33.
Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga)
memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada
ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan
34.
Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya
mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan
demikian pulalah yang akan mereka perbuat.
35.
Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa)
hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan
itu.”
36.
Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah
(patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku
lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga
dengan hadiahmu.
37.
Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara
yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari
negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina
dina.”
38.
Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang
sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri.”
39.
Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu
dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu;
sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya
40.
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab : “Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia
Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan
nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur
untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya
Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”
41.
Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia
mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).”
42.
Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah
singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami
telah diberi pengetahuan sebelumnya[1098] dan kami adalah orang-orang yang
berserah diri.”
43.
Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan
keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang
kafir.
44.
Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat
lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua
betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat
dari kaca.” Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat
zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah,
Tuhan semesta alam (QS An Naml (27): 20-44)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar